ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)

ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)
Sebanyak ini


__ADS_3

Saat Luna sampai dilantai bawah ia melihat seisi mansion begitu Sevi Edy yang biasanya bertugas memberi komando untuk para pelayan dan penjaga tidak terlihat batang hidungnya begitu juga dengan Ria. Wanita yang di tugaskan Reval untuk membantunya. " Mereka pada kemana sih?" Gumam Luna sambil menatap sekelilingnya. " Masih di belakang kali ya." Luna berjalan menuju belakang mansion di mana Paviliun untuk para pelayan itu berada.


Saat Kakinya akan melangkah ke luar iya tidak sengaja mendengar percakapan Edy dan Istrinya. Hal itu membuat Luna yang tadinya begitu malas untuk menyiapkan Saparan langsung semangat empat lima. " Orang sebar pasti akan di berikan jalan." Kata hati Luna.


Tidak lama setelah itu Edy dan istrinya pergi. Perlahan Luna keluar, ia berteriak memanggil nama Ria." Ria , Ria." seolah olah ia baru saja tiba di tempat itu.


Mendengar suara Luna Edy dan Ria langsung menghampirinya." Ada apa Nyonya." Tanya Edy dan Ria secara bersamaan.


" Ajak dua, taman kamu untuk membantuku, menyiapkan sarapan buat tuan mu itu." Ucap Luna setelah itu ia kembali masuk ke dalam mansion di ikuti Ria Sedangkan Edy kembali ke Paviliun, meminta 2 orang pelayan untuk membantu Luna sesuai permintaannya.


Setelah Kedua pelayan yang ia minta itu


datang, Luna langsung menyuruh mereka mengeluarkan bahan makanan yang ada di kulkas dan yang ada di gudang penyimpanan makanan, hal itu tentu saja membuat Ria dan kedua rekannya kaget. " Tidak usah melihatku seperti itu, saya sedang kesal dengan tuan kalian, jadi hari ini saya di bantu kalian! Akan memasak untuk tuan kalian dan semua penghuni yang ada di mansion itu tanpa terkecuali." Jelas Luna panjang kali lebar, walaupun tidak ada yang meminta penjelasannya.


Tidak ingin memperburuk suasana hati dari istri majikan mereka, ria dan kedua Rekannya langsung mengerjakan apa yang di minta Luna tanpa protes sedikitpun.


Setelah empat puluh lima menit bergulat dengan peralatan dapur, di bantu tiga orang pelayan, kini beraneka macam makanan telah berjejer di atas meja makan.


Beberapa saat kemudian, Reval menghampiri Luna yang sudah lebih dulu berada di ruang makan.


" Astaga Luna, apa yang kamu lakukan." Sentak Reval Ketika Melihat meja makannya di penuhi makanan.

__ADS_1


" Menyiapkan sarapan? apalagi!" Seru Luna dengan ketusnya


" Aku tahu, Tetapi tidak sebanyak ini juga, emangnya kamu bisa habisin semuanya."


" Ya nggaklah."


" Terus ngapain kamu buat makan sebanyak ini."


" Yang jelas buat dimakan apalagi?" Reval mengusap wajah kasar. ia terlihat begitu frustasi dengan apa yang di lakukan istri mudanya ini.


" Sebenarnya kamu niat nggak sih? buatin aku sarapan?"


" Kalau aku nggak niat, Aku nggak akan capek capek membuat semua ini, Bukannya bersyukur malah marah marah nggak jelas."


" Emangnya aku kenapa, Perlakuan aku seperti apa Haag? Bukankah kamu yang minta untuk di buatkan sarapan! Aku udah buatin, terus masalahnya dimana? kenapa jadi bawah bawah Perlakuan aku ke kamu."


" Terima kasih sebelumnya karena kamu sudah mau repot repot membuatkan aku sarapan, tetapi tidak sebanyak ini tahu nggak! ini namanya pemborosan."


" Tuan Reval yang terhormat, jangan kaya orang susah deh, lagi kamu juga belum bisa miskin hanya karena hal sepele seperti ini."


" Terserah kamu! Aku pusing berdebat terus sama kamu." Ucap Reval sambil memijit pelipisnya.

__ADS_1


" Kamu pikir aku senang berdebat sama kamu?" Luna terus saja menjawab, seolah olah ia sudah siap dengan konsekuensi yang harus ia dapat, jika Reval tidak mampu mengendalikan emosinya nanti.


" LUNA." Teriak Reval sambil mengangkat tangan kanannya.


" Apa? mau tampar aku! ayo tampar, kamu pikir aku takut." Luna kembali Menantang Reval Dan .


PLAAAK. Luna terjatuh, membuat pelipisnya terbentur Kursi.


" Jangan terus nantangku, karena aku tidak sesabar itu, jika kamu terus melawang." Reval mencengkeram kuat Rahang Luna, menempel bibirnya pada bibir Luna. Mencium, meluamat dengan kasar disana, Tidak ada kelembutan sedikitpun, sebelum mengakhiri ciuman itu, Reval sempat mengigit bibir Luna.


Iya meninggalkan Luna, yang masih terduduk di lantai, tanpa mencoba membantunya berdiri. bahkan sarapan yang Luna siapkan tidak sedikitpun ia cicipi.


" Pergilah, akan aku pastikan saat kau kembali, aku sudah tidak ada disini, Karena pertemuan kita selanjutnya adalah Parkiran kantor pengadilan." Ucap Luna sambil mengusap, darah pada sudut bibirnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2