Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Curiga


__ADS_3

"Dia itu sangat baik dan bersikap dewasa, dan aku merasa bersyukur karena takdir sudah membawamu bersamanya. Hanya perlu satu langkah lagi agar bisa mendapatkan restu darimu, Malvin. Mama berharap supaya kau bisa memenuhi keinginan kecil ini, Nak."


"Baiklah, Ma. Tapi, katakan dulu padaku, siapa dia, Ma? Bagaimana karakternya dan juga siapa keluarganya? Apa keluarganya itu juga sudah mengetahui tentang hubungan kalian?" tanya Malvin dengan sangat tergesa-gesa dan sedikit cemas.


"Belum, tapi dalam waktu dekat dia akan memperkenalkan Mama kepada keluarganya itu. Kau pasti mengenalinya, Malvin. Karena calon papa barumu itu adalah Pak Agra."


"Tunggu dulu, Ma. Maksudnya Pak Agra Witton, atasanku sendiri? Sungguh dengannya, Ma?"


"Ya, itu dia. Kau sudah sangat mengenalinya, Malvin. Dengan sengaja Mama meminta agar kau selalu diterima dengan baik di dalam perusahaannya itu, meskipun dia bilang jika sekarang perusahaan itu telah diwarisi untuk putra pertamanya," jelas Mama Geisha.


Keputusan yang buruk, dan membuat Malvin semakin tidak menduga bahwa dia akan menjadi saudara tiri dari Erlan, dan sekaligus paling tidak ia sukai.


Malvin segera melangkah pergi tanpa memberitahukan kepada ibunya, namun tindakannya itu, mampu membuat Mama Geisha merasa terheran. Hingga berusaha menyusul putranya.


Memegang pundak Malvin dengan perlahan sembari bertanya. "Apa kau marah setelah mendengarnya, Nak? Mama dan Om Agra sudah memiliki hubungan selama lima bulan. Kami rasa kalau kamu sudah sama-sama cocok."


"Bukan aku mempersalahkan tentang hubungan kalian berdua, Ma. Lagi pula aku senang karena sekarang Mama sudah kembali menjalankan hidup dengan baik tanpa merasa sedih dengan mendiang papaku, tapi apakah harus dengan orang itu? Tidakkah Mama tahu kalau Pak Agra adalah ayah kandung dari Erlan. Tentu saja itu masalah, tapi Erlan sekarang menjadi suami Yoona. Bagaimana mungkin dia bisa menerima dirimu dengan baik?" tanya Malvin yang sedikit merasa kesal dan tidak ingin ibunya tersakiti.


"Apa? Jadi, Erlan itu suaminya Yoona. Tapi, Mama sungguh tidak tahu kalau suaminya Yoona itu anak dari calon papamu. Bahkan dia sendiri tidak mengatakannya padaku."


"Itulah masalah, Ma. Aku memang tidak akan melarang dan pastinya akan mendukung demi kebaikanmu, Ma. Namun, aku tidak tahu apakah Erlan akan melakukan hal yang sama atau tidak. Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Aku tidak mau Mama sampai menjadi bahan hinaan mereka."


"Percayalah, Malvin. Mama yakin kalau Erlan tidak akan seperti itu, apalagi dia sudah menjadi seorang pemimpin yang bijak. Kau jangan khawatir, ya. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi," sambung Mama Geisha demi bisa menenangkan hati putranya.


"Walaupun begitu, tapi aku masih tetap tidak tenang, Ma. Apa aku harus senang atau bersedih karena masalah ini."


"Tentu saja kau tidak perlu melakukan apapun, cukup mendukung Mama saja, Malvin. Ya sudah, kalau memang hari ini tidak mau ke kantor, lebih baik urus usahamu yang lainnya. Mama akan berangkat ke pasar hari ini, sambil menyapa beberapa tetangga baru kita."

__ADS_1


Mama Geisha melangkah pergi, tetapi Malvin masih terus memikirkan tentang keputusan ibunya untuk menikah lagi. Rasanya sangat sulit menerima semua itu, terlebih Erlan telah menjadi saingannya dalam urusan Herlin.


"Walaupun aku tidak bisa menentang akan keputusan Mama, tapi sepertinya aku bisa meminta seseorang untuk menjaganya saat nanti Mama telah menjadi bagian keluarga Pak Agra," gumam Malvin seraya melangkah pergi menuju rumah Erlan.


Ketika samping, Erlan tidak melihat keberadaan Yoona, tetapi justru seorang wanita datang menghampirinya.


"Mau cari siapa?" tanya Emma yang saat itu sedang menghias ruang tamu.


"Apa Yoona ada di dalam?"


