
" Hai, kenapa kamu menangis." Tanya seorang wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan Luna. wanita itu duduk tepat di samping Luna, ia sejak tadi menatap gerakan gerik Luna yang terus melihat kearah jendela sambil sesekali mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipinya. " Siapa yang membuat mu seperti ini." Tanya wanita itu lagi. dan seperti sebelumnya, Luna tetap membisu.
" Apa kamu akan menangis selama perjalanan kita." seolah tidak ada bosannya, wanita itu terus mengajak Luna berbicara. " Oh jangan bilang kamu akan menghabiskan 28 jam perjalanan kita ini dengan terus menangis! Jangan sampai ya, soalnya aku kasian sama mata kamu! tapi kalau kamu butuh teman untuk cerita aku bisa menjadi pendengar yang baik." Luna melirik tak suka dengan wanita yang baru saja ia temui itu.
" Santai saja, jangan melihatku seperti itu! aku hanya ingin membantu meredakan apa yang kamu rasakan saat ini." Sungguh wanita yang begitu cerewet sekali.
" Emangnya kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini?" Tanya Luna, ia mulai jengah dengan kehadiran wanita itu, seandainya ini Angkot, mungkin Luna sudah berhenti dimana saja asal terbebas dari wanita yang ada disampingnya ini.
" Kalau kamu tidak cerita, bagaimana aku akan tahu! Satu lagi." Wanita itu memperbaiki posisi duduknya. " Menurut buku yang pernah aku baca, jika seseorang ingin sedikit terbebas dari beban yang diaΒ rasakan saat ini, Maka dia harus membaginya dengan orang lain,! apa kamu ingin mencobanya?" Luna memutar bola matanya, ia memilih untuk kembali menatap kearah jendela dimana pemandangan gedung, rumah rumah, hamparan sawah dan hutan terlihat begitu indah dan mengabaikan wanita ini.
" Baiklah kalau kamu tidak mau cerita tidak masalah." Wanita itu memilih memejamkan matanya.
...πππππ...
Disisi lain.
Reval begitu frustasi mengetahui Luna pergi, Ia berulang kali memukul mukul tembok yang ada di sampingnya, mama Emma dan Dina yang melihat hal itu tidak tersentuh sedikit pun.
Penampilan yang tadinya begitu rapih dan gagah telah hilang berganti dengan Reval yang urak urakan, " Kenapa? Kenapa kamu tinggalkan aku Luna! Kenapa? harusnya kamu berikan aku kesempatan sama seperti yang kau berikan itu kepada Zen." Teriak Reval.
Dulu waktu dia mengetahui pengkhianatan Anita dan Zen. dia juga hancur dan marah, tetapi hatinya tidak sesakit dan sefrustasi ini. " Reval mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, didering pertama telponnya langsung di jawab. " Apa kalian sudah menemukan keberadaan istriku." Tanya Reval.
" Ma maaf tuan kami masih berus aha." Orang yang di telpon Reval menjawab dengan terbata bata.
" Sudah tiga jam aku meminta kalian untuk mencari istriku dan kalian jawab masih berusaha, usaha apa yang kalian lakukan dasar tidak becus." Reval langsung mengakhiri panggilan itu.
Disetiap detik terasa begitu berat untuk Reval, saat mengetahui Istrinya telah pergi, ini baru beberapa jam, bagaimana jika beberapa hari, Minggu, bulan atau tahun. Bagaimana Reval akan melewati waktu yang sulit.Β " Luna pergi kemana kamu." Reval kembali berteriak.
" Tolong hentikan kegilaan kamu di mess ku! Dan segera pergi dari sini, aku ingin istirahat." Usir Dina.
__ADS_1
" Aku tidak akan pergi sebelum Luna datang."
" APA? Apa kamu gila, bagaimana jika Luna tidak datang." Reval terdiam. " hey mbarengsek Bagaimana jika dia tidak datang, apa kamu tetap akan berada disini." Dina mulai kehilangan kesabarannya.
