
Sepanjang perjalanan menuju rumah, kapal Melly semakin pusing, di tambah angin malam yang menerpa tubuhnya, membuat ia menggigil.
Kedua matanya pun semakin berat untuk terbuka, sebisa mungkin ia menahan dirinya sehingga tidak merepotkan dokter hasim lebih dari ini.
Sesuai perkiraan melly, tak sampai sepuluh menit mobil dokter hasim sudah berhenti di depan rumah. " Makasih ya." Ucap Melly sembari melepas seat belt dan keluar dari mobil dokter hasim, tentunya setelah membuka pintu.
" Sama sama Mel! Tapi kamu nggak papa kan? Kamu yakin bisa masuk sendiri?" Tanya dokter hasim saat melihat jalan Melly yang sedikit sempoyongan.
" Iya dok, sekali lagi terima kasih ya." Setelah mendapat anggukan dari dokter hasim Melly Segera mengambil kunci cadangan dari dalam tas, untuk membuka pintu rumah mereka.
Dengan langkah tertatih Melly menguat dirinya. Walaupun ia yakin sebentar lagi dia akan kehilangan kesadarannya. Tetap saja Melly tidak ingin merepotkan orang lain, sekali pun itu Luna atau mbak Tya.
Saat masuk di dalam kamarnya, Melly tidak menyadari keberadaan Dion. Ia meletakkan tas dan snelli nya begitu saja, setelah itu Melly langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang tepat di samping Dion. hal itu membuat tidur Dion terusik.
Dion menggeliat saat tidurnya terusik, perlahan lahan, ia mulai membuka kelopak matanya. Terkejut? Itulah yang di rasakan dion, kedua matanya membola sempurna saat menatap wanita yang pernah membina hubungan yang sakral dengannya. " Mel, Melly! Honey." panggil nya, untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat saat ini adalah benar-benar mantan istri tercinta nya.
" Hmm." Melly hanya bergumam, sebab rasa pusing yang semakin menyiksa membuat matanya terasa semakin berat untuk dibuka. " Honey kamu kenapa?" Tanya Dion, dia merasa Aneh dengan Melly yang mengacuhkan keberadaan mereka di atas ranjang yang sama! Sebab Dion masih ingat jelas ketika mereka sedang dalam proses perceraian Dion pernah sekali datang ke apartemen Melly.
Saat itu tengah malam, begitu Dion sampai di apartemen Melly ia langsung masuk ke kamar dan tidur bersama,. toh palu perceraian belum di ketuk, jadi sah sah saja kalau mereka masih tidur bersama. Pikir Dion saat itu dan sesuai rencananya, dia bisa merasakan kehangatan seranjang bersama Melly tetapi semua itu tidak bertahan lama.
Karena jam di jam tiga dini hari, Melly terbangun dan menyadari keberadaan Dion dan saat itu juga Dion di guyur dengan air es di sertai kata kata tajam dan pedas sebelum ia di usir dari apartemen itu.
Dan saat ini, ketika Dion sudah siap mengalami kejadian yang sama atau sesuatu yang lebih buruk dari itu. Melly justru dengan tenangnya tidur di samping Dion! " Apa dia sakit." Dion bertanya pada diri sendiri, ia meletakkan punggung tangannya di atas dahi Melly. "Astaga Honey kamu sakit.? Pantas saja kamu tidak menyiksaku." batinnya menambahkan.
" Honey kita ke rumah sakit ya." Ucap Dion lagi.
" Nggak usah aku nggak papa." Melly yang belum sepenuhnya kehilangan kesadaran tentu saja ia langsung menolak, tetapi sayang Dion tidak mendengarkan ucapan Melly ia langsung mengendong Melly dan membawanya ke rumah sakit, beruntung mobil yang di pakai ia dan Reval beberapa jam lalu kuncinya ada pada Dion. kalau tidak! Dion tidak tahu harus bagaimana, tidak mungkinkan dia membangunkan Reval dan membuat satu rumah khawatir ditengah malam seperti ini.
...... 💋💋💋💋💋......
