
Mendengar permintaan Yoona, membuat Malvin tiba-tiba merasa kebingungan. Pria itu menatapnya dengan penuh heran sampai berusaha menghentikan langkah Yoona ketika melewati koridor rumah sakit.
"Ada apa, Malvin? Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Yoona.
"Katakan dengan sejujurnya padaku, Yoona. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Kenapa kau meminta kepada pria itu tadi untuk merahasiakan tentang keadaanmu. Hei, dia suami, kan? Suami mana yang akan tenang kalau mendengar kabar buruk istrinya? Tolong, jangan bohongi aku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Berusaha untuk terlihat baik-baik saja sampai Yoona tersenyum kecil, lalu ia berkata. "Ya ampun, Malvin. Kenapa malah ngamuk? Ayolah tidak ada rahasia apapun tentang diriku ataupun pernikahanku juga. Kau tidak perlu cemas."
"Sungguh? Tapi, kenapa aku merasa kalau raut wajahmu tidak berkata demikian? Senyuman kebohongan ini membuatku semakin curiga. Yoona, kita sudah dua tahun menjalin hubungan, dan kau berusaha untuk menipuku." Malvin memang begitu mengenal sosok mantan kekasihnya itu, bahkan hal kecil yang mungkin tidak disadari oleh Yoona sendiri.
Ingin segera berbohong, namun hati berkata lain. Yoona tahu jika Malvin merasa ada yang aneh, namun ia tetap tidak akan menceritakan segalanya.
Menarik nafasnya dengan perlahan sembari mengambil selang infus yang berada di tangan Malvin, lalu Yoona berkata setelah berusaha menguatkan dirinya. "Tolong, kita sebaiknya tidak perlu bertemu lagi, Malvin. Aku tidak ingin kau salah paham dengan keadaanku."
"Apa ini, Yoona? Kita sudah berjanji untuk berteman, bukan? Lalu ada apa denganmu? Kau sudah membenci diriku, begitu?" tanya Malvin dengan rasa yang tidak menduga.
"Ya, aku sudah membencimu, Malvin," sahut Yoona yang berusaha menatap. Tanpa ingin terlihat sedang berbohong.
"Tatapanmu itu? Bahkan dulu kau sama sekali tidak berani menatapku ketika sedang membohongiku, Yoona. Lalu sekarang kau benar-benar telah berubah." Malvin terlihat begitu kecewa.
"Keadaan yang sudah merubahku, Malvin. Keadaan juga yang sudah membuatku seperti ini, jadi tolong mengertilah sedikit. Kita bisa berteman, tapi tidak dengan mengetahui semua hal baik buruknya pernikahanku ini."
"Baiklah, lain waktu aku tidak akan lagi bertanya ataupun memaksa untuk dirimu bercerita. Tapi, Yoona, kau harus ingat satu hal. Pulanglah jika kau membutuhkan tempat untuk pulang, aku ada di sini untukmu."
"Tidak, Malvin. Aku sudah mempunyai rumahku, yaitu suamiku sendiri," jawabnya. "Walaupun rumahku telah karam saat belum berlayar, tapi aku belum lelah, dan entah sampai kapan aku akan lelah," batinnya.
"Ya, baguslah, Yoona. Namun, aku akan melihatmu dari jauh. Ya sudah ayo aku antar ke taman."
"Tidak perlu, Malvin. Rasanya aku tidak ingin pergi lagi."
__ADS_1
Penolakan tersebut membuat Malvin semakin sadar bahwa Yoona—nya sudah semakin memperlihatkan diri untuk harus menjauh. Mencoba menahan rasa kecewa, tetapi Malvin berusaha untuk terus tersenyum.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo aku antar kembali ke ruangan mu."
"Baiklah."
Saat keduanya berjalan, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Bahkan Yoona tidak lagi menatapnya sampai membuat Malvin perlahan berjalan mundur, hanya untuk ingin melihat reaksi dari mantan kekasihnya.
"Dulu kau paling tidak bisa aku tinggal meskipun selangkah, Yoona. Namun sekarang, aku berjalan mundur, kau tetap meninggalkan diriku pergi, bahkan tidak ingin menoleh untuk sekedar melihatku," gumam Malvin yang tanpa ia sadari meneteskan air matanya perlahan. Lalu ia berlari pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Berbeda dengan Yoona yang tiba-tiba menoleh ke belakang ketika mendengar Malvin berlari pergi meninggalkannya.
"Maafkan aku, Malvin. Aku tahu telah bersalah, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Mungkin dengan begini kau bisa mencari pengganti diriku, meskipun aku tahu raga kita akan selalu mengingat tentang dua tahun perjalanan yang lalu," lirih Yoona.
