ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)

ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)
Perasaan


__ADS_3

Begitu Anita meninggalkan kantornya, Reval tidak bisa kembali berkonsentrasi dengan pekerjaan yang masih menumpuk, menunggu untuk di selesaikan. pikirannya saat ini di penuhi tanda tanya.


Apa benar Luna mengunakan alat kontrasepsi?


Apa benar Luna tidak ingin mengandung anaknya? sebenci apa Luna pada dirinya? Dan masih banyak pertanyaan yang berputar putar di kepalanya saat itu.


Di rasa tidak menemukan jawaban dari pertanyaan pertanyaan itu. Reval, memilih mengambil ponsel yang ada di atas meja kerja, ia mencari kontak seseorang di dalam sana setelah menemukan apa yang dia cari Reval langsung menghubungi pemilik kontak yang tidak lain adalah istri keduanya.


Reval tidak peduli apa yang akan di pikirkan luna nanti, yang jelas dia harus memastikan Luna tetap menjadi miliknya, urusan perasaan biarlah waktu yang menjanjikan hal itu.


Berulang kali Reval mencoba, panggilnya tidak dijawab, Luna. Reval semakin pusing dibuatnya, rasa kesel kepada istri pembangkangan itu semakin mengerogoti Hatinya, " Sial Kenapa semuanya harus seperti ini, ini sungguh membuatku pusing." Umpatnya, ia langsung mengalihkan panggilan itu kepada salah satu orang suruhannya, untuk mencari tahu tempat tinggal Luna.


Di dering pertama panggilnya langsung di jawab. " Cari tahu dimana istri keduaku tinggal selama ini dan siapa saja yang membantunya melawanku! dalam waktu satu jam aku sudah harus mendapatkan informasinya." Ucap Reval tidak ingin di bantah, Setelah itu ia mengakhiri panggilan begitu saja.


Reval menyandarkan kepalanya, pada sandaran kursi, Setelah memutar kursi itu kearah jendela dan menatap keindahan kota dari ketinggian.


Sekitar satu jam menunggu, Akhirnya Reval mengetahui tempat tinggal luna dan siapa saja yang membantunya selama ini. " Aku akan mengurus kalian yang sudah berani mencampuri rumah tanggaku." Reval bermonolog, bibirnya menyunggingkan senyum smiriknya.


Reval berdiri dari duduknya, ia mengambil jas yang dia sematkan pada kursi kebesarannya, setelah itu, ia kembali menghubungi orang suruhannya, untuk mengurus Dina dan orang yang berada di sekitar Istrinya selama ia berbicara dengan Luna nanti.


Reval langsung bergegas ke tempat Luna, begitu panggilan itu berakhir. Tidak butuh waktu lama untuk seorang Reval sampai dan ia kini sudah berada di depan mess Luna.


Tok... tok... tok... Reval mengetuk pintu bercat putih yang ada dihadapannya.


Ceklek, Tak lama pintu itu pun terbuka. Tampaklah Luna dengan tampang terkejutnya. Bukan hanya Luna saja yang terkejut, Reval pun sama terkejut saat melihat penampilan Luna. Tidak ada yang istimewa dari penampilan Luna saat ini, sebab ia hanya mengunakan daster koas oversize dengan handuk yang masih melilit kepalanya, Hal ini yang membuat sisi lain dalam dirinya memuja wanita yang ada di hadapannya saat ini, membuat ia kembali merasakan penyesalan dan kebodohannya selama ini.


Setelah menguasai perasaan masing-masing, Luna hendak menutup pintu itu kembali, sayangnya ia kalah cepat dengan Reval yang lebih dulu menahan pintu.


...💋💋💋💋💋💋...


Merasa usahanya untuk mengusir lelaki yang masih berstatus suaminya itu sia sia, Luna memilih menarik satu kursi yang berada tepat di samping kursi yang di duduki suaminya itu.


Reval menautkan alisnya, saat melihat Luna duduk sedikit jauh darinya. " Katakan apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Luna, memulai pembicaraan di antara mereka sebelum Reval melayangkan protesnya.


" Apa kamu tidak hamil." Pertanyaan yang begitu Ambigu keluar dari mulut Reval.


" Haah." Luna binggung.

__ADS_1


" Maksudku kenapa kamu tidak hamil?" Reval kembali memperjelas pertanyaannya. " Kita sudah menikah enam bulan lamanya, dan setiap kali kita melakukan hal itu_."


" Kita? Hanya kamu." Luna langsung memotong ucapan Reval.


