
Tiga bulan sudah Luna pergi, segala usaha pun telah Reval lakukan untuk menemukan keberadaannya, tetapi sayang usahanya selalu sia sia, seolah takdir telah berkerja sama dengan Luna untuk terus menyiksanya dengan situasi seperti ini.
Selama tiga bulan terakhir ini, Reval hanya menghabiskan waktunya untuk berkerja, berkerja, berkerja dan mencari keberadaan Istrinya. bahkan untuk pulang kerumah orang tuanya saja tidak pernah, apalagi bertanya soal kabar Anita. Reval seakan tak Sudi lagi untuk melakukan hal itu.
Tok... Tok.... tok...
Suara ketukan dari luar membuat Reval menghentikan aktivitasnya dan meminta orang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya untuk masuk.
" Maaf, aku gangguan nggak, nih." Tanya Putra, saat iya menyembulkan kepalanya melalui selah pintu yang sedikit terbuka.
" Ada apa?" Tanya Reval ia hanya melirik putra sekilas kemudian kembali fokus dengan lebaran kertas yang bernilai ratusan juta yang ada di tangannya.
Melihat sikap tenang yang di tunjukkan Reval membuat putra menarik nafasnya dalam-dalam, ia melangkah masuk kedalam ruangan sahabatnya dan duduk tepat di hadapan Reval.
" Hal apa yang membawa kamu datang kesini? Apa ada masalah dengan perusahaan ayah?" Tanya Reval sikapnya masih sama.
" Tidak! perusahaan ayah baik baik saja, aku datang karena bunda yang menyuruhku untuk menjemputmu." Ucap putra.
" Ada apa?" Tanya Reval lagi. " Apa wanita itu berbuat masalah lagi?" Sambungnya. membuat putra geleng geleng kepala. bagaimana tidak, putra masih ingat bagaimana dulu Reval begitu memuja dan mencintai anita, bahkan ia nekad menikah Anita tanpa restu dan melawan bunda Vio. tetapi lihatlah dirinya sekarang bahkan untuk menyebut nama Anita saja dia seakan tak Sudi.
" Wanita itu adalah istrimu, apa kamu Lupa?"
" Tidak perlu kamu mengingatkan aku! sebab aku tidak pernah lupa siapa istriku." Sahut Reval.
" Jika kamu tidak pernah lupa! kenapa kamu tidak menemuinya? Dia itu se_" Belum selesai putra berbicara Reval sudah lebih dulu memotong ucapannya.
" Jika aku tahu di mana dia berada. saat ini, tanpa perlu kamu bertanya aku sudah lebih dulu menemuinya."
" Ini soal Anita bukan Luna." Putra tidak habis pikir dengan jalan pemikiran sahabatnya. " Istri kamu di larikan ke rumah Sakit, mungkin hari ini dia akan melahirkan." Lanjutannya lagi, tetapi sikap yang di tunjukkan Reval, membuat putra mengerutkan dahi. " Apa kamu tidak ingin menjenguknya." Tanya Putra lagi.
__ADS_1
" Aku akan menjenguknya, jika aku mempunyai waktu luang."
" Apa, waktu luang kamu bilang." Sentak putra, sambil mengbrak meja kerja Reval. " Istri kamu sedang berjuang di rumah sakit untuk melahirkan anaknya, terlepas dari dia anak kamu atau tidak, mereka berdua masih tanggung jawab kamu! jika kamu bisa memikul tanggung jawab yang besar, lalu mengapa yang sekecil ini, jangan jadi pria mbarengsek kamu! sebenci apapu kamu sama dia penuhi tanggung jawab kamu sebagai seorang lelaki juga seorang suami." Teriak Putra, tanpa menunggu ucapan Reval. putra langsung melangkah keluar dari ruangan itu.
Sementara di belakang sana, Reval berteriak frustasi. " Arrrggggh dasar wanita yang merepotkan." Reval menekan tombol interkom, " Schedule, saya hari ini, alihkan untuk besok." Ucap reval kepada sang sekretaris.
Setelah itu ia melangkah keluar ruangannya, tanpa menghiraukan tatapan protes dari sekertarisnya itu.
...💋💋💋💋💋...
