
" Ya Tuhan cobaan apalagi ini." Gumam Luna. ia benar benar syok dengan ucapan sang mama.
Kenapa hidupnya terasa begitu sulit! tidak bisakah ia bahagia walaupun hanya sebentar saja? apa dia bisa bersikap egois tapi apa yang akan terjadi jika ia tetap pada pendiriannya untuk tetap bercerai.
Apa dia akan kehilangan Abang yang selalu melindunginya selama ini? Luna kembali di hadapkan pada situasi yang sulit, ia ibaratkan buah simalakama. bertahan walaupun sakit yang akan ia terima atau pergi, jika ia siap merasa kehilangan lagi.
" Arrrggggh." Luna menjambak rambutnya sendiri. Untuk menangis saja rasanya Luna sudah lelah atau mungkin air matanya sudah mengering.
Cukup lama ia termenung, setelah di tinggal sang mama, sampai ada tangan yang menepuk pundaknya. seketika Luna langsung menengok kebelakang " Apa ayah mengganggumu." Luna menggeleng kepalanya, di sertai senyum kecil terbit pada belahan bibirnya.
" Ayah boleh duduk disini." tunjuknya pada tempat yang di duduki mama Lina beberapa saat lalu. Luna mengangguk, telalu canggung membuatnya lebih memilih diam. " Apa yang kamu lamunkan sejak tadi? sampai tidak sadar ayah ada di belakang kamu." Tanya Sanjaya lagi, sekedar basa basi. ia kini duduk di samping luna. Sebuah gelengan kembali ia persembahkan sebagai jawaban.
__ADS_1
Sanjaya menarik nafas dalam dalam kemudian mengeluarkan. " Boleh ayah memberi sedikit nasehat." Sanjaya terus mengajak Luna berbicara, walaupun sejak tadi menantunya itu hanya diam dan menjawab pertanyaannya dengan isyarat.
" Ya! mungkin itu yang Luna butuhkan saat ini." Ia sedikit menengok sang mertua sebelum kembali menundukkan kepalanya.
" Huuuff, astaga ayah dikit kamu marah sama ayah! makanya kamu diamin ayah."
" Kenapa Luna harus marah sama ayah? Apa ayah punya salah kepada Luna? tidakkah." Ucap Luna membuat Sanjaya terkekeh.
" Hidup tak selamanya indah, terkadang kita harus merasakan sakit yang teramat untuk menguji dimana batas kesabaran dan rasa syukur kita. Setiap jalan terjal, pasti memiliki ujungnya, tidak selamanya kita akan berada pada posisi yang sama! ada saatnya, semuanya akan berakhir entah itu indah atau tidaknya, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya. pandai pandai lah dalam menggunakan kesempatan, jangan sampai keegoisan berakhir dengan kata penyesalan. sebab dalam setiap rumah tangga, masalah itu biasa. jalan saja memiliki belokan, tanjakan, turunan terkadang terdapat jurang di kedua sisinya. apalagi sebuah hubungan, tawa, tangis itu biasa. cara untuk bahagia di antara rasa sakit begitu sederhana, cukup memaafkan di sertai ikhlas dengan semua yang terjadi. begitu katanya." Sanjaya mengakhiri ucapannya. Sebuah usapan kembali ia daratkan pada kepala sang menantu.
" Jika kamu binggung, tanyakan pada hati kecil kamu! apa yang dia inginkan! jangan bergantung pada orang lain, karena apa yang terlihat baik tidak menjamin itu baik, apa yang dikatakan benar, belum tentu benar juga! jangan jadikan patokan kehidupan orang lain untuk hidup kita, sebab kehidupan setiap orang berbeda beda begitu juga dengan masalah mereka! Ayah berkata seperti ini bukan untuk mengubah keputusanmu. Sebab semua keputusan ada di tanganmu."
__ADS_1
" Terima kasih Ayah."
" Sama sama! Ayah tahu, rencana bunda dan mama kamu. Jika soal biaya! bukankah kamu punya saham pemberian Zen? pakai itu untuk biaya pengobatan kakak kamu." Ucap sang mertua bagai angin segar untuk Luna.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.