
Satu Minggu sudah Reval tidak bertemu dengan istri mudanya itu, bahkan untuk sekedar bertukar kabar saja tidak! bukan karena Reval mengabaikan Istrinya itu, tetapi Luna lah yang menutup diri dari Reval, ia bahkan memblokir nomor telepon Reval. Sungguh ciri ciri istri Sholeh aahh.
Ditambah Luna yang telah dipindahkan diruang ICU membuat ia begitu sibuk. Bahkan selama satu Minggu ini Luna tidak pernah meninggalkan rumah sakit, begitu tugas jaganya selesai ia langsung kembali ke messnya. makannya pun tidak teratur. Bahkan sehari ia hanya makan dua kalau, kalau tidak cuma sekali, itupun kalau dia ingat.
Sedangkan untuk Urusan perceraiannya dengan Reval, Luna menyerahkan semuanya kepada pengacara yang di pilih mama Emma untuk membantunya.
Siang itu, Luna yang baru selesai berkerja memilih menyegarkan dirinya, sebelum merajut mimpi di siang hari berhubung Dina sip Siang dan tidak ada yang akan menganggu tidurnya, walaupun sekedar mengingatnya untuk makan. Bahkan tubuh Luna yang dulunya berisi kini sudah mulai terlihat sedikit ramping.
Tok... tok.. tok..
Baru saja Luna akan merebahkan dirinya di kasur, suara ketukan pintu sudah menganggu niatnya itu.
Ceklek. Luna membuka pintu.
" Apa mama menganggu waktu istirahatmu?" Tanya Mama Emma.
" Nggak kok ma! lagian luna juga baru selesai mandi." Jawab Luna.
__ADS_1
" Syukurlah kalau begitu! Mama dan Hans boleh masuk nggak nih."
" Astaga ma, maaf Luna sampai lupa mempersilakan mama dan pak Hans masuk." Ucap Luna sedikit tak enak dengan kedua orang tua yang berdiri di depan pintu messnya. " Ayo Ma, Pak Hans masuk." Ajak Luna.
"Ada apa mama dan pak Hans sampai bela belain datang kesini! Apa ada masalah dengan gugatan perceraian yang aku ajukan." Tanya Luna sedikit cemas.
" Tidak ada masalah kok sayang! justru mama dan pak Hans datang kesini untuk memberitahukan kabar baik kepada kamu sekaligus mengantarkan ini." Ucap mama Emma sambil menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Luna.
" Kabar bahagia apa ma." Tanya Luna sedikit tidak sabaran.
" Buka dulu Amplopnya, setelah itu Pak Hans akan menjelaskan semuanya kepadamu." Luna menuruti ucapan mama Emma, ia membuka amplop berwarna coklat itu.
" Iya, sesuai dengan cerita Anda kepada saya, saya menambahkan satu alasan lagi, yang mana bisa mempercepat proses perceraian Anda dan suami anda! jika tidak ada kendala dari pihak suami, saya pastikan dalam jangka waktu tiga bulan kedepan, pengadilan agama akan mengabulkan gugatan yang anda ajukan." Ucap pengacara yang bernama Hans, dengan begitu Yakinnya. Mendengar hal itu membuat hati Luna begitu lega, akhirnya ia akan segera terbebas dari pernikahan yang menyakitkan ini.
" Mama yakin, surat yang sama dengan yang ada di tangan kamu pasti sudah sampai ke tangan Reval." Sahut mama Emma.
" Semoga semua berjalan lancar ya ma." Kedua orang tua yang berbeda jenis kelamin itu, langsung mengamini ucapan Luna. Pengacara yang bernama Hans dan mama Emma pun memberitahu Luna apa saja yang harus iya katakan saat mediasi nanti.
__ADS_1
...💋💋💋💋💋💋...
Disaat Luna tengah mempersiapkan diri menghadapi mediasi nanti, Reval justru di selimuti kemarahannya saat mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agama.
" Kita lihat sampai dimana kamu akan berusaha." Ucap Reval sambil meremas Amplop yang ia pegang.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya sedikit!
__ADS_1
💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