
Sambil menunggu, Luna memesan makan dan minuman untuk mengisi perutnya. Rasa takut dan lelah membuat penghuni perutnya berdemo ria, minta untuk di isi. Setelah mengambil pesanannya Luna duduk dekat jendela agar dapat memudahkannya melihat kedatangan Anaknya mama Emma.
Tak lama berselang Makanan yang Luna pesan telah habis, tersisa tulang tulangnya saja, tetapi orang yang ia tunggu belum terlihat batang hidungnya juga, Luna meraih ponsel yang ia letakkan tepat di samping minumannya, membuka ponsel itu untuk melihat jam yang tertera pada layarnya. jam Dua lewat 24 menit, Tandanya sudah hampir satu jam Luna menunggu. Ia mulai di selimuti perasaan gelisah. Luna beberapa kali mengusap wajahnya.
Puukkk.
Sebuah tepukan di pundaknya, membuat jantungnya serasa berhenti berdetak, bulir keringat mulai memenuhi dahinya, kakinya lemas bahkan untuk berbalik saja rasanya Luna tidak sanggup.
" Kak Luna kan?" Ucap orang yang menepuk pundak Luna.
" Hhhmmmmmhhuuuff." Luna bernafas begitu lega ketika menyadari orang yang menepuk pundaknya adalah anak mama Emma. " Iya! kamu anaknya mama Emma." Tanya luna memastikan.
" Iya kak, Namaku Tirta." Jawabnya sambil mengulurkan tangan kepada Luna.
" Luna." Luna membalas uluran tangan Tirta.
" Kak Luna sakit ya?"
" Nggak kok! kakak baik baik aja."
" kakak yakin! soalnya wajah kakak pucat banget." Ucap Tirta sedikit khawatir.
" Iya nggak papa ko! kamu nggak usah cemas gitu." Tirta orangnya supel dan mudah mengakrabkan diri, sehingga ia tidak terlihat canggung saat berbicara dengan Luna.
" Benar ka Luna nggak papa nih! Tirta nggak mau loh disalahin sama mama, kalau sampai terjadi sesuatu sama kakak."
" Iya! Ya udah sini duduk dulu kakak traktir makan."
__ADS_1
" Nggak usah kak! soalnya kata mama kalau ketemu kak Luna langsung aja di antara ke mess rumah sakit."
" Oh gitu." Tirta mengangguk mengiyakan ucapan Luna.
Luna dan Tirta keluar dari tempat makan itu, menuju tempat parkir dimana Tirta memarkirkan mobilnya. Setelah masuk kedalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman, Tirta langsung melakukan mobilnya menuju rumah sakit.
Tepat jam 4 pagi mobil Tirta memasuki pelataran mess rumah sakit melalui pintu belakang.
" Makasih ya Tirta." Ucap Luna setelah turun dari mobil Tirta.
" Sama sama kak! Aku langsung balik ya."
" Iya! hati hati ya, jangan ngebut." Tirta memberikan hormat sebagai tanda ia mengiyakan permintaan Luna. Setelah memberi klakson Kepada Luna, mobil Tirta kembali melaju di jalan raya menuju rumahnya.
Luna melangkah menuju messnya, ia mengetuk pintu mess beberapa kali, tidak lama pintu mess, terbuka terlihat Dina keluar dengan muka bantal nya. " Astaga Luna." Seru Dina. " Kamu kemana aja dua hari ini! terus pipi sama pelipis kamu kenapa bisa memar gini." Tanya Dina dengan hebohnya.
" Besok aja ya Din, tanya tanyanya aku ngantuk banget nih." Ucap Luna menyelelonong masuk begitu saja tanpa menunggu Dina yang masih bingung dengan beberapa memar diwajahnya.
...💋💋💋💋💋...
Pagi itu sinar matahari masuk melalui celah gorden, mengusik tidur wanita yang baru Beberapa jam memejamkan matanya.
Tubuhnya menggeliat kesana kemari, menandakan ia begitu terusik dengan silaunya pacaran cahaya matahari pagi itu.
" Bangun Dulu Lun! kita sarapan sama sama." Ucap Dina sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Luna. " Ayo lun, kamu hutang penjelasan loh sama aku."
" Hmmm, Bentar lagi ya! aku masih ngantuk nih."
__ADS_1
" Nggak lun, Ini udah mau jam sembilan! jam sepuluh kamu harus menghadap kepala rumah sakit."
" Haaah apa?" Luna langsung terduduk mendengar Ucapan Dina barusan, Rasa kantuknya pun langsung meluap entah kemana.
" Kemarin salah, satu petugas cleaning servis mengantarkan Surat dari kepala rumah sakit untuk kamu! Aku rasa ada yang melapor deh, soalnya mama Emma juga di panggil." Jelas Dina.
" Ya Tuhan, kok bisa gini sih." Ucap Luna menjambak rambutnya sendiri. layaknya orang yang sedang frustasi.
" Jangan terlalu di pikirkan, Paling kamu cuma di tegur aja! sebaiknya kamu mandi deh terus kita sarapan sama sama."
" Tapi bagaimana kalau aku di pecat."
" Nggak mungkin Luna! di pecat itu ada prosesnya, ini rumah sakit negeri bukan swasta jadi jangan lebay." Ucap Dina, tetapi Luna masih diam membisu di tempatnya.
" Jangan kebanyakan mikir, sana mandi! terus kita sarapan sama sama. Menghadapi kenyataan juga butuh tenaga kali." Sambung Dina lagi, ia sedikit jengah dengan sikap Luna yang terlalu mendramatisir keadaan.
" Iya iya! bawel banget, udah kaya emak emak baperan aja." Sahut Luna, Ia langsung mengambil handuk setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setengah jam kemudian, Luna sudah rapi dengan Pakaian dinas putihnya, ia dan Dina duduk untuk menikmati sarapan bersama sebelum ia menemui kepala rumah sakit di ruangannya yang berada di lantai tiga.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