Pagi harinya, tidur luna terusik karena cahaya matahari yang masuk Melalui tirai jendela yang di buka. Luna langsung panik begitu tidak menemukan ella dan rendra disisinya, ia melihat jam pada ponselnya, waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi, ini pertama kalinya ia bangun kesiangan setelah melahirkan kedua buah hatinya, sebab baik Ella maupun Rendra selalu membangunkan dia. Entah itu tangisan atau celotehan mereka.
__ADS_1
Luna turun dari ranjang, tanpa mencuci wajahnya luna langsung mencari kebenaran Naela dan Narendra. " Mbak. mbak Tya." Panggil Luna.
" Iya, ada apa Lun!" Sahut mbak Tya dari arah dapur.
" Mbak Tya, Ella sama Rendra Mana? Tanya Luna saat menyadari kedua buah hatinya tidak bersama Mbak Tya." Sama melly ya?" Tanya Luna lagi.
"Nggak kok lun! Melly belum pulang." Jawab mbak Tya membuat luna semakin khawatir.
" Terus Ella sama Rendra kemana mbak kenapa mereka tidak ada di kamar." Makin panik saja luna.
" Tenang Lun, mereka berdua lagi jalan pagi sama tuan Reval."
" Apa mbak? Reval! Reval suami saya?" Tanya Luna, memastikan apa yang baru saja ia dengar.
" Iya! Siapa lagi."
" Kapan dia datang mbak? Kok aku nggak tahu."
" Semalam! Kamu sama anak anak sudah tidur, mbak yang buka pintu buat mereka."
"Iya tuan Reval sama temannya, tapi mbak bangun temannya udah nggak ada! Mungkin sudah pergi lagi."
" Oh." Setelah mendengar penjelasan mbak Tya luna kembali ke kamarnya untuk melakukan ritual pagi. Mulai dari mandi dan seterusnya.
" Kok nggak bilang kalau mau datang." Tanya Luna saat melihat Reval masuk kedalam kamar.
" Sengaja biar jadi kejutan buat kalian bertiga." Jawab Reval sambil menatap wajah istrinya di cermin yang ada di hadapan mereka. Sebab luna kini tengah mengerikan rambutnya.
" Terus Ella sama rendra mana?" Tanya luna yang tidak ingin membahas kedatangan Reval lebih lanjut.
" Sama mbak Tya." Luna hanya menanggapi dengan membuatkan bibirnya. Setelah itu ia kembali melanjutkan aktivitasnya saat ini.
__ADS_1
" Sayang." Panggil Reval. Sejak tadi ia menatap gerak gerik luna.
" Iya."
" Luna, sebenarnya perasan kamu ke aku itu gimana?" Tanya Reval tanpa mengalihkan pandangannya dari luna sedetik pun. "Terlepas dari aku suami kamu dan ayah dari Naela dan Narendra."
" Kalau aku balik pertanyaan itu ke kamu! Apa jawaban kamu?" Bukannya menjawab luna malah balik bertanya.
" Aku mencintai kamu, sangat sangat mencintai kamu. Kamu adalah segalanya buat aku saat ini dan seterusnya."
" Bagaimana dengan Anita! Bukankah dulu kamu juga sangat mencintainya."
" Ya, aku akui dulu aku sangat mencintai Anita tapi itu dulu sebelum aku_"
" Sebelum kamu tahu kalau aku bukanlah wanita murahan! Sama seperti yang kamu pikirkan selama ini tenteng diriku." Sahut luna cepat, sebelum Reval menyelesaikan ucapannya.
" Maaf untuk hal itu, maaf karena telah melukaimu! Tapi kamu harus tau, siapa pun pasti akan berpikir sama sepertiku. Saat melihat kalian berciuman seperti dua orang yang ingin menelanjangi satu sama lain." Jelas Reval. Membuat luna tersenyum samar.
" Ternyata benar kata bunda, kamu itu berpikir sama seperti apa yang kamu lihat. Buktinya kamu hanya bisa melihat sepasang kekasih yang berciuman tetapi tidak dapat melihat cinta di mata orang lain! Aku mau melihat mereka dulu." Ucap Luna seraya melangkah keluar kamar, meninggalkan Reval yang masih terdiam memikirkan apa yang baru saja luna katakan.
...... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
__ADS_1
...Happy reading.. 💋💋...
...Jangan lupa like dan komen.. 👍🙏...