Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Takdir


__ADS_3

"Aku tidak mau, Mas Erlan. Aku tidak bisa kehilangan dirimu. Tolong cintai aku walaupun sedikit saja." Yoona meminta dengan penuh permohonan.


Tetapi, Erlan masih tetap tidak berubah pikiran. "Aku tidak peduli meskipun nanti kau akan menangis atau keluargaku yang akan marah, sebaiknya perceraian adalah yang terbaik. Bahkan perjanjian dua tahun dengan Papa Agra tidak akan pernah lagi aku pedulikan."


"Tapi, kenapa harus bercerai, Mas? Tidakkah sebaiknya kita bicara hal ini baik-baik? Lagi pula, apa kekurangan diriku? Aku cantik, dan aku juga memberikan pelayan yang baik. Meskipun aku tahu kau hanya menyukai tubuhku saja, tapi setidaknya kita bisa bertahan, Mas."


"Apalagi aku merasa takut jika seandainya nanti anakku lahir tanpa dirimu, Mas Erlan," batin Yoona.


"Kenapa kau sangat bersikeras untuk terus bersama denganku, Yoona? Kekasihmu—Malvin ada di depan, jadi lebih baik pergilah dengannya untuk melanjutkan hidup kalian. Sudahlah, Yoona. Jika dua hari yang terlalu keras dipaksakan akan membuat kita sama-sama tidak bahagia. Terlebih wajahmu ini terus membuatku teringat dengan tunanganku. Kau tahu? Bagaimana sakitnya itu? Jika tidak mengerti, setidaknya jangan menambah rasa sakit orang lain lagi," jelas Erlan dengan keputusannya yang sudah bulat.


"Pertama kamu meninggalkan diriku di hutan sendirian, Mas. Lalu sekarang ingin berpisah dariku. Sepertinya memang aku yang terlalu salah sudah mengharapkan banyak hal darimu, Mas Erlan. Harusnya aku tahu betapa tidak pentingnya diriku untukmu. Tapi baiklah, aku akan perlahan mencoba mengerti dengan sikapmu ini. Semoga kamu cepat sembuh, Mas Erlan," sahut Yoona yang hanya bisa pasrah.


"Jika kau sudah mengerti, maka sekarang pergilah dari sini," usir Erlan sembari mengalihkan pandangannya.


Tak kuasa menahan diri dengan rasa kekecewaan, membuat Yoona keluar dari kamar itu dengan cepat. Terlihat Alice yang tersenyum senang saat melihat mata Yoona yang memerah.


"Ternyata dugaan ku tidak salah. Mereka tidak akan bisa bersatu," gumam Alice.


Yoona berlari pergi keluar dengan berjalan kaki, tindakan itu membuat Jerrol terheran. Ia mengikuti Yoona dengan cepat.


"Berhentilah sebentar, Nona Yoona. Apa kau ingin pulang? Jika ya, aku bisa mengantarmu sekarang," tanya Jerrol, tetapi wanita itu sama sekali tidak berhenti berjalan.


"Aku tidak ingin apapun, Jerrol. Sebaiknya jangan ikuti aku," sahut Yoona lalu berlari dengan cepat.


Meninggalkan Jerrol dalam kebingungan, namun pria itu memilih untuk mengambil mobilnya. "Sepertinya sudah terjadi sesuatu. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi dalam keadaan sedih seperti itu."

__ADS_1


Dengan penuh kesabaran Jerrol terus mengikuti Yoona dengan perlahan. Hingga akhirnya ia kesal dengan sikap keras kepala wanita itu.


Menarik tangan Yoona untuk masuk ke dalam mobilnya. "Tenanglah di sini dulu, dan ceritakan apa masalahmu, Yoona? Anggap aku seperti temanmu, bukan tangan kanan Erlan atau apapun itu. Katakan kau sebenarnya mau ke mana?"


"Aku akan pulang ke rumah Tante Rega."


"Tunggu dulu? Maksudnya ke rumahmu sendiri? Tapi, suamimu ada di sini, Yoona. Bagaimana kalau sampai Erlan dan keluarganya mencari mu nanti?"


"Mereka tidak akan mencari ku."


"Astaga ... tidak mungkin mereka tidak mencari mu, Yoona. Kau istrinya, dan Pak Arga menyukaimu. Sebaiknya kembalilah denganku."


"Papa Agra akan mencari ku jika itu Fiona, tapi aku bukan dia, Jerrol. Mengertilah sedikit, Mas Erlan juga tidak akan menerima diriku lagi karena dia sudah memintaku untuk pergi. Meskipun sekarang aku sedang mengandung anaknya," sahut Yoona yang sudah tidak sanggup menahan diri untuk bersabar.


