
Di jarak sekitar lima meter Anita kembali berbalik menatap Luna, seraya berkata." Jangan terlalu percaya dengan sesuatu yang semu, kamu tahu apa yang dilakukan Reval sekarang ini semata mata agar kamu tetap berada dalam jangkauannya, sehingga dia dengan mudahnya membalas semua rasa sakit hatinya atas pembuatan Zen, kepada kita berdua. harusnya kamu sadar dengan sikapnya selama ini kepadamu, kalau dia benar cinta dan sayang sama kamu dia akan memperjuangkan kamu, bukan membiarkan kamu pergi begitu saja. nanti disaat dia butuh barulah dia akan mencari mu, ingat itu bukan cinta."
Anita terus lancarkan hasutannya, dia tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuk Luna kembali mempercayai Reval.
dan sialnya Luna percaya dengan semua kata-katanya. rasa benci yang sudah ada untuk Reval semakin bertambah saja.
Luna kembali melanjutkan langkahnya menuju mess setelah Anita benar-benar hilang dari pandangannya.
begitu sampai di mess nya Luna langsung mencari laptopnya untuk melihat isi dari flash disk pemberian Anita.
Hatinya begitu sakit melihat isi dari flashdisk itu, di mana foto-foto kemesraan Anita dan Zen serta video singkat mereka terpampang jelas di matanya tanpa editan sedikitpun. " inikah wujud asli dari lelaki yang aku banggakan selama ini, siapa lagi yang dapat aku percaya di kemudian hari nanti. jika orang baik setia dan royal untuk diriku saja bisa berkhianat apalagi yang selalu menyakiti." gumam Luna.
Dalam keadaan hati yang begitu hancur Luna mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan dia bawah di tempat tugasnya yang baru. bahkan semua rencana yang telah tersusun rapi di otaknya menguap begitu saja.
Usai mengemasi barang-barangnya dan berganti pakaian Luna berjalan keluar mess sambil menarik dua koper, satu koper miliknya dan satu lagi milik Dina yang ia pinjam tanpa memberitahu orangnya lebih dulu.
Sebelum pergi Luna telah meninggalkan kartu pemberian Zen dan sebuah notes di atas meja rias untuk Dina.
Dalam pesannya Luna meminta maaf karena pergi tanpa pamit kepada Dina dan mama Emma, serta meminta Dina untuk memberikan kartu pemberian Zen kepada mama Lina untuk biaya perawatan kakaknya.
Begitu Luna berjalan keluar gerbang samping, sebuah taksi yang ia pesan telah menunggunya di depan sana.
Luna langsung membuka pintu taksi itu dan duduk di jok belakang sedangkan sang supir memasukkan koper nya ke bagasi.
...💋💋💋💋💋...
Disisi lain.
Reval yang baru selesai meeting langsung bergegas ke pengadilan untuk bertemu dengan Luna dan berharap ini menjadi hari terakhir ia datang ke pengadilan agama. seandainya Luna tetap bersikeras untuk melanjutkan perceraian ini, Reval akan menjadi kebersamaan mereka semalam untuk melawan Luna di pengadilan nantinya.
Begitu sampai di salah satu ruang tunggu yang tersedia di pengadilan itu, Reval hanya melihat mama Emma, Dina dan pengacara Luna saja.
__ADS_1
Reval berjalan menghampiri mama Emma dan Dina. " Tante Emma! Luna dimana." Tanya Reval.
" Belum datang, mungkin terjebak macet." Jawab mama Emma, sekedar menduga, sebab tadi ia datang bersama Dina. begitu Dina selesai sip mama emma langsung mengajaknya untuk sarapan bersama Setelah itu barulah keduanya ke pengadilan.
" Oh." Reval ber oh ria seraya mengangguk anggukkan kepalanya. Reval mendaratkan bokongnya pada salah satu bangku kosong yang ada di samping pengacaranya.
Sementara itu.
Luna baru saja tiba di terminal, Sebab taksi yang ia tumpangi lebih dulu singgah di salah agen penjualan tiket Bus. setelah itu ia menempuh waktu 40 menit barulah ia tiba di terminal. beruntung ia masih mendapatkan tiket, mungkin alam juga mendukung ia untuk menjauh.
