
" Siapa yang menelpon nak?" Tanya Mama Lina.
" Teman Luna ma! dia minta tukar sip besok." Jawab Luna seadanya.
" Tapi Nak, Bukannya besok jadwal kamu sama suami kamu ya?"
" Mau bagaimana lagi Ma! Luna kasihan sama dia, anaknya lagi sakit, suaminya keluar kota! masa anaknya mau di tinggal tidur sendiri di rumah kan kasihan ma! Sebenarnya Bisa aja anaknya di bawah buat dinas malam, Tapi kasihan dong ma bisa tambah sakit nanti." Jelas Luna, ia mencoba menyakinkan mama.
" Tapi sayang kamu juga punya suami yang harus di urus."
" Mah jangan bersikap seolah Luna istri satu satunya disini." Ucap Luna, tidak bermaksud kurang ngajar atau membatah omongan orang tua. " Kalau tidak ada Luna dia masih mempunyai istri yang lain untuk mengurusnya! Jadi Luna harap mama tidak berlebihan seolah hubungan Luna."
Luna berbaring di sofa, iya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang biasa di pakai mamanya.
Mama Lina tidak mampu berkata kata lagi, membantah pun percuma toh semua yang di katakan anaknya itu benar adanya. Setiap orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anak anaknya, tanpa mereka sadari apa yang di anggap benar, itu tidak semua baik untuk Anak mereka. Seperti yang di lakukan mama Lina waktu itu, Hanya karena sebuah kehormatan di hadapan masyarakat Mama Lina melupakan kebahagiaan dan didik kan yang ia berikan untuk putrinya.
" Ma, seandainya papa masih hidup, papa pasti akan membiarkan Luna terbang bebas, terlepas dari kotor dan tidaknya diri Luna ma." Luna membuka sedikit selimut yang menutupinya. " Hidup bukan untuk sebuah kehormatan tetapi untuk menebarkan kasih sayang ma! sebaik apapun kamu berusaha untuk terlihat baik di mata masyarakat, Akan sia sia jika kita melakukan kesalahan kecil, Itu yang papa ajarkan buat Luna ma."
Mendengar kata kata putrinya, membuat rasa bersalah semakin menggerogoti pikirannya. Tetapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin mama Lina bisa memutar waktu Kembali.
...💋💋💋💋💋💋...
__ADS_1
Pagi itu setelah sarapan bersama mamanya, Luna langsung pulang ke rumah, ia ingin beristirahat sebentar karena malam ini dia harus sip malam.
Waktu menunjukkan pukul Sembilan pagi ketika taksinya berhenti di rumah mewah itu. Tanpa ragu Luna melangkah masuk kedalam rumah.
" Selamat pagi Non." Ucap Art yang berpapasan dengan Luna.
" Pagi juga Bi." Luna berhenti sesaat. " Bi, Bunda sama yang lain udah berangkat kerja?"
" Sudah Non."
" Makasih ya bi, Luna masuk dulu." Luna Melanjutkan langkahnya menuju kamar yang biasa iya tempati, Kamar itu nampak rapi seperti biasanya.
Saat akan meletakkan tas di atas meja rias, Kening Luna langsung berkerut, Meja riasnya kosong tidak ada apa apa di atasnya. Luna membuka setiap laci meja itu hasilnya sama. " Kemana barang barang aku ya." Luna bermonolog.
" Bi, bibi." Luna memanggil Kepala Art.
" Iya, Ada apa ya non?" Tanya wanita paruh baya, yang kini tengah berdiri di hadapan Luna.
" Bi lihat baju baju Luna Nggak? soalnya semua barang barang Luna Nggak ada di kamar."
" Maaf ya non! semua barang dan pakaian non, sudah bibi pindahkan ke kamar Den Reval."
__ADS_1
" Apa? Kenapa baju baju Luna di pindahin ke kamar dia sih bi, Pasti ini permintaan bunda kan."
" Nggak ko non, ini semua permintaan den Reval sendiri."
" Haaahh ko bisa! Aduuhh cobaan apalagi ini." Luna mengacak acak rambutnya Layaknya orang yang sedang Frustasi.
" Maaf ya non, bibi cuma jalanin perintah aja."
" Kirain siapa yang teriak teriak pagi pagi gini, Eehh Ternyata pelakor toh." Belum Selesai masalah satu, masalah yang lain muncul.
" Terserah kamu mau ngomong apa! aku nggak urusan sama kamu! Ladenin wanita kaya kamu tuh buang buang waktu aja." Untuk pertama kalinya Luna berbicara dengan Seperti itu kepada Anita, mungkin karena moodnya yang lagi Nggak bagus, jadinya dia sedikit berani. Tidak mau memperburuk keadaan, Luna langsung meninggalkan Anita yang masih saja mengomel di belakangnya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading.. 💋💋...