
Seminggu telah berlalu setelah kepulangan Luna dan kedua anaknya dari rumah sakit. Reval pun masih senang tiasa menemani Luna.
Untuk Dina dan Nurul, mereka sudah kembali dari beberapa hari yang lalu. Sedangkan Reval mau dan tidak mau ia tetap bertahan, sebab ia ingin kembali bersama anak dan istrinya.
" Luna, kamu cutikan tiga bulan! sebaiknya kamu kembali ke Jakarta bersama suamimu dulu, begitu cutimu selesai kamu bisa kembali lagi." Bujuk Meli, ia sedikit kasian dengan Reval, sebab lelaki itu terlihat begitu kerepotan saat, melakukan meeting melalui sambungan video atau via online. karena lingkungan tempat mereka tinggal begitu ramai. " Kasian suami." Lanjutannya.
" Aku tidak memintanya untuk tinggal, lagian disanakan ada istri dan anaknya kenapa juga dia masih betah disini." Sikap dingin dan keras kepala Luna masih sama.
" Aku mungkin mempunyai anak lain disana, tetapi untuk istri, saat ini dan seterusnya hanya ada kamu." Sahut Reval, Ia yang baru saja, menyelesaikan meeting, tidak sengaja mendengar ucapan Luna dan meli.
Mendengar hal itu, meli langsung memberi kode, dengan melirik sekilas kepada Reval seraya mengedipkan matanya untuk Luna, dengan harapan ibu dua anak itu dapat luluh hatinya untuk sang suami. Sayangnya semua tidak segampang itu, sebab Luna hanya cuek.
Reval menjalan menghampiri mereka, ia kini duduk tepat di samping Luna, sedangkan meli duduk tepat di hadapan kedua pasangan yang belum akur itu.
" Besok aku harus kembali ke Jakarta, sebab ada beberapa kerja sama yang tidak bisa di wakilkan." Reval memberi tahu rencananya kepada Luna, berharap wanita itu berinisiatif untuk ikut dengannya, karena hatinya begitu berat meninggalkan mereka bertiga, apalagi tempat itu begitu jauh.
Seandainya kerja sama itu milik perusahaan sang ayah, Reval akan memilih menyerahkan tanggung jawab itu kepada ayahnya dan menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya. Sayangnya kerja sama itu milik perusahaan sang paman yang kini telah di wariskan sepenuhnya kepada dirinya membuat Reval tidak bisa menyia nyiakan amanat yang di berikan sang paman, apalagi ada ratusan anak pantai yang membutuhkan makan dari saham yang ada di perusahaan itu.
" Terus hubungannya sama aku apa?" Tanya Luna dengan santainya. Reval mendesah, ia sudah menduga luna pasti tidak akan mau ikut dengannya, sementara itu meli membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Luna.
" Apa kamu tidak ingin ikut denganku." Tanya Reval, Sekali pun Reval tahu Luna menolak, ia masih saja berharap.
" Nggak."
" Lun, aku pamit ya." belum sempat Luna menjawab, meli sudah lebih dulu berlalu dari hadapan mereka, ntah mengapa ia tidak menyukai sikap Luna kepada suaminya.
" Mel.. meli.." Panggil luna, tetapi tidak di hiraukan sahabatnya itu. " Dia kenapa sih, aneh banget."
...💋💋💋💋💋...
__ADS_1
Sesuai Ucapanya semalam, pagi harinya Reval benar-benar kembali ke Jakarta, sebelum pergi, Reval kembali bertanya, berharap Istrinya berubah pikiran tatapi sayang Luna tetap pada pendiriannya.
Baru sehari Reval pergi, Luna merasakan ada yang kurang, mungkin karena seminggu ini Reval menemani mereka setiap saat, tanpa di sadari, Luna mulai terbiasa dengan kehadiran suaminya itu.
Bukan hanya Luna, putri kecilnya pun merasakan hal yang sama, buktinya Ela terus saja menangis, padahal wktu telah menunjukkan pukul dua malam, segala cara telah lu lakukan, mulai dari menyusui sampai di timang timang tetap saja ia menangis. beruntung putra itu tidak ikut ikutan adiknya.
Tok tok tok.
Luna meletakkan Ela di ranjang, ia berjalan menuju pintu kontrakan, sebelum membuka pintu itu, Luna mengintip terlebih dahulu dari kaca jendelanya. terlihat pemilik kontrakan sedang berdiri menunggu ia membukakan pintu.