Sudah 4 jam Anita berada di ruangan bersalin, dengan sakit yang ia rasakan, mulai dari belakang pinggang, panggul, perut sampai area perut bagian bawah semuanya terasa sakit yang teramat nikmat, bagi setiap wanita yang menikmati proses itu. dengan keringat yang membasahi dahi, pelipis dan sekujur tubuhnya. serasa seluruh tulang dan urat urat di tubuhnya akan terlepas saat itu juga, walaupun pun sakit yang ia datang dan pergi dengan waktu yang lama sampai cepat. semua itu Harus Anita rasakan untuk melihat wajah malaikat kecil yang kini sedang berjuang mencari jalannya untuk keluar menemui ibunya. sungguh sakit yang memerlukan taruhan nyawa. " Akkhhh Ak u su dah tidak kuat lagi, aku in ingin ope rasi saja." Teriaknya dengan nafas yang tersengal-sengal.
" Suster, dokter apa kalian ingin membunuhku, Aku sudah tidak kuat lagi." Suara teriakan Anita memenuhi ruangan itu.
" Bu, tahan ya sebentar lagi, sebaiknya ibu miring kiri biar pembukaannya cepat." Ucap dokter yang menangani Anita.
" Tahan kamu bilang. ini tuh sakit banget." Dalam keadaan sakit masih sempat sempatnya ia berdebat.
" Kalau seperti ini sakitnya, aku nggak mau hamil lagi." Gumam Anita dan langsung mendapatkan gelengan dari sang dokter. " Berapa lama lagi."
" Sabar bu, ini masih pembukaan tujuh, sebentar lagi." Kali ini salah seorang perawat yang angkat bicara.
" Sebentar terus, sebentar terus! kalian nggak rasanyakan.! Panggil suami saya , saya mau operasi saja."
" Tapi kondisi ibu sehat, posisi bayi ibu juga bagus, ini juga udah pembukaan tujuh." Ucap perawat itu lagi.
" Saya nggak mau." Anita terus membuat keributan di ruangan bersalin, hal ini tentu saja menganggu pasien lain.
Bunda Vio yang ada sedang menunggu Anita terpaksa meminta sang dokter untuk melakukan tindakan operasi sesar. Dan persalinan yang awalnya di rencanakan normal itu, berakhir dengan operasi sesar. Anita melahirkan bayi laki-laki dengan berat, 2900 gram, panjang 52 cm.
__ADS_1
...💋💋💋💋💋...
Jauh dari tempat Anita dan Reval berada, Luna mulai terbiasa dengan lingkungan barunya saat ini. mau itu di tempat kerja atau tempat tinggalnya, kehadiran Luna di terima dengan baik di sana, bahkan wanita yang ia temui di bus itu kini telah menjadi teman barunya, Wanita itu bernama Melissa, ia tetangga kontrakannya Luna dan rekan kerja di rumah sakit, hanya saja Melissa adalah seorang dokter.
" Lun, kenapa kamu nggak minum susunya." Tanya meli, ia kini sedang berada di kontrakan Luna.
" Malas." Jawab Luna membuat meli memutar bola matanya. Hampir sebulan ini Luna selalu menyiksa dirinya sendiri dan meli tidak suka dengan hal itu.
" Jangan seperti ini donk, Kasian dia." Ucap meli sambil tangannya mengusap perut Luna tetapi dengan cepat di tepi Luna.
" Aku tidak menginginkan kehadirannya, kalau dia mau bertahan silahkan." Ucap Luna dengan santainya.
" Memang benar kamu tidak menginginkan dirinya, tetapi kamu dengan suka rela mebuka kedua pahamu untuk suamimu." Bukan pertama kalinya untuk Luna mendengar ucapan prontal dari teman barunya itu, sebab itu sudah menjadi ciri khas seorang meli dengan ucapan blak blakan nya.
Semenjak Meli mendengar ucapannya dengan Reval di bus waktu itu, Luna memutuskan untuk menceritakan masalanya untuk meli, karena ia pikir mereka tidak akan bertemu lagi dan tidak saling mengenal jadi tak masalah bukan, Tetapi semua itu salah sebab mereka kembali bertemu dan menjadi sedekat ini, apa lagi mengetahui Luna hamil, meli semakin antusias untuk membantu Luna. Meli itu ibarat pelindung untuk janin yang dikandung Luna. Sebab Luna tak suka dengan kehadiran janin dalam kandungannya alasannya kalian tahulah.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..💋💋
Jangan lupa like..👍👍
__ADS_1
Dan Vote seikhlasnya..🙏😗