"Kak Yoona sedang di dapur, tapi katakan saja padaku. Apa keperluanmu untuk mencarinya?" Terlihat sedikit memaksa, namun Emma sebenarnya hanya merasa penasaran.


"Maaf, tapi aku hanya ingin berbicara dengan Yoona karena ini menyangkut dirinya. Tolong panggilkan Yoona untukku sebentar."


"Baiklah." Emma memilih pergi, namun baru beberapa langkah ia sudah memikirkan sesuatu. "Siapa pria tampan itu? Tapi, aku tidak menduga kalau Kak Yoona meminta pria lain untuk datang ke rumah suaminya sendiri. Lebih baik aku mendengar pembicaraan mereka nanti."


"Untukku?" Yoona merasa tidak percaya.


"Tidak mungkin untuk seekor ular, kan?" ketus Emma dengan begitu saja.


Sikap Emma semakin terang-terangan memperlihatkan rasa tidak suka terhadap Yoona, namun itu tidak membuat Yoona peduli.


"Loh? Malvin? Apa aku meninggalkan sesuatu di rumahmu sampai kau datang ke sini mencari ku?" tanya Yoona yang sedikit terheran.


"Tidak. Melainkan ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, apa kita bisa berbicara berdua? Tapi, jangan di rumah ini karena ini sangat penting sekali."


"Baiklah. Sebentar, ya. Aku akan mencuci tangan dulu karena tadi aku sedang memasak."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu."


Diam-diam Emma mengintai dan mendengar pembicaraan mereka, hingga membuatnya semakin curiga dengan apa yang ingin dibicarakan.


"Rahasia sekali. Aku bahkan tidak kenal pria itu, apa sebaiknya aku perlihatkan wajahnya kepada Kak Alice saja? Dia mungkin mengenalinya," batinnya lalu segera mengeluarkan ponsel tanpa menunggu lama.


Mengambil sebuah rekaman saat Yoona berjalan ke arah Malvin, dan pria itu sampai membuka pintu mobil tepat di hadapan depan rumah Erlan.


"Lebih baik aku kirimkan ini kepada Kak Alice, agar Kak Erlan bisa melihat kelakuan istrinya saat tidak ada di rumah."


***


Alice yang sedang duduk diam sembari sejak tadi mengotak-atik ponselnya, tiba-tiba ia merasa sangat senang hingga sebelah pipinya terlihat tersenyum.


"Berani sekali Malvin sampai menjemput Yoona langsung di rumah Erlan. Jadi itu artinya Erlan dan Yoona sama-sama dengan terang-terangan memiliki pasangan lain, baguslah. Ini akan menjadi kesempatan untukku, dan terima kasih untukmu, Emma," batin Alice yang terlalu bergembira saat menonton hasil rekaman itu.


"Um, Erlan. Kau lihat ini sekarang. Emma baru saja mengirimnya padaku, sepertinya dia hanya ingin memperlihatkan hal ini dengan kakaknya saja pikiranmu terbuka."


"Rekaman siapa itu?" Erlan menghentikan mobilnya agar bisa lebih leluasa. "Erlan? Sungguh? Dia sampai datang langsung ke rumahku. Itu artinya mereka-"


"Aku bisa menduga kalau pikiranmu sama denganku, Erlan. Sepertinya mereka masih memiliki hubungan yang sangat baik. Lagi pula itu hal yang umum, bukan? Apalagi ketika sudah menjadi kekasih dalam waktu yang lama, pasti kenangan itu tidak akan dapat terlepas begitu saja," timpal Alice dengan cepat meskipun Erlan belum menyelesaikan ucapannya.


Membuat pikiran Erlan mulai mempercayai, apalagi setelah mengingat saat Malvin yang membela diri dengan terlalu keras demi bisa menemukan Yoona di dalam hutan.


"Kau benar sekali, Em. Aku rasa mereka diam-diam masih memiliki hubungan khusus, tapi aku tidak mengerti kenapa sampai Yoona meminta untuk dijemput langsung di rumahku. Apa Yoona tidak memikirkan tentang nama baikku? Dan juga harga dirinya sebagai seorang putri dari perusahaan besar. Sepertinya aku harus kembali ke rumah." Terlihat Erlan sudah begitu percaya.


"Ets ... tidak perlu, Sayang. Kita tidak perlu bolak-balik hanya karena ingin tahu hal itu, apalagi rekaman ini sudah menunjukkan segalanya, bukan? Jadi, aku rasa sebaiknya sekarang kita harus segera ke kantor. Kau tidak lupa dengan rapat penting kita, kan?"

__ADS_1


__ADS_2