Ceklek.
" Dia kenapa lun, ibu dengar dari tadi ibu dengar anak kamu nangis terus." Ucap pemilik kontrakan.
Wanita itu duduk di ruangan yang di sekat untuk ruang tamu.
Sedangkan Luna, Begitu ia selesai menutup pintu! Luna kembali mengendong Ela. " Aku juga nggak tahu Bu." sahut Luna.
" Mana ada kaya gitu Bu."
" Kalau kamu nggak percaya coba, tutupi tubuh nya dengan baju suami kamu." Awalnya Luna ragu dengan saran pemilik kontrakan dimana ia tinggal, Tetapi Luna memilih untuk mencobanya sebab ia tidak punya pilihan, dari pada Ela terus menangis, tidak ada salahnya mencoba toh hal itu tidak akan melukai putrinya.
Bagaikan sebuah sihir, Ela langsung diam dan perlahan menutup kedua matanya, begitu Luna menutup sebagian badannya dengan baju sang papa.
" Ibu bilang juga apa! dia kangen sama papanya." Luna hanya tersenyum, menanggapi ucapan wanita paruh baya itu. " Ya sudah ibu pulang dulu, kamu istirahat sana." Luna mengangguk.
Begitu pemilik kontrakan itu pergi, luna langsung mengunci pintu dan membaringkan tubuhnya di samping kedua anaknya. ikut merajut mimpi bersama mereka.
Tiga hari telah balalu semenjak kejadian dimana Ela terus menangis, kini bayi itu hanya menangis sesekali karena ia demam, Luna pun telah membawanya ke dokter tetapi hasilnya tetap sama panas, Ela belum juga turun.
__ADS_1
" Luna sebaiknya kamu ikut suami kamu deh. Apa kamu nggak kasihan sama Ela." Saran Meli. " Lun, jangan keras kepala, cobalah beri dia kesempatan." Sambung meli lagi.
" Kamu saja tidak ingin kembali kepada suami kamu! terus, kenapa kamu meminta aku untuk melakukan hal itu." Tanya Luna.
" Lun, masalah rumah tangga kita itu beda. kasar main tangan itu persoalan sikap dan seiring berjalannya waktu, sikap seseorang bisa berubah, sedangkan yang di lakukan suami ku adalah selingkuh, mungkin benar suatu saat ia juga bisa berubah tetapi setiap ada kesempatan ia akan kembali melakukan hal itu, sebab selingkuh adalah penyakit, jika dia sembuh hari ini tidak menutup kemungkinan diia akan kambuh lagi." Meli menggenggam tangan Luna, saat wanita itu terlihat tidak terpengaruh dengan ucapannya. " Lakukan ini untuk putrimu, jangan egois karena itu dapat membuatmu menyesal." Luna memejamkan matanya. " sudah tiga hari dia sakit lun bahkan obat dari dokter pun tidak bisa menurunkan panas. " Desak meli, pada akhirnya Luna mengangguk.
" Aku akan menyusulnya, tetapi semua yang aku lakukan hanya untuk Ela."
" Iya aku tahu, Kamu mungkin bisa membohongi semua orang, tetepi kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri, sekeras apapun kamu membangun tembok untuk kamu dan dia, semua itu hanya sia sia, sebab dia telah menguasai relung hatimu ini hanya persoalan waktu, jika kamu tidak mencintainya Narendra dan Naela tidak akan pernah ada." sahut meli, walaupun sebagian besar Ucapanya hanya mampu ia ucapkan dalam hati.
Dugaan meli tidak salah sebab orang yang teliti akan berpikir sama seperti meli, jika Luna membenci Reval, ia pasti akan menatap tajam kearah suaminya itu, bukan menghindari tatapan suaminya.
.
.
.
.
Bersambung.
Sifat setiap orang berbeda, orang yang melihat hanya tahu mengajarkan tanpa tahu bagaimana rasanya berada di posisimu, untuk berdamai dengan keadaan itu butuh waktu terkadang kita harus egois untuk mengetahui kesungguhan mereka.
...Luna Yuliana Anastasia....
Happy reading..💋💋
Jangan lupa like..👍👍
__ADS_1
Dan vote seikhlasnya..🙏😘