
Teringat dengan suaminya, Yoona segera bergerak dalam tangisan yang masih terus menetes. Membuat Yoona tidak menemukan Erlan, namun justru pria itu melihat gerak-gerik istrinya dari kejauhan.
Inisiatif Erlan sendiri yang langsung bergegas menemui Yoona, namun ia tidak suka jika istrinya terus saja menangis.
"Ada apa? Kenapa malah menangis seperti ini? Jika karena aku memarahi mu tadi, maka aku minta maaf. Tolong, jangan lagi menangis," pinta Erlan sembari berusaha menghapus air matanya.
"Tidak. Aku tidak menangis karena dirimu, Mas Erlan, melainkan karena ini," bantah Yoona sembari menunjuk surat tersebut.
"Apa ini?" Erlan mulai membaca setiap bait dari isi surat tersebut.
Betapa tidak pernah Erlan duga bahwa sikap kedewasaan Ernio jauh lebih dewasa daripada dirinya. Namun, yang paling tidak ia senangi ketika menyadari bahwa semua perbuatan buruk ternyata dalang karena Alice.
"Yoona, aku minta maaf," ucap Erlan dengan tiba-tiba.
"Loh? Kenapa kau yang minta maaf, Mas Erlan? Tidak. Kau tidak bersalah, aku lah yang seharusnya tidak memercayai Ernio begitu saja, tapi meskipun begitu dia berusaha memperbaiki segalanya meskipun dengan berkorban dengan nyawanya sendiri."
"Karena memang itu kesalahan ku, kalau saja seandainya aku tidak bersikap seperti dulu, maka semuanya -"
"Mas Erlan, cukup. Kita tidak perlu mengingat rasa buruk di masa lalu. Biarkan rasa manis di masa depan yang akan kita raih bersama. Aku berjanji padamu, Mas Erlan. Jika saja aku bisa, maka aku pun tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Jadi sekarang, kita sama-sama sudah bersama, bukan? Untuk itu, jangan lagi merasa bersalah ataupun maaf dengan kesalahan masa lalu."
"Terima kasih banyak karena kau begitu mensupport diriku, Yoona." Erlan segera membawa istrinya masuk ke dalam pelukannya dengan erat, namun hal itu dilihat oleh Emma.
Kehadiran Emma dengan tiba-tiba membuat Yoona dan Erlan melepaskan pelukan mereka. Terlihat raut wajah Emma yang begitu tidak enak dipandang.
"Ada apa? Kau ingin meminta uang?" tanya Erlan yang sudah begitu hafal dengan keseharian adiknya.
"Bukan itu, Kak. Namun, aku ingin meminta izin padamu. Mulai besok aku akan kembali ke Kanada, dan tolong jangan halangi jalanku."
"Tunggu? Sungguh kau sangat ingin ke sana lagi? Tapi, kenapa tiba-tiba sekali? Bahkan selama ini kau selalu yang meminta untuk pulang karena lelah belajar, bukan? Ada apa memangnya? Apa kau putus cinta?" tanya Erlan yang merasa begitu aneh.
"Bukan karena itu, Kak Erlan. Tapi, aku di sini tidak ada gunanya, dan lebih baik aku pergi demi bisa mencari kesempatan untuk hidupku sendiri. Tapi, jangan khawatir aku pasti akan selalu mengabari dirimu, bahkan kepada Kak Yoona. Dengan kita saling berjauhan, maka rasa rindu akan semakin menyatu, bukan? Kak, aku di sini, tapi aku merasa malu terhadap kakak iparku sendiri. Terlebih setelah kepergian Kak Ernio dan Alice. Begitupun aku juga sudah mendengar semua kisah kalian secara diam-diam karena aku merasa penasaran dengan permasalahan di rumah ini yang selalu saja hadir setiap waktu. Jadi tolong, kali ini aku ingin belajar dewasa, dan tidak mau untuk menjadi beban kalian berdua," jelas Emma yang ingin sekali mencari ketenangan.
