
" Luna, Luna." Luna menghentikan langkah kakinya di koridor rumah sakit ketika ia mendengar namanya di panggil.
" Dokter Hasim." Gumamnya disertai kerutan di dahinya ketika ia menengok kebelakang dan mendapatkan dokter muda itu sedang berjalan kearahnya. " Iya Ada apa dok?" Tanya Luna.
" Bagaimana kabar Melly? Apa dia sudah lebih baik?" Semakin jelas Kerutan di dahi Luna." Memangnya Melly kenapa dok! Bukannya dia baik baik aja." Luna balik bertanya.
" Kamu tidak tahu Melly sakit?" Luna menggeleng kepalanya. Entah sadar atau tidak keduanya sejak tadi hanya saling bertanya dan tidak ada yang menjawab. Selain gelengan kepala dari Luna.
" Kemarin sore dia izin untuk ke rumah sakit dan belum pulang sampai sekarang, dia juga terlihat baik baik saja kemarin." Jelas Luna. Dokter itu tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya.
" Iya kemarin sore memang dia baik baik saja, tapi malamnya dia mulai.. " Hasim mulai menceritakan keadaan melly semalam sampai ia mengantarnya pulang.
" Tapi semalam Melly nggak pulang dok." Sahut Luna yang mulai cemas dengan keberadaan Melly yang entah ada dimana.
" Bagaimana bisa, saya sendiri yang mengantarnya dan memastikan dia masuk ke dalam rumah baru lah saya pergi Luna. Jadi itu tidak mungkin jika Melly tidak pulang." Dokter Hasim tentunya bingung dengan apa yang baru saja ia dengar sama halnya dengan Luna, keduanya tidak tahu saja bahwa saat ini Melly sedang di rawat di salah satu ruang VIP yang ada di rumah sakit ini.
Luna melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya." Dok, saya dulu ya! Nanti saya akan mengabari dokter kalau sudah mengetahui keberadaannya." Ucap Luna mengakhiri kebersamaan mereka di koridor rumah sakit itu.
Pagi tadi, setelah pembicaraannya dengan Reval, Luna tidak sempat mengecek Melly di kamarnya, sebab yang ia dengar dari mbak Tya kalau sahabatnya itu belum pulang. Bukan hanya itu, Reval juga tidak melepaskan sebelum ia memberi jawaban beruntung Reval masih mau mengizinkan dia untuk bekerja, kalau tidak pasti sampai saat ini Luna tidak tahu kalau Melly sakit.
Begitu Sampai Ruang Ginek, Luna langsung meletakkan tas dan mengisi Absen. Setelah itu ia duduk sambil mengotak atik ponselnya sebelum meletakkan benda pipi itu di telinganya. Ia langsung menghubungi mbak Tya untuk mengecek Melly di kamarnya dan seperti dugaan Mbak Tya Melly tak ada di sana. " kemana dia." Gumam Luna.
__ADS_1
" Luna Ayo." Teriak salah satu rekan kerjanya, yang mengajak Luna untuk bertukar ship dengan mereka yang ship pagi.
" Iya." Luna langsung menyimpan ponsel yang sejak tadi ia pegang di saku bajunya sebelum menyusul rekan rekannya yang telah lebih dulu bangsal bangsal dan kelas.
Untuk sejenak Luna harus Melupakan tentang Melly yang entah ada dimana.
...... 💋💋💋💋💋......
" Kenapa kamu masih disini?" Tanya Melly saat dirasa tubuh jauh lebih baik.
" Temani kamu lah apa lagi." Jawab Dion, membuat Melly tertawa penuh ejekan kepada mantan suaminya itu. " Kenapa tertawa apa ada yang salah dengan kata kataku?"
" Kamu tidak sadar, sikap kamu ke aku! Seolah olah aku wanita yang paling berharga untukmu tetapi pada kenyataannya kita berdua sama sama tahu aku adalah istri rasa simpanan untukmu." Melly menjeda ucapan." Kamu takut aku akan mati sehingga kamu mencoba menebus dosa mu kepada ku dengan cara seperti ini. Jika itu yang kamu pikirkan maka kau tidak perlu khawatir sakit seperti ini tidak akan membunuh ku, sebab sakit yang aku rasakan saat ini tidak sebanding dengan yang aku rasakan selama menjadi istri kamu." Sindir Melly. Dion tidak heran dengan kata kata ketus yang keluar dari bibir mungil mantan istrinya itu, Karena ia sudah terbiasa dengan Kata-kata pedas yang Melly ucapkan.
" Apa tidak bisa kita berdamai dengan keadaan dan memulai hubungan yang baik dari awal lagi." Tanya Dion dengan tatapan begitu serius dengan perkataannya.
" Haah, berdamai, memulai hubungan yang baik?" Tanya Melly, masih dengan tatapan mengejek serta tawanya. " Sebaiknya kamu tidak, karena bermimpi di saat kedua matamu terbuka itu tidak baik dan dapat merusak otak serta tubuhmu sama halnya dengan kebiasaan buruk mu itu. "
Suara Dion seakan tertelan dengan perkataan Melly, Lelaki yang tengah berdiri menatap mantan istrinya itu, Sedikit tersinggung dengan kata kata Melly walaupun ia membenarkan kata kata terakhir Melly.
Dion sadar, jika selama ini kebiasaannya itu salah dan bisakah ia di beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Dion tidak rela jika mantan istrinya, di milik oleh pria lain. Membayangkan saja membuat darahnya mendidih. Apalagi sampai hal itu Benar benar terjadi, mungkin Dion akan membunuh lelaki yang berhasil mendapatkan hati istrinya pada saat itu juga.
__ADS_1
Dion beranjak dari tempatnya, ia Menghampiri Melly, Kedua manik setajam elang itu, tengah mengamati wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat tetapi tidak mengurangi kadar kecantikannya. Sementara sang istri yang di tatap hanya bersikap acuh.
Tangan Dion terulur untuk mengusap pipi Melly tetapi langsung di tepis wanita itu. " Jangan menyentuhku dan sebaiknya kamu segera pergi dari sini." Usir Melly. Sungguh keterlaluan memang, malam dan pagi tadi ia masih memanggil lelaki itu dengan panggilan sayangnya kepada Dion,.Tetapi sekarang lihat lah.
Tidak ingin membuat suasana hati Melly Semakin buruk dengan kehadirannya. Dion memilih keluar dari ruang rawat mantan istrinya.
Setelah Dion keluar, Melly memanggil salah seorang perawat untuk memintanya memberitahu keberadaannya saat ini, Kepada Luna agar ibu dua anak itu tidak kalang kabut mencarinya.
............
.......
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy Reading.. 💋💋...
__ADS_1
...Jangan lupa Like dan Komen. 🙏👍...