Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Sadar Diri


__ADS_3

"Aku memang akan sadar diri, Mas. Tapi, bisakah kau menepati janjimu untuk kita menjenguk mamaku? Sudah lama aku tidak melihatnya."


"Dengar, Yoona. Pekerjaanku bukan hanya untuk menemanimu menjenguk ibumu, tapi masih ada urusan lain yang jauh lebih penting. Mungkin aku sudah berjanji, tapi itu agar kau bisa pulang denganku dari rumah sakit. Maka sekarang pergilah sendiri. Kakimu juga masih utuh, kan?" Secara terang-terangan Erlan menolak, tanpa sedikitpun ada rasa kasihan setelah ia mengucapkan kata tidak mengenakkan untuk didengar.


"Jadi ... karena itu kau mau mengiyakan permintaanku, Mas? Berarti setiap kali aku ingin bantuanmu, harus ada timpal balik yang bisa aku berikan untukmu. Baiklah, Mas Erlan. Lain kali aku tidak akan meminta bantuanmu. Tidak apa, pergilah dan urus pekerjaanmu saja. Aku bisa melakukannya sendiri," sahut Yoona yang berusaha untuk tetap kuat.


"Jika kau sadar bisa melakukannya sendiri, maka tidak perlu minta bantuan dariku. Apapun itu kau memang harus melakukannya sendiri, Yoona. Karena pernikahan ini bagiku hanya tertulis di atas kertas. Maka lebih baik sadar akan posisimu itu jauh lebih berarti."


Erlan segera melangkah pergi, meskipun Yoona belum menyahut ucapannya. Namun pria itu kembali meninggalkan istrinya seorang diri dengan hati yang hancur.


"Kau benar sekali, Mas Erlan. Aku seharusnya tidak perlu meminta hakku agar kau pedulikan, meskipun aku heran dengan pernikahan kita. Kau mungkin bisa menyebut pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi hakku sebagai seorang istri telah kau renggut. Bahkan kesucian ini telah aku persembahkan untukmu. Sungguh, aku semakin membingungkan," gumam Yoona sampai membuatnya terduduk di lantai dengan air mata yang kembali menemaninya.


Tanpa hentinya air mata terus mengalir deras, dalam suara tangisan yang tidak bisa ia keluarkan. Terasa sangat menyulitkan ketika bernafas, namun Yoona berusaha untuk tetap tenang meskipun tak kuasai batinnya merasakan derita.


Pintu kamar yang lupa ia kunci sebelum suaminya pergi, membuat Emma secara diam-diam mengintip ke dalam kamarnya. Tepat ketika melihat Yoona menangis, adik kandung Erlan segera membuka pintu begitu lebar. Gadis itu terkejut dan merasa bimbang.


"Ada apa denganmu, Kak? Apa Kak Erlan menyakitimu?" tanya Emma dengan tiba-tiba sembari ia berjalan mendekat.


Mendengar kedatangan tamu tak diundang, membuat Yoona segera menghapuskan air matanya. Namun, rasa sakit yang sungguh berat, membuat Yoona tak kuasa menahan diri ketika melihat seseorang bertanya tentang dirinya.

__ADS_1


Tidak ia jawab, namun Yoona tiba-tiba memeluk tubuh Emma yang seolah-olah ingin mengadukan semua derita yang ia terima. Begitupun dengan Emma yang hanya terdiam saat tubuhnya dijadikan tempat menangis. Ia membalas pelukan tersebut.


"Entah apa masalah mereka berdua, tapi aku yakin sekali bahwa ada masalah besar yang sudah mereka sembunyikan dari keluarga. Namun, aku tidak mungkin memaksakan kakak ipar untuk menceritakan semuanya, jika saja dia tidak mau. Sebaiknya aku harus menjadi teman terbaik supaya bisa mengetahui semua masalah di rumah ini," batin Emma dengan akal liciknya yang mulai berjalan.


Hampir lima belas Yoona terus memeluk Emma dalam tangisannya, lalu ia mulai merasa sedikit lega.


"Maaf karena sudah memelukmu dengan tiba-tiba, Emma." Yoona berucap sembari mengusap kedua pipinya. Ia sampai berusaha untuk bisa memberikan senyumnya indahnya.


Mencoba untuk tidak menghakimi orang lain, Emma memegang kedua bahu Yoona dengan memperlihatkan wajah yang sangat ramah, ia lalu berkata. “Tidak apa-apa, Kak. Aku juga adikmu karena kau menikah dengan kakak tertuaku. Artinya kita sudah menjadi keluarga. Jika kau ingin bersedih, aku siap mendengarnya."