" Kamu yakin?" Reval berdiri, ia melangkah mendekati Luna.


" Iy iyaa." Jawab Luna sedikit gugup pasalnya, Reval kini mengurungnya dengan kedua tangan yang berada pada pegangan kursi yang Luna duduki. " Karena apa yang kamu lakukan itu pemaksaan dalam arti lain Kau memperkoasa aku." Sambungnya.


" Oh begitu?" Reval Tersenyum sambil mengangguk aku kepalanya dan itu terlihat begitu menyebalkan di mata Luna.


Luna mengalihkan pandangannya ke samping ia begitu malas melihat wajah menyebalkan itu, sebelum sebuah bisikan membuat tersedak salivanya. " Pemerkoasaan yang begitu nikmat, sampai Nyoya Luna Yuliana Anastasia Sanjaya mendesah dengan begitu hebat dan menginginkan lebih dan lebih." Luna langsung terbatuk batuk, wajah langsung merah padam antara malu dan tersedak sekaligus.


Dalam hati ia terus mengatai dirinya sendiri, yang dengan bodohnya terbuai akan pemain Reval.


Atau bisa jadi, Bukan Luna yang bodoh, karena pada dasarnya jika nafsu sudah menguasai, orang akan kehilangan akal sehatnya! siapa yang sanggup menolok nikmat surga dunia.


" Minum." Reval menyerahkan gelas berisi air putih yang ia ambil di dapur kepada Luna.


Luna meraih gelas di tangan Reval, ia langsung meneguk air putih itu hingga tersisa setengah.


" Aku akan pulang begitu kamu menjawab pertanyaanku." Ucap Reval, ia kembali duduk di kursinya.


" Pertanyaan yang mana?"


" Kenapa kamu tidak hamil?" Luna langsung memutar bola matanya, ia begitu malas meladeni lelaki yang duduk tak jauh dari hadapannya itu.


" Kenapa kamu mempermasalahkan hal itu, kita sebentar lagi akan bercerai! apa kau lupa?"


" Aku menginginkan jawaban? bukan pengalihan pembicaraan." Sahut Reval.


" Pasangan lain di luar sana yang menikah bertahun-tahun lamanya saja, belum di berikan kepercayaan, padahal mereka selalu berusaha setiap saat, apalagi kita yang hanya enam bulan tanpa cinta tentu saja tidak segampang itu di berikan kepercayaan."


" Kamu yakin?"


" ya."


" Bukan karena kamu ya menundanya?"

__ADS_1


" Kenapa kamu jadi banyak tanya gini, Kita akan bercerai untuk apa memikirkan soal kehamilan yang tidak akan pernah ada." Tanpa Luna sadari ucapannya, telah menyinggung perasaan sang suami.


" Cukup jawab! Bukan kamu yang menundanya, kan?" Bentak Reval, tentu saja hal itu membuat Luna terkejut.


Luna sadar tidak akan mudah mengusir Reval dari messnya, satu satunya cara dengan melukai egonya.


" Iya, memang aku yang menundanya, aku Sengaja melakukan hal, karena aku tidak Sudi mengandung anak kamu! Kamu puas sekarang." Jawab Luna dan ia berhasil, Reval sudah berusaha menahan diri tetapi Luna kembali luka egonya. " Kamu sudah mendapatkan jawabannya bukan, sekarang tunggu apa lagi, pergi." Usir Luna. Tangan Reval terkepal ia berdiri menghampiri Luna.


" Apa kamu tidak ingin menjadi seorang ibu?" Tanya Reval sebisa mungkin ia menahan perasaannya saat ini.


Reval menarik tangan Luna untuk berdiri, satu tangannya melingkar di pinggang Luna, Reval mengangkat dagu Luna, ia menatap dalam dalam manik coklat Istrinya.


" Tentu saja aku ingin, tetapi tidak dengan hamil anak kamu." Luna membalas tatapan Reval.


" Maaf, Aku mencintaimu."


.


.


.


.


Bersambung.


Masih kurang panjang?


Buat satu bab itu butuh waktu berjam-jam harus ada konsep dan inspirasi sekalipun alurnya udah ada.


Aku tuh emak emak! harus bagi waktu antara buat cerita sama kehidupan reaal aku. kalau kalian terus desak aku! Aku mau jadi simpanan pengusaha aja. biar bisa update tiap hari lima kali.😭😭😭😭


Happy reading..💋💋


Jangan lupa like.👍


Dan vote secukupnya. 🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2