"Apa? Jadi, kau hamil?" Jerrol terkejut dan tidak menduganya.


"Entahlah, Yoona. Tapi sebaiknya, ikutlah denganku dulu. Aku akan membantumu, Yoona. Tapi, kau jangan nekat untuk pulang ke rumahmu karena aku merasa jika Tante Rega itu diam-diam memiliki rahasia. Apalagi setelah dia memberikan jalan yang salah, bahkan pembunuh bayaran datang. Erlan sudah menceritakan semuanya tentang kalian yang bertemu dengan penjahat di hutan itu."


"Tapi, bagaimana mungkin bisa? Tante Rega ingin mencelakai diriku? Ayolah, Jerrol. Kau mungkin sudah salah menduganya, atau karena mendengar cerita sepihak dari Mas Erlan. Apalagi Tante Rega tidak akan melakukan semua ini pada keponakannya sendiri, kan?"


"Apapun itu memang aku belum bisa memberikan bukti padamu, Yoona. Tapi, Erlan sudah memintaku untuk menyelidiki kasus ini. Sebaiknya sekarang pulanglah ke apartemenku karena aku tidak ingin kau terluka, urusan kehamilan ini akan aku urus sendiri. Tenanglah, kali ini aku akan ikut membantumu juga," sahut Jerrol dengan janjinya.


"Jerrol, sebaiknya tidak perlu. Aku takut kalau Mas Erlan berpikir kau sudah mengkhianatinya dengan membantuku. Sebaiknya biarkan aku pulang ke rumah."


"Jangan keras kepala, Yoona. Duduklah dengan tenang sekarang." Jerrol terus memaksa hingga ia berusaha cepat memasangkan sabuk pengaman agar Yoona tidak semakin mengeluh.

__ADS_1


Perjalanan mereka pun tiba di sebuah apartemen yang hanya memiliki sebuah kamar, dan termasuk kecil untuk ukuran dua orang. Namun untuk sementara, Yoona memilih untuk tetap di sana.


"Maaf kalau tempatnya terlalu kecil dan sangat sederhana, Yoona. Tapi, di sinilah rumahku dulu sebelum aku pindah ke rumah Erlan. Untuk beberapa waktu tinggallah di sini, nanti aku akan membawa barang-barang yang kau butuhkan ke sini, dan ini ada sedikit uang dariku. Ambilah dan jangan anggap hutang. Ini hanya bantuan dariku sebagai temanmu."


"Tapi, ini sudah terlalu banyak, Jerrol. Kau sudah begitu banyak membantuku."


"Aku harap kau tidak menolaknya, dan ini nomor kuncinya. Kalau begitu aku pulang dulu, nanti aku akan mengabari mu lagi," desak Jerrol tanpa mau tahu.


"Ya sudah kalau kamu memaksa. Terima kasih banyak, Jerrol."


"Tidak apa, Yoona. Masuklah supaya aku bisa pergi."


"Tentu."


Jerrol menunggu sampai Yoona menutup pintu baru ia berbalik arah. Mengingat tentang kejujuran Yoona tentang kehamilan, rasanya sangat sulit untuk Jerrol pahami.


"Tidak suka, tapi bisa sampai menghamilinya. Jika bukan atasanku, maka aku sebagai pria akan memberi pelajaran padamu, Erlan. Tapi sepertinya, aku harus mengungkapkan kejujuran ini kepada Emma terlebih dahulu. Mungkin dengan begitu, dia bisa mengatakan hal sebenarnya kepada Papa Agra," gumamnya.


Bergegas dengan cepat untuk bisa segera memberitahukan kebenaran, tetapi belum sempat pergi tiba-tiba Jerrol merasakan sebuah hantaman keras dari dalam mobil.


Sebuah truk besar dari arah kiri menghantam keras mobilnya. Kecelakaan itu membuat Jerrol terhempas begitu jauh hingga tidak sadarkan diri bersamaan dengan mobilnya yang rusak parah.


Belum sempat Yoona beristirahat dengan tenang, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara benturan keras yang membuatnya bergegas ke luar.


Betapa tidak pernah Yoona bayangkan saat melihat mobil Jerrol yang mengalami kecelakaan. Lututnya seketika merasa rapuh, hingga terduduk dengan ketidakberdayaan.

__ADS_1


"Jerrol, takdir apa ini?" batin Yoona yang hanya berani melihat dari jarak jauh, tanpa berani mendekat. Meskipun orang lain sudah mulai berkerumun.


__ADS_2