"Terima kasih banyak, Emma. Aku pikir kita bisa kembali menjadi teman, tapi tolong jangan beritahukan kepada Mas Erlan dan Papa Agra tentang tangisanku ini. Mereka pasti akan mencemaskan diriku," pinta Yoona.


Membuat Yoona tertawa saat melihat kebaikan yang Emma berikan. "Tidak perlu begitu, Emma. Aku menangis bukan karena kakakmu. Hanya saja ... aku merindukan mamaku. Terlebih setelah menikah seorang wanita akan pasti memilih ikut bersama dengan suaminya, dan aku pun mengkhawatirkan tentang keadaan mamaku."


"Sebaiknya Emma tidak boleh tahu kalau hatiku begitu sedih karena semua ucapan dari kakaknya. Bahkan aku harus sadar diri kenapa suamiku sendiri," batin Yoona yang berusaha tetap tegar dan tidak ingin keluhannya di dengar siapapun juga.


Pelan-pelan Emma mengusap air mata yang masih perlahan mengalir dari wajah Yoona, lalu berkata. "Aku pun akan merasakan hal yang sama saat aku menikah nanti, Kak. Sudah pasti aku akan merindukan keluargaku ini. Namun, jika kau rindu dengan mamamu, kenapa tidak menemuinya saja? Apa Kau Erlan tidak ingin menemaninya? Jika begitu, kau bisa mengajak ku pergi."


"Bukan begitu, Emma. Mas Erlan sangat mau temani aku, tapi dia sedang banyak pekerjaan. Jadinya, aku tidak bisa memaksa. Lagi pula aku bisa pergi sendirian. Kau baru pulang, dan pasti lelah. Istirahat saja di rumah," tolak Yoona yang tidak ingin merepotkan siapapun.

__ADS_1


"Baiklah, Kak. Jika kau tidak mau, maka aku tidak akan memaksamu. Hanya saja ... aku merasa bingung saat kau menyebut kakakku dengan sebutan Mas Erlan. Bukan apa-apa, tapi jujur saja kau belum pernah memanggilnya seperti itu, Kak. Bahkan panggilan kalian berdua begitu aku kenal. Apa ini panggilan barumu?" Emma merasa sedikit berbeda.


Membuat Yoona dengan terpaksa terdiam, ia berusaha untuk tidak gugup ketika mendengarnya.


"Tentu saja, Emma. Ini panggilan barumu ketika kami sudah menikah. Lagi pula aku tidak akan mungkin melupakan panggilan indah dariku di masa lalu kami dulu," sahut Yoona.


"Benarkah? Tapi, Kak Yoona. Kau memangilnya mas seperti aneh sekali. Biasanya kau memangilnya Baby dan kakak memanggilmu Sweetie. Meskipun awalnya aku merasa jijik saat mendengar kalian, tapi aku merasa itu unik karena bisa membuat hubungan semakin dekat." Emma yang bisa mengucapkan apapun dalam keinginannya, ia gadis yang sangat sulit di atur ketika mulutnya sudah ingin berbicara.


"Jadi, panggilan Kak Fiona dulu adalah Baby. Pantas saja dia selalu ceria ketika sudah mendapatkan panggilan dari Mas Erlan. Tetapi sudahlah, aku tidak ingin membuat Yoona semakin curiga denganku," batin Yoona.


"Um, begitulah, Emma. Semakin usia hubungan itu bertambah, maka sama seperti sebuah kedewasaan seseorang. Akan semakin pula dia dewasa dalam berpikir. Tapi sebelumnya, kepalaku terasa pusing, bolehkah kalau aku tidur sebentar?"


"Oh, tentu saja, Kak. Kau bisa langsung tidur. Aku akan ke luar sekarang."


"Maaf, Emma. Tapi, nanti kita akan bicara sampai besok pagi berikutnya juga aku tidak akan bermasalah. Kau juga beristirahatlah."


"Pasti, Kak. Sampai nanti." Yoona segera berjalan ke luar setelah ia melambaikan tangannya.


Senyumannya seketika menghilang setelah keluar dari pintu kamar itu. Ia terlihat kesal dengan raut wajah yang datar.

__ADS_1


"Bahkan dia sangat serius, dan aku mulai merasa kalau dia sudah berubah. Ucapannya juga tinggi sekali, padahal dulu Kak Fiona selalu bercanda dan memberikan aku waktu bebas seharian hanya curhat tentang hal bodoh dengannya, namun kini ucapannya lebih banyak melebih ibuku sendiri. Jadi malas berurusan dengannya sekarang," keluh Emma dengan sangat pelan.


__ADS_2