
Setelah berbicara panjang lebar dengan sang mama dan ayah mertuanya, Luna memutuskan untuk kembali ke kamar Reval, pada saat ia hendak menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar Reval berada, ia menatap sejenak ke arah ruang keluarga, disana terlihat mama Lina, bunda Vio dan Reval sedang duduk bersama.
Luna memilih meneruskan langkahnya, ketimbang harus menyapa mereka atau sekedar basa basi, Hatinya terlalu tawar untuk ketiga orang itu.
Sebelum ia masuk kedalam kamar Reval, Luna terlebih dahulu masuk kedalam kamarnya, ia mengambil koper disana, setelah itu ia kembali ke kamar Reval, mengemas beberapa pakaiannya.
Begitu ia selesai mengemasi pakaiannya, Luna langsung mengirim pesan kepada Dina! mencari tahu keberadaan sahabatnya itu.
...Nandina....
Kamu dimana?
^^^Maaf ya Luna!^^^
^^^Aku balik duluan.^^^
^^^Nih aku sudah dijalan, bareng Nurul dan suaminya.^^^
Ya udah nggak papa!
__ADS_1
Hati hati ya.
^^^Iya^^^
Bye.
Setelah mengetahui keberadaan Dina, Luna memesan taksi melalui ponselnya, sebelum mutuskan untuk keluar dari kamar suaminya itu. " Memang benar hidup tak selamanya indah saja! tetapi aku juga harus sadar, bahwa aku tidak akan pernah dihargai jika aku sendiri tidak bisa menghargai tubuh dan perasaanku." Ucap Luna pada dirinya sendiri. ia melangkah sambil menyeret kopor menuruni anak tangga.
Begitu tiba di lantai satu, Luna langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang mama dan suaminya. sedangkan bunda Vio hanya menunjukkan raut kecewanya.
" Nak! apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini." Tanya Sanjaya, yang berada tepat di belakang Luna.
" Aku sudah putuskan, aku tetap akan meneruskan gugatanku! dan mulai hari ini, aku akan keluar dari rumah ini." Jawab Luna . " Ayah, bunda terima kasih karena sudah mau menampung Luna selama ini, maaf jika selama Luna tinggal di rumah ini Luna pernah mengecewakan ayah dan bunda, Sekali lagi Luna minta maaf." Ucapnya lagi, tulus dari lubuk hatinya.
" Jika kamu sudah yakin dengan keputusanmu, ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." Ucap Sanjaya.
Sedangkan sang istri hanya diam, ia begitu berharap, Luna merubah keputusannya, tetapi sayangnya, Luna tetap pada pendiriannya membuat ia begitu kecewa kepada sang menantu.
" Siapa yang memberimu izin untuk meninggalkan rumah ini." Tanya Reval, ia mulai menaiki volume suaranya.
__ADS_1
" Ayah yang memberikannya izin." semua tatapan langsung berpindah kepada Sanjaya.
" Dia istriku! ayah tidak berhak, mengatur rumah tanggaku."
" Selama kalian berada di rumah ini, ayah mempunyai hak meluruskan jalan serta menegur anak anak ayah! termasuk kamu. Bukankah dari awal ayah sudah pernah bilang! Adil kepada keduanya, tetapi kamu tidak pernah melakukannya, jangan salahkan Luna jika dia ingin pergi. Bukan kah tujuan kamu menikahinya, hanya untuk mendapatkan Restu saja! kamu sudah mendapatkannya. jadi untuk apa Luna disini." Ucap sang ayah tidak hanya melukai ego Reval saja, sebab kata kata itu juga begitu melukai perasaan Luna. Sekali pun Luna sendiri sudah tahu, entah kenapa mendengarnya langsung dari mulut ayah mertuanya terasa begitu sakit, bagaikan luka baru yang disiram asam cuka, pedihnya terasa sampai ketulang tulangnya.
" Pergilah nak! carilah kebahagiaanmu yang tidak pernah kau dapatkan selama menjadi menantu rumah ini." Tanpa banyak bicara Luna langsung berbalik dan melangkah keluar rumah itu sambil menyeret kopernya, ia menulikan telinganya dari panggilan Reval serta mamanya! karena air matanya tidak mampu ia bendung lagi, setiap langkah nya jatuh bersamaan dengan Air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya, sebegitu tidak berharganya dia di keluarga ini.
Disisi lain, Anita yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan mereka, mengusap perutnya. " Lihatlah nak! duri yang ibu takutkan, sudah disingkirkan kakekmu." ia terus mengusap perutnya, senyumnya pun tidak pudar sedikit pun. atas kemenangan yang ia dapat.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1