Di sisi lain, Jerrol masih belum pergi. Ia hanya menunggu di lobi depan. Melihat kepergian Malvin dengan mata yang memerah, membuatnya merasa heran.
"Apa mereka baru saja bertengkar?"
"Ya, halo, Erlan."
"Ada di mana kau sekarang? Apa kau lupa dengan tugasmu? Apa kau ingin aku turunkan gajimu?" tanya Erlan yang berusaha sedikit mengancam meskipun tidak benar-benar ia lakukan.
"Ayolah, brother. Aku akan pulang." Jerrol tahu jika Erlan sedang membutuhkan dirinya, meskipun ia sadar bahwa mereka seperti teman biasa, namun mengenai pekerjaan, tidak bisa disepelekan.
***
Saat Erlan menunggu kepulangan dari Jerrol, tiba-tiba ia melihat mobil lain yang memasuki pekarangan rumahnya. Kedatangan Alice membuat Erlan tidak beraksi apa-apa untuk hari-hari sebelumnya, namun tidak dengan saat itu. Erlan justru berjalan mendekat hanya demi untuk membuka pintu mobil wanita itu.
Melihat tindakan Erlan, seketika membuat Alice merasa kebingungan. Namun di dalam hati kecilnya, ia berteriak dengan penuh gembira.
__ADS_1
"Hai, Tuan Muda. Kau seperti sedang menunggu kedatanganku saja," sapa Alice sembari berjalan mendekat untuk hanya menyentuh tangan Erlan yang masih memegang pintu mobilnya.
Sentuhan kecil tersebut tidak Erlan hiraukan, justru ia merangkul Alice untuk masuk ke dalam rumahnya dengan penuh senyuman menggoda.
"Sebenarnya tidak. Aku hanya sedang menunggu kedatangan Jerrol. Biasalah dia suka sekali cari waktu luang."
"Meskipun begitu, dia juga terdekatmu, Tuan Erlan."
"Ya-ya kau benar sekali, Alice. Tapi, ngomong-ngomong jika tidak sedang di kantor sebaiknya panggil dengan namaku saja. Rasanya akan lebih baik," pinta Erlan dengan tiba-tiba. Padahal sebelumnya ia paling anti dipanggil oleh sekretarisnya itu tanpa sebutan Tuan.
Semakin membuat Alice tidak mengira bahwa setelah atasannya menikah, justru perubahan semakin meningkat. Terlebih saat menyadari sisi lembut dari pria itu, biasanya Erlan terlihat sangat arogan. Baik di perusahaan atau sekedar berpapasan.
"Um, ya baiklah, Tuan Erlan. Aahh ... maksudku, Erlan. Maaf, mungkin karena aku tidak terbiasa," sahut Alice yang sengaja. Bahkan ia berusaha membuat suaranya semakin terlihat seperti sedang mendesah.
"No problem. Ayo kita duduk dulu," ajak Erlan yang langsung mengajak sekretarisnya itu duduk berdampingan. Biasanya hanya dirinya yang boleh duduk, tetapi wanita itu berdiri.
"Terima kasih banyak, Erlan. Namun, aku sama sekali tidak melihat istrimu. Ada di mana dia sekarang? Maaf, tapi aku ingin mengenalnya," tanya Alice yang sengaja ingin memancing kebohongan.
Pertanyaan tersebut membuat Erlan terdiam. Ia mulai berpikir dengan tenang untuk harus menceritakan semuanya atau tidak, namun ia memilih untuk tidak.
"Dia sedang tidak ada di rumah. Entahlah, aku pun tidak tahu dia pergi ke mana karena itu bukan urusanku," sahut Erlan dengan santainya.
"Oh ... begitu. Ya sudah berarti aku bebas dong berlama-lama di sini, Erlan."
"Ya, tentu saja, Alice. Kau bisa bebas menemaniku di sini."
"Ya ampun, sikapmu hari ini sangat manis, Erlan. Kau tahu? Saat hari ini kau libur kerja, tapi aku kesepian di sana," goda Alice sembari terus memandang dan tangannya mulai menggenggam erat. Ia bahkan dengan sengaja bersandar di atas bahu pria itu.
"Oh ya? Jadi, kau kesepian, ya? Aku juga merasa bosan ada di rumah ini, Alice."
__ADS_1
"Itu artinya sebaiknya kita ... Erlan, apa kau mencintaiku?" tanya Alice yang mulai semakin berani untuk menyentuh pipinya Erlan.