Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Curiga Tentang Alice


__ADS_3

Keputusan Yoona untuk beristirahat tidaklah tepat, karena hal itu membuat hatinya semakin tidak tenang. Bahkan ia merasa ingin sekali mengunjungi ibuku sekarang, namun ia sadar tidak ada yang bisa membantunya. Terlebih rasa trauma membawa mobil setelah kecelakaan membuatnya semakin tidak berani untuk bergerak seorang diri.


Akan tetapi, Yoona pun sadar duduk berdiam diri di dalam kamar juga akan membuat kepalanya bosan. Akhirnya Yoona memilih untuk segera pergi secara diam-diam. Setelah melihat Emma tidak ada, Yoona segera berlari.


Tanpa Yoona sadari, jika saat itu Emma baru kembali dari arah dapur. Melihat kakak iparnya yang pergi dari rumah seperti seorang pencuri. Membuatnya merasa heran.


"Loh, tadi katanya mau tidur. Tapi kok ... aneh, dia semakin terlihat aneh," gumam Emma sembari memegang segelas air yang akan ia bawa ke dalam kamarnya.


"Aku harus mengikutinya sekarang." Emma segera meminum segelas air tanpa pikir panjang, dan langsung mengambil kunci mobilnya. "Sikapnya itu sangat mencurigakan, dan aku takut kalau dia sampai berselingkuh di luar sana. Kasihan kakakku jika dia memang memiliki pria lain."


Terlihat Yoona yang sedang menunggu taksi, hingga mobil jemputan umum itu pun datang. Diam-diam Emma mengikuti dari belakang dan sampai di rumah sakit.


"Ini kan ... apa mungkin dia benar-benar ingin menjenguk ibunya? Apa aku yang sudah salah paham dengannya?" tanya Emma dalam kebingungan. Sedetik itu juga ia mulai merasa bersalah dengan dirinya sendiri.


"Apapun itu aku harus tahu ke mana tujuannya."


Dengan sangat tergesa-gesa, Yoona menghampiri kamar ibunya. Tetapi, ia tidak menduga bahwa ada seorang wanita yang baru ke luar dari kamar ibunya.


Wanita itu tidak Yoona kenali, sampai membuatnya berpikir macam-macam. Ia segera bergegas menghampiri.


"Kau siapa? Kenapa ke luar dari ruangan mamaku?" tanya Yoona dengan tatapan yang tajam.


"Jadi, itu ibumu? Namaku Alice Brianna, kau bisa memanggilku Alice. Tenanglah dulu. Aku datang ke sini tidak untuk menyakiti ibumu, tapi ingin menjenguknya. Kata dokter keadaan sudah sedikit membaik. Mungkin dalam beberapa hari ke depan dia bisa terbebas dari komanya itu," sahutnya dengan santai.


"Jika memang kau datang ke sini tidak ingin menyakitinya, lalu kenapa kau bisa datang? Ada hubungan apa kau dengan mamaku? Katakan sebelum aku memanggil pihak keamanan kalau sampai terjadi sesuatu dengan mamaku." Yoona merasa cemas, terlebih ia hanya tahu bahwa selain tantenya sudah tidak ada lagi keluarga mereka di kota ini.

__ADS_1


"Hei, santai dulu, teman. Tidak mungkin wanita berpenampilan menarik seperti diriku bisa melakukan hal bodoh di rumah sakit ini. Jadi, bertingkah dengan sewajarnya tanpa menuduh seseorang seperti itu. Kau mengerti?" Alice merasa kesal, ia membalas dengan tajam.


Membuat Alice segera melangkah pergi, tetapi Yoona masih belum mau untuk melepaskan dirinya. Sampai menahan kepergian Alice dengan menarik pakaian mahalnya.


"Lepaskan tanganmu dari bajuku! Kau ini tidak waras, ya?" Alice menipiskan tangan Yoona dengan kasar, lalu mengusap pakaiannya berulang kali. Seolah-olah ada virus yang menempel.


"Kau tidak boleh pergi dariku sebelum kau katakan yang sebenarnya tentang tujuanmu di dalam sana," paksa Yoona.


"Apa kau buta dan tuli? Aku sudah bilang kalau kau tidak akan mungkin menyakiti ibumu, dan kau bisa melihat keadaannya sendiri jika tidak percaya. Dasar membuang waktuku saja," ketus Alice.


"Sialan juga wanita ini. Apa dia pikir aku tidak mengenalinya. Tentu saja aku kenal dengan istrinya Erlan. Tapi, jika dia mengatakan tentang di dalam sana itu ibunya. Itu artinya aku dengannya ... tidak. Aku tidak ingin menjadi saudaranya," batin Alice yang mulai mengingat tentang fakta kebenaran akan ibu kandungnya.


Akhirnya Yoona merasa tenang saat melihat dokter tiba-tiba ke luar dari ruangan ibunya. Melepaskan kepergian Alice, dan fokus dengan hal yang lain.


"Tentu saja. Saat putrinya menjenguknya tadi beliau langsung memperlihatkan sedikit gerakan. Tangannya mulai bergerak, dan itu artinya ibu Anda sudah terbebas dari masa kritis. Kita hanya perlu menunggu waktu agar beliau tersadar. Bisa saja beberapa hari ke depan atau mungkin beberapa jam," jelas Dokter sembari tersenyum hangat.


"Baguslah jika sudah ada perkembangan kabar tentang ibuku. Tapi, tunggu dulu, Dok. Siapa yang kau sebut dengan putri dari ibuku? Apakah wanita yang sedang pergi itu?" tanