
Berhubung luna cuti jadi, dia memiliki lebih banyak waktu bersama kedua anaknya dan mengurus acara syukuran mereka.
Dan Sesuai kesepakatannya dengan Reval satu Minggu yang lalu, kini ia dan kedua anaknya telah kembali kerumah mertuanya.
" Sayang, Bunda tanya kamu mau ngundang siapa aja ke acara mereka nanti." Reval menghampiri Luna dan kedua anaknya yang tengah berjemur di balkon kamar mereka dengan membawa dasi ditangannya.
Luna yang mengerti keinginan Reval, langsung mengambil dasi dari tangan Reval dan membantu untuk memasangnya. " Aku hanya mengundang Mama Emma, Dina, meli dan mungkin beberapa temanku yang ada disini." Jawabnya sambil tersenyum lembut kepada Reval.
Entah Luna tulus dengan senyumnya itu ataupun hanya sekedar berpura pura. Reval tidak masalah dengan hal itu selama Luna masih berada disisinya Reval tidak akan menuntut apapun dari Istrinya, karena sadar butuh waktu untuk Istrinya itu percaya dengan ketulusannya.
Reval melingkarkan tangannya di pinggang Luna membuat jarak yang begitu dekat. sehingga mereka berdua bisa merasakan debaran jantung masing masing." Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan." Reval mengecup kening Luna dengan durasi yang sedikit lama. setelah itu ia menyatukan dahi mereka, membuat tatapan keduanya bertemu.
" Kamu tahu aku melakukan ini semua karena mereka berdua ja_" Jawab Luna mencoba untuk memutuskan pandangan mereka.
Satu tangan revel, terangkat untuk memegang pipi Luna, membuat tatapan Luna kembali bertemu dengannya. " Tak masalah, apapun alasan dari semua sikap kamu, aku akan tetap bersyukur dengan hal itu, sebab aku tahu yang kamu butuhkan saat ini adalah pembuktian yang harus aku lakukan untuk membuktikan kesungguhanku." Sebuah kecupan kembali Reval daratkan, kali ini pipi Luna yang menjadi sasarannya." Sekali lagi Maafkan aku yang pernah menyakiti kamu." seolah tidak ada bosannya Reval minta maaf dan mengecup wajah istrinya.
Luna memutar bola matanya, sedikit jengah dengan tingkah Reval." Apa kamu tidak memiliki kata lain selain maaf."
" Aku akan terus mengatakan hal itu, karena apa yang aku lakukan itu sengatlah keterlaluan." Jelas Reval di balas senyum ejekan dari Luna.
" Tapi dengan terus meminta maaf, orang akan berpikir aku adalah istri pendendam yang tidak ingin memaafkan suaminya. Padahal kamu tahu sendiri, bahwa aku telah memaafkan kamu. jadi berhentilah minta maaf." Tegas Luna Sambil menunjuk nunjuk dada bidang Reval.
" Oke oke, aku tidak akan meminta maaf lagi! sebagai gantinya aku akan terus mengingatkan kamu, bahwa aku mencintai kamu, sangat sangat mencintai kamu. LUNA Anastasia Sanjaya."
" Berhenti menciumku." Teriak Luna membuat Reval terkekeh.
" Kamu begitu mengemaskan saat kesal seperti sekarang ini."
__ADS_1
" REVAL."Sentaknya Saat Reval kembali menciumnya lagi dan lagi.
" Oke aku tidak akan melakukannya lagi, kali ini. ayo kita sarapan." Reval menunduk udah mencium kedua anaknya sebelum membawa mereka masuk, di ikuti Luna.
Reval meminta dua orang pelayan di rumahnya untuk menjaga Narendra dan Naela selama mereka bergabung di ruangan makan untuk sarapan bersama.
Selama satu Minggu di rumah ini, mama Lina tidak pernah datang mengunjungi Luna Entah mama Lina yang tidak tahu kedatangannya, atau wanita itu telah kembali ke kampung halamannya.
Luna akan memastikan hal itu nanti, sekaligus mengantarkan undangan kepada mama Emma dan teman temannya di rumah sakit.
