
Begitu tiba di mess Luna langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Dina memilih kedapur membuatkan makan untuk mereka berdu, walaupun waktu makan siang telah mereka lewatkan.
" Astaga, aku sampai lupa, persediaan bahan makanan telah habis." Dina bermonolog sendiri sambil menepuk jidatnya.
Dina kembali kekamarnya, mengambil dompet Setelah itu ia keluar mess, mencari makan siang untuk dia dan Luna.
Begitu Dina pergi Luna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya dan handuk kecil melingkar di kepalanya. Luna mencari keberadaan sahabatnya itu tetapi tidak menemukannya. Luna segera memakai pakaiannya, Setelah itu ia tidur dengan handuk yang masih melingkar di kepalanya.
Sekitar lima belas menit Luna tertidur Dina datang membawa 2 bungkus nasi goreng yang ia beli dari pedagang kaki lima yang berjualan tak jauh dari area rumah sakit.
Dina mengambil dua buah piring dan sendok setelah itu ia membangunkan Luna. " Luna, bangun dulu! kita makan sama sama." Panggil Dina sambil menepuk pelan lengan Luna." Aku udah beli nasi goreng nih." ucapnya lagi.
" Hmmm, nanti aja Dina! aku belum lapar." Ucap Luna dengan suara serak karena menahan rasa ngantuknya.
" Belum lapar bagaimana lun! ini aja udah lewat, waktu makan siang."
" Din, sebentar saja! tolong jangan ganggu aku, aku lelah banget! kamu makan aja duluan, kalau aku lapar pasti aku makan."
__ADS_1
" Tapi Luna."
" Aku mohon, jangan paksa aku." Mendengar hal itu dina memilih makan siang sendiri. sebenarnya dia tidak tega melihat Luna seperti ini, tapi untuk bertanya tanya dan membantu rasa Dina tidak bisa sebab ia tidak ingin di anggap sebagai orang yang menggilai urusan orang lain sekalipun Luna adalah sahabatnya.
Disisi lain Reval yang baru saja pulang dari makam sahabatnya, ia ingin langsung menuju kamarnya membersihkan dirinya yang sudah gerah dan lengket. begitu kaki nya ingin melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya, lengannya langsung ditarik sang istri.
" Sayang kamu dari mana?" Tanya Anita.
" Bukan urusan kamu!" Jawab Reval begitu ketus sambil menghempaskan tangan Anita.
" Kamu kenapa sih yank! apa salah aku kenapa sikap kamu dingin ke aku." Ucap Anita, matanya mulai berkaca kaca.
" Jangan pernah mengatainya wanita penganggu, karena dia adalah istriku adanya dia di antara kita karena aku yang menginginkannya." Sahut Reval.
" Kenapa kamu berkata seperti itu, apa kamu tidak memikirkan perasaan ku! aku sedang mengandung anak kita! harusnya kamu lebih mementingkan akau ketimbang dia."
" Anak kita?" Reval tersenyum. " Aku sendiri pun ragu mengatakan hal itu! kenapa kamu begitu yakin? dan soal memikirkan perasaan mu! apa kamu juga melakukannya saat berada di bawah tubuh pria lain, apa pada saat itu kamu memikirkan perasaan ku juga! aku lebih mengutamakan dia karena dia memang pantas di utamakan."
__ADS_1
" Kenapa kamu begitu tega! mungkin tempat ku bekerja tidaklah baik tetapi aku tidak seperti yang kamu pikirkan."
" Cukup jangan membual lagi, aku mengatakan itu semua bukan berdasarkan dugaan semata, tetapi mata dan telinga yang menjadi saksi atas permainan mu waktu itu." Anita langsung membeli, kebusukannya selama ini telah di ketahui suaminya. Dengan tidak tahu malunya Anita masih sempat bertanya.
" Jika kamu sudah tahu semuanya! lalu untuk apa perhatian mu selama ini?"
" Anggap itu semua, bentuk ucapan terima kasih karena kamu telah menyarankan aku untuk menikahi Luna! aku juga tahu kamu yang menyebabkan kematian Zen." Jedeeer bagaikan tersambar petir Anita mendengarkan hal itu. " Mulai sekarang jangan menggangguku lagi." Setelah membuat Anita syok Reval kembali melanjutkan langkahnya tanpa ada halangan dari wanita yang masih berstatus Istrinya.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