Luna menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. jarum jam itu menunjukkan angka 12 lewat, tandanya bus akan berangkat sekitar 1 jam lagi.
Setelah kopernya masuk ke bagasi, Luna memilih untuk ke ATM dan minimarket, tanpa ia sadari mama Emma, Dina dan Reval sedang mencarinya, bahkan mereka bertiga berulang kali menghubungi nomor telepon Luna yang selalu berakhir dengan suara operator.
" Sama aja." Ucap mama Emma, setelah mengakhiri panggilan telepon yang dijawab operator itu.
" Mungkin Luna nya sibuk mam." Ucap Dina mencoba menenangkan mereka, walaupun ia sendiri khawatir.
" Atau dia ketiduran! diakan seperti itu." kembali Dina meyakinkan mereka.
" Mungkin yang kamu katakan benar, sebaiknya kita masuk." Ucap mama Emma, melangkah masuk kedalam ruangan sidang yang telah berjalan lima belas menit tanpa kehadiran Luna.
Akhirnya sidang itu berakhir dengan ketuk palu rujuk Setelah perdebatan panjang dan bukti bukti yang ada.
Reval melangkah keluar ruangan sidang dengan wajah sumringahnya, bibirnya melengkung sempurna.
" Ayo tante aku antar, hari ini aku akan menjemput istriku." Ucap Reval seraya membuka pintu mobilnya untuk mama Emma. ketiganya kini telah berada di parkiran pengadilan.
" Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri." Sahut mama Emma dengan ketusnya.
" baiklah karena Tante nggak mau, aku duluan, permisi." Reval langsung masuk kedalam mobilnya dan berlalu meninggalkan kedua wanita yang terpaut usia cukup jauh itu.
__ADS_1
" Luna kemana sih." Ucap mama Emma.
" mungkin di mess kali mam." seperti biasa Dina selalu berpikir positif.
" Ya udah kita ke sana, udah mau cerai masih sempat sempatnya tuh anak." Mendengar keluhan mama Emma Dina hanya tersenyum geli.
Keduanya kembali ke rumah sakit, sekitar tiga puluh menit akhir kedua sampai, Dina dan mama Emma bergegas keluar dari mobilnya, mereka langsung menuju mess Luna.
" Kenapa kamu duduk disini? lunanya mana." tanya Mama Emma kepada Reval yang telah lebih dulu berada di sana.
" Kayaknya, Luna nggak ada deh, soalnya dari tadi aku ketuk dan panggil panggil tidak ada yang menyahuti." Jawab Reval.
" Din coba periksa kuncinya ada nggak?" Pinta mama emma, tanpa menunggu lama Dina langsung memeriksa kunci yang ia dan Luna bisa simpan di bawah pot bunga.
" Nih kuncinya ada mam." Dina menunjukkan kunci yang ia temukan di bawah pot itu." Aku bilang juga apa Luna udah masuk sip, nggak percaya! mama terlalu khawatir sih."
" Nggak , coba buka mess kalian."
" Sini kuncinya biar aku yang buka." Reval menarik kunci yang di pegang Dina. ia langsung membuka pintu mess itu.
Begitu pintu terbuka Reval tidak melihat ada yang aneh, bahkan kamar yang pagi tadi berantakan kini sudah rapi kembali." Aku bilang juga apa mam terl_." Belum sempat Dina menyelesaikan ucapannya, ia sudah lebih dulu di kejutkan dengan hilangnya koper dia dan Luna yang di letakkan di atas lemari. " Jangan bilang dia pergi." Ucap Dina. ia membuka pintu lemari dan benar saja semua pakaian Luna sudah tidak berada di tempatnya.
Dijam yang sama, bus yang ditumpangi Luna, keluar dari terminal menuju tempat tujuan Luna yang baru. " Selamat tinggal semua kenangan serta rasa sakitku, tidak masalah jika selamanya aku menjadi istri Kedua, asal aku jauh dari kalian semua, jauh dari keegoisan, kesakitan serta kebohongan yang aku dapatkan selama ini." Gumam Luna.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Happy reading...