
Episode 141 : Kenapa kalian tidak menyesal?
.
.
"Ibu? apa yang Ibu lakukan?" Edgar tentu langsung menanyai Ibunya.
Tetapi saat itu, Camelia hanya diam saja dan langsung menatap ke arah Aluna kemudian ke arah Freya dan Marin.
"Apa yang kalian lakukan?! cepat BERLUTUT!" geram Camelia dengan wajah yang sangat serius.
Freya dan Marin yang mendengar itu terperanjat dan segera berlari ke arah Aluna dan berlutut.
"Aluna ... maafkan saya, saya bersalah, saya tidak akan mengulangi nya lagi, maafkan saya Aluna ..." Freya menangis dan berlutut di bawah kaki Aluna.
Begitu juga dengan Marin, dia juga menangis dan berlurut di hadapan Aluna.
"Tolong maafkan saya Aluna, saya berjanji tidak akan mengganggu mu lagi, tolong maafkan saya ..."
Ini adalah pertama kalinya Aluna melihat Marin menangis dan memohon ampun seperti itu.
Edgar yang melihat kedua orang itu kelihatannya membuat istri tidak nyaman segera menarik tangan istrinya dan membuat nya berada di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Apa-apaan kalian berdua? membuat istriku tidak nyaman! manusia menjijikkan seperti kalian seharusnya mati saja!" geram Edgar dengan tatapan yang begitu mengerikan.
Dia tidak akan lagi bisa melihat kedua orang ini mengganggu istrinya lagi.
"Huhu ... tidak, tidak ... maafkan kami Tuan, kami bersalah ..." Freya dengan kedua telapak tangan saling bergesekan sebagai bentuk permohonan ampun.
Dia menangis tersedu-sedu.
"Sayang ... tidak perlu dengarkan mereka ..." Edgar sama sekali tidak menggubris Marin dan Freya, bahkan Edgar membalikkan badannya dan mengusap kedua pipi istrinya.
"Aku tidak mau kau bermimpi buruk apalagi trauma karena mereka yang tidak pantas ini, jangan dengarkan mereka ya ... aku akan membereskan mereka untuk mu ..." bisik Edgar sungguhlah ketakutan jika saja istrinya benar-benar memiliki trauma seperti yang diperingatkan oleh dokter saat lalu.
Aluna yang sedang terdiam sembari mencengkeram tangannya, matanya melihat ke arah Marin dan Freya ...
"Freya! apakah kau belum cukup merebut seseorang yang berharga bagiku dulu? apakah belum cukup menghina ku dan mengolok-olok ku di belakang ku?"
"Marin, apakah belum cukup menghinaku setiap hari, dan menginjak-injak harga diriku?"
"Kenapa kalian berdua sangat senang membuat ku menderita, kenapa kalian menjebak ku dengan cara yang sangat mengerikan!"
"Bukankah aku sudah memperingati kalian di tempat itu, jika kalian akan berlutut di bawah kakiku!"
"Tetapi, sekarang setelah melihat kalian berlutut pun aku bisa merasakan bagaimana kalian tidak merasa bersalah, kalian hanya ketakutan!"
__ADS_1
"Kalian tidak merasa bersalah karena sudah menjebak ku dengan begitu kejam nya! memangnya apa salahku? apa menjadi miskin dan tidak memiliki kedudukan adalah sebuah dosa?"
"Kenapa kalian melakukan hal sekejam itu untuk menjebak ku? jika saja suamiku tidak datang saat itu, aku mungkin akan mati sekarang! dan kalian pasti akan lega dan senang jika itu terjadi kan?"
Aluna berteriak, dia menangis dengan sangat hebat, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua orang itu sama sekali tidak merasa bersalah kepadanya.
Hanya merasa ketakutan kepada Camelia dan suaminya saja.
Edgar yang melihat tangisan istrinya tentu saja tidak terima, hatinya menjadi sakit dan dia langsung memeluk istrinya yang sedang menangis itu.
"Ssshhh ... sayang, tenanglah ... ada bayi kita di dalam dirimu, aku tidak ingin kau dan bayi kita terluka, katakan saja apa yang harus aku lakukan? haruskah aku membunuh mereka?"
"Katakan saja sayang, maka aku akan melakukan nya untuk mu ..." bisik Edgar memeluk istrinya dengan sangat kencang.
Tangannya gemetaran dan setiap tetesan air mata istrinya membuat hatinya seolah tercabik.
Mata Camelia melebar saat melihat itu, dia terkejut.
"Sejak kapan putra ku ketakutan hanya karena melihat orang lain menangis? wanita ini benar-benar berbeda dengan Fiona!"
Benak Camelia menyaksikan sendiri, bagaimana Edgar jauh lebih khawatir kepada istrinya dibandingkan dirinya sendiri.
Karena Camelia tahu jika putranya menderita trauma yang sangat berat, tetapi sekarang dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Edgar menyayangi Aluna lebih besar dari dirinya sendiri.
__ADS_1