
Hampir sejam Reval menunggu Luna keluar dari kamar mandi, tetapi Istrinya itu tak kunjung keluar, ia begitu betah berada di dalam sana.
Draaarrrtt Triiiing Drrrttt triiiing.
Bunyi ponsel Reval yang berada dalam saku jas yang ia gunakan. Reval langsung meraih benda pipih itu, terterah nama Indra pada layarnya.
" Hallo, val! Kamu dimana, satu jam lagi kita ada meeting ini." Ucap Indra begitu Reval menjawab panggilannya.
" Oh shit, kenapa aku bisa lupa." Umpat Reval. " Kamu duluan ketempat pertemuan kita jangan lupa share lokasinya! Aku akan langsung kesana."Sahut Reval lagi.
" Baiklah, tapi ingat jangan sampai terlambat."
" Iya akan aku usahakan." Panggilan Keduanya pun berakhir, Reval langsung bergegas keluar dari kamarnya, ia berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman mansion.
Reval melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sekali pun ia yakin tidak bisa sampai tepat waktu setidaknya dia bisa hadir disana, walaupun sedikit terlambat. Sebab Klaennya ini termasuk klaen yang penting.
Beruntung tempat pertemuan mereka sedikit dekat dengan mansionnya, Kira kira Dua jam perjalanan, jika sedang tidak terburu buru dan Reval sampai di tempat pertemuan Satu jam lewat sepuluh menit, ia hanya terlambat 10 menit.
Reval minta maaf kepada kliennya kerena datang terlambat. Kliennya pun tidak mempermasalahkan hal itu, sebab Indra telah berperan dengan baik sebagai asistennya.
Rapat berjalan hampir 3 jam itu, diakhir dengan kesepakatan dan makan siang bersama, selepas itu Reval, Indra dan Sekertaris Indra, kembali ke perusahan.
" Aduuuuuh." Reval meringis saat Indra merangkul pundaknya, tepat mengenai bekas gigitan Luna saat keduanya berjalan di lobby menuju lift khusus, di ikuti Nurul.
__ADS_1
" Kenapa?" Tanya Indra sedikit khawatir dengan Reval, ia langsung menurunkan tangannya dari pundak Reval.
" Nggak papa ko." Reval langsung masuk kedalam lift begitu pintu lift terbuka.
" Nggak papa, apanya! kamu sampai meringis kaya gitu." Ucap Indra, ikut masuk kedalam lift bersama Nurul.
Reval tidak menyahuti ucapan sahabat sekaligus asistennya itu, membuat suasana didalam lift itu hening. Begitu juga dengan indra yang tidak ingin mencampuri terlalu jauh urusan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Begitu tiba di lantai sepuluh, Reval langsung bergegas masuk kedalam ruangan, sedangkan indra hanya menatap punggung atasannya itu sambil gelang geleng kepala.
Reval duduk di kursi kebesarannya, ia kembali bergulat dengan laptop serta tumpukan map yang butuh di periksa sekaligus di tanda tangani.
Dilain tempat, Luna yang baru selesai makan siang, kini tengah berjalan mengelilingi mansion pribadi miliki Reval, ia berharap bisa menemukan celah untuk keluar dari tempat itu di ikuti Ria pelayan perempuan yang ditunjuk Reval untuk membantunya selama ia berada di mansion.
" Siapa wanita itu?" Tanya Luna kepada Ria, yang masih setiap berdiri di belakang bangku yang di duduknya.
" Itu mbak Sri nyonya, Istrinya pak Edy." Jawab Ria.ia ikut menatap kearah Sri.
" Kenapa masih di biarkan bekerja di saat kehamilan sudah sebesar itu." Tanya Luna yang tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat.
" Tuan sudah memintanya untuk beristirahat nyonya, tetapi mbak sri nggak mau! katanya sih udah biasa kerja." Jelas Ria.
" Kamu temui mbak Sri, bilang sama dia untuk istirahat." Setelah Luna selesai bicara, tanpa menunggu lama Ria langsung menemui Sri menyampaikan apa yang diminta Luna.
__ADS_1
Dari jauh Luna melihat Ria berbicara kepada Sri, mereka juga sempat melihat kearah Luna. Setelah itu Sri langsung masuk kedalam, sedangkan Ria kembali berjalan menghampirinya.
Cukup lama terdiam, sebelum akhirnya Luna kembali angkat suara. " Sudah berapa lama kamu kerja disini." Tanya Luna.
" Hampir dua tahun Nya." Jawab Ria.
" Senang kerja disini?"
"Senang donk nya! Siapa yang tidak senang, dapat tempat tinggal senyaman ini, makan minum gratis gaji besar bahkan semua kebutuhan kita di fasilitasi. Ucap Ria begitu antusias. " Kita yang cuma pekerja aja begitu di perlakukan dengan baik Sama Tuan Reval, apalagi nyonya selaku istrinya. Nyonya pasti akan menjadi wanita yang peling bahagia didunia ." Mendengar pujian Ria, membuat Luna tersenyum Getir.
" Bahagia? menderita sih iya! bagi kalian mungkin tempat ini begitu nyaman! tetapi bagiku ini hanyalah Penjara mewah." Ucap Luna dalam Hatinya.
Disaat Luna tengah menikmati ketenangannya di dalam Penjara mewahnya! Anita justru sedang tersiksa dengan mual yang tak kunjung usai, Untuk berjalan menuju kamar mandi saja, tubuhnya begitu lemah! beruntung pelayan di rumah itu begitu telaten dalam mengurusnya.
.
.
.
Bersambung.
๐Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka ๐
__ADS_1