"Kau serius dengan ini? Tapi, kakak sudah menyiapkan saham perusahaan kita untukmu juga. Bahkan Papa Agra sendiri sudah meminta aku mengajarimu berbisnis sejak dari dulu, apalagi yang harus kau cari di luar sana, Emma?"
__ADS_1
"Pengalaman, dan pengalaman untuk hidupku sendiri, Kak Erlan. Tolong ... jangan menahan ku. Nanti biarkan aku yang memberitahukan secara langsung kepada Papa, dan juga aku ingin minta maaf saat tidak bisa menghadiri acara pernikahan mereka berdua. Jika begitu, aku harus kembali lanjut berkemas. Kalian berdua bersenang-senanglah." Emma tersenyum kecil sembari melambaikan tangannya.
Senyuman yang sangat terlihat terpaksa ia lakukan, namun ia dengan cepat berlari masuk ke dalam kamarnya saat tangisan mulai basah membanjiri wajahnya.
"Aku sendiri sebenarnya tidak ingin pergi dari kalian semua, kak. Tapi, bagaimana mungkin? Terlebih aku takut bernasib sial yang sama seperti Kak Ernio dan Alice. Di sini aku frustasi setelah melihat dan mendengar kenyataan kepergian mereka. Karena bagaimanapun juga semua orang di sini memiliki masalah dan tidak ada yang bisa membuatku tenang. Maka lebih baik, menjadi udara baru di negeri orang. Maafkan aku, Kak Erlan, aku pasti akan sangat merindukanmu nantinya," batin Emma dalam isakkan tangisnya.
***
Kepergian Emma membuat Erlan dan Yoona melihat kepergian adik mereka dengan penuh keceriaan, meskipun semuanya terlihat palsu. Begitupun dengan Papa Agra yang langsung mengajak Mama Geisha untuk ikut mengantarkan putri bungsunya.
Lambaian tangan, namun tangisan pecah ketika Emma terlihat tidak terlihat. Berbeda dengan Erlan dan Yoona yang sangat mengerti dengan keadaan Emma.
"Lebih baik kita cari makan, Yoona. Jangan membuat Papa dan calon istrinya di sini. Kau mau? Aku punya tempat khusus untuk kita berdua."
"Oh ya? Ada di mana, Mas Erlan?"
"Itu rahasia dariku. Ayo kita pulang dulu, dan cari makan. Nanti malam aku akan mengajakmu ke sebuah tempat."
"Baiklah aku sangat bersemangat sekali," sahut Yoona dengan penuh rasa bahagia.
***
"Wow ... indah sekali, tapi tempat ini sepi. Apa kau sengaja menyewanya, Mas?"
"Menurutmu bagaimana? Apa yang tidak bisa dilakukan oleh suamimu ini?" Erlan terlihat sangat percaya diri.
"Ish kau ini. Aku serius! Benar ya kalau tempat ini kau sewa? Pasti harganya fantastis, bahkan tempat ini jauh lebih besar daripada lapangan bola."
"Sama seperti rasa cintaku sekarang yang jauh lebih besar daripada tempat ini, Yoona."
"Ish gombal! Udah pinter, ya. Main gombalan sekarang?"
"Tidak, Yoona. Aku sama sekali tidak berbohong karena memang aku sudah menaruh perasaan padamu, walaupun selalu saja perasaan ini aku paksa untuk menjauh. Meskipun aku terlihat egois, tapi saat kau pergi, aku seperti orang gila. Percayalah, ini bukan sebuah sandiwara, dan sekarang aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," sahut Erlan dengan romantis tanpa ada tawa sedikitpun darinya, sampai menggenggam kedua tangan Yoona dengan begitu erat.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Mas?" tanya Yoona dengan penuh keberanian.
Dengan tiba-tiba Erlan terduduk sembari ia mengeluarkan sebuah kalung, cincin berlian, dan sebuah tiket untuk mereka berdua. Semuanya sudah disiapkan sesempurna mungkin oleh Erlan di dalam sebuah kotak kecil.