" Aku akan tetap menunggunya disini."
" Karena kamu tidak mau pergi!Β aku akan memanggil security untuk menyeretmu keluar dari sini." Dina berjalan melewati Reval begitu saja, tujuannya tidak lain adalah pos security.
Begitu Dina keluar, mama Emma langsung menghampiri Reval yang kini tengah duduk di lantai sambil memeluk lutut, dengan jari jari tangan yang ia tautkan di belakang kepalanya.
" Kepergian Luna tidak pernah Tante benarkan! Bukan berarti apa yang kamu lakukan kepadanya itu dapat di benarkan. Tante tidak ingin menyalakanmu walaupun sebenarnya kamu bersalah dalam hal ini." Ucap mama emma yang kini sudah duduk bersila tepat di hadapan Reval. " Harusnya dengan kejadian ini kamu sadar, sekuat apapun Luna bertahan dari penyiksaan kamu, semampu apapun ia bersikap baik baik saja diantara hinaan dan cemoohan yang dia dapat sebagai yang kedua. Itu semua hanya sia sia jika keberadaannya tidak pernah kamu hargai. Jika kamu tidak bisa mencintainya sama seperti kamu mencintai istrimu yang lain cukup bersyukur dan hargai dia sebelum waktu yang akan mengejarkan apa arti kehilangan yang sesungguhnya. Dia masih istri sah kamu di mata hukum dan agama, cari dia dan perbaikan semuanya tetapi sebelum itu perbaiki dulu diri kamu dan pastikan istri kamu tidak pernah mempermalukan dirinya lagi." Ucap Mama Emma sambil menepuk pundak Reval.
" Apa Anita pernah mempermalukan Luna?" Reval menengadah keatas untukku mencari kesungguhan dari tatapan mata mama Emma.
" Bukan pernah lagi, justru karena dia! Luna mengajukan gugatan perceraian itu, Tante hanya membantu mencari pengacara dan apa yang bisa Tante bantu untuk dia.
Mama Emma menaikkan kedua bahunya. " Bisa jadi, sebab tidak mungkin kan Luna mempermalukan dirinya sendiri." Reval berdiri dari duduknya ia langsung melangkah keluar mess itu.
" Reval kamu mau kemana?" Teriak mama Emma, tetapi tidak di hiraukan Reval. Ia terus melangkah menuju parkiran dengan tatapan mata yang tajam menandakan kemarahannya saat ini.
Begitu sampai di parkiran Reval langsung masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan pelantaranΒ rumah sakit itu.
Sementara itu, Dina yang baru saja datang bersama security tidak menemukan Reval disana.
" Dia dimana mam." Tanya Dina.
" Sudah pergi." Jawab mama Emma. " Kalian boleh kembali ke pos." Ucapnya kepada dua orang security yang di bawah Dina.Β
" Maaf ya pak! Orangnya sudah pergi." Dina merasa tidak enak kepada dua orang security itu.
__ADS_1
" Nggak papa ko mbak, ini kan sudah tugas kita untuk menjaga keamanan disini." Ucap Salah satu security itu.
" Sekali lagi maaf ya pak." Dina benar benar tidak enak dengan kedua security itu.
" Nggak papa ko mbak. kami permisi dulu." Kedua security itupun pergi.
" Kamu istirahat gih! Biar kartu ini, mama yang antara buat mamanya Luna." Ucap mama Emma.
" Baiklah mam, mana baiknya aja." Sahut dina. Setelah itu Mama Emma pun meninggalkan Dina.
Disisi lain
Selama perjalanannya Luna hanya terdiam memikirkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. " serumit ini kah hidupku? Sepahit inikah hidupku dan sehancur inikah perasaanku? Kapan aku terbebas dari semua rasa sakit dan takdir yang menyakitkan ini." Tetesan air mata kembali membasahi kedua pipinya seakan air mata itu tidak ada habisnya.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..ππ
Jangan lupa like..ππ
Dan vote seikhlasnya..ππ
__ADS_1