Begitu selesai sarapan Luna mengantar Reval sampai di depan pintu utama rumah itu, menunggu sampai mobil yang di kemudikan Reval menghilang dari pandangannya barulah ia kembali mengurus anak anak.
...💋💋💋💋💋...
Tepat jam sepuluh pagi, Luna mengunjungi rumah Sakiit dimana kakaknya di rawat, dengan perasaan was was Luna masuk di ruangan yang sama dia dulu ia pernah menemani kakaknya di ruangan itu. Cukup lama Luna berdiri didepan ruangan itu. Setelah yakin dirinya telah siap bertemu dengan mama dan kakaknya, baru lah ia
Dengan perlahan mendorong pintu itu, saat pintu setengah terbuka, Luna dapat mengenali sosok yang tengah tertidur di sofa, berhadapan dengan ranjang dimana tubuh lemah kakaknya terbaring.
" Ma." Panggil Luna lagi, kali ini ia mencium punggung tangan mamanya. Tak terasa air mata mengalir dari kedua sudut mata luna menandakan ia menyesal meninggalkan mamanya berjuang seorang diri untuk kesembuhan Ardi. " Maaf ya ma! maafkan Luna." Sambungnya.
" Sayang jangan minta maaf." Mama Lina langsung duduk, sembari memeluk tubuh putrinya itu. " Mama yang salah, sebagai seorang ibu, mama tidak mengerti perasaan kamu! Jangan pergi lagi. Mama janji tidak akan memaksa kamu untuk kembali kerumah bunda. asal kamu harus janji sama mama kamu tidak akan pergi lagi." Mama Lina memohon kepada putrinya.
" Iya mah Luna janji tidak akan meninggalkan mama lagi, tetapi maaf ma, Luna harus kembali kerumah bunda."
" Kenapa sayang? apa bunda memaksa kamu lagi. Jika benar begitu! biar nanti mama yang ngomong sama Bunda, Mama sedar kebahagiaan kamu lebih penting dari segalanya."
" Sekarang tidak seperti itu ma! karena untuk sekarang ini Kebahagiaan kedua cuvu mama yang lebih penting dari apapun, karena kebahagiaan mereka adalah kebahagian Luna."
__ADS_1
" Cucu kamu bilang?" Tanya Mama Lina, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
" Ya ma." jawab Luna sambil menganggukkan kepalanya.
" Maksud kamu apa sih nak! mama nggak ngerti, Apa hubungannya, semua ini dengan kamu yang harus kembali ke rumah Bunda.
" Sebaiknya kita kerumah bunda ya! nanti Luna jelasin semua sama mama." Walaupun Mama Lina masih binggung dengan apa yang di katakan putrinya itu, mama Luna tetap mengiyakan permintaan Luna toh, nanti Luna akan menjelaskan semuanya.
Usai berbicara panjang lebar, Luna menghampiri ranjang di mana Ardi masih senang tiasa memejamkan kedua matanya di bantu alat alat medis yang menopang hidupnya sampai saat ini.
" Apa Abang tidak capek tidur terus." Luna mengecup punggung tangan kakaknya Setelah itu berpindah pada dahi. " mau sampai kapan seperti ini bang, ini sudah setahun lebih Abang tidur." Sambungnya dan tidak mendapatkan respon apa apa dari orang yang dia ajak berbicara. Sebab Ardi masih di kondisi yang sama.
Setelah menitipkan Ardi Kepada perawat yang berjaga, Luna di antara mama Lina pulang ke rumah bunda Vio, tetepi sebelum itu Luna memilih mampir di rumah sakit untuk bertemu mama Emma dan Dina, ia ingin mengundang mereka untuk menghadiri acara syukuran putra putrinya yang akan di gelar di rumah mertuanya itu.
Mama Emma menahan Luna, karena masih merindukannya Tetapi Luna menolak hal itu, mengingat anak anaknya yang tidak bisa ia tinggal lama.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..💋💋
__ADS_1
Jangan lupa like..👍👍
Dan vote seikhlasnya..🙏😘