"A-apa ini, Mas Erlan?" tanya Yoona sampai gelagapan, terlebih sebelumnya Erlan sama sekali belum pernah berbuat romantis seperti ini padanya.
"Aku tahu bahwa diriku telah begitu banyak bersalah, dan mungkin kata maaf saja tidak akan bisa membuatku melupakan segalanya. Tapi, percayalah satu hal padaku, Yoona. Kali ini aku benar-benar mencintaimu, dan ingin memulainya dari awal denganmu. Jika kau setuju, maka terimalah pemberian kecil dariku ini. Sebuah kalung, cincin, serta tiket untuk kita berangkat honeymoon. Meskipun terlambat, namun aku ingin memperbaiki segalanya. Jika kau mau, tapi aku tidak akan memaksamu."
Berusaha mencari kebohongan dari mata Erlan, namun sama sekali tidak terlihat hingga membuat Yoona yakin bahwa kali ini suaminya tidak berbohong sedikitpun. Ia langsung menjawab dengan anggukan sampai kedua pipinya terlihat memerah.
"Sungguh? Kamu ingin menerimanya, Sayang? Jika begitu aku akan memakaikan padamu, tapi tolong jangan tersipu malu seperti itu daripada nanti aku akan mendekap tubuhmu di sini langsung," bisik Erlan dengan sengaja.
Bukannya semakin kesal, namun Yoona segera membalas perlakuan manis Erlan dengan memeluk tubuh suaminya. Hingga pria itu menaruh kembali kotak hadiah yang sudah ia siapkan.
Pelukan yang begitu erat, sampai membuat Erlan dengan perlahan mulai memberikan ciuman manis tepat di bibir Yoona. Dengan penuh kasih sayang, dan sama sekali tidak ingin melewatkan kesempatan.
Di tengah sebuah acara yang mewah, hanya mereka berdua, dan baru kali ini keduanya mulai bercinta di dalam suasana terbuka. Rembulan menjadi sebuah saksi, dan bintang menjadi sebuah bukti saat Erlan mulai dengan perlahan melucuti satu per satu pakaian istrinya.
"Aku akan menghapus setiap jejak dari pria itu padamu, Yoona. Bagiku, kau telah lah sebuah bintang yang bersinar sama seperti malam ini saat aku mendekap mu di bawah sinar rembulan yang terang. Kali ini, aku tidak akan membiarkan seorangpun memilikimu, selain aku," batin Erlan dengan penuh semangat.
Deru nafas Yoona terdengar di dekat telinga Erlan, sembari perlahan Yoona mulai ikut membalas ciuman suaminya di belakang telinga. Rasanya sangat nikmat hingga mata Erlan mulai terlena.
Pelukan serta sentuhan manja yang Erlan berikan di kedua bulatan besar nan menggoda, sembari tangan Yoona yang terus tidak berhenti demi bisa mendapat hasrat bahagia untuk keduanya.
"Merebahkan tubuh Yoona di atas karpet berbulu tebal dengan kondisi keduanya sangat polos.
"Kau siap, Sayang?" tanya Erlan setelah ia menghujamkan adik kecilnya dengan perlahan.
Anggukan kecil, namun Yoona merasa malu dengan pertanyaan Erlan. Tersenyum perlahan, hingga Erlan semakin cepat membuatnya bangkit dengan cepat.
"Aku mencintaimu, Mas Erlan. Kita memulai dengan penuh hasrat pelampiasan, maka akan kita akhiri dengan hasrat kenikmatan. Cintaku ... aku ingin dirimu sampai pagi," batin Yoona dalam dambaan jiwa yang sudah begitu terbuai manja.
...TAMAT ...
__ADS_1
...----------------...
...Hai dear ... kisah Emma akan hadir dibuku lain dan jauh lebih mendebar, ditunggu saja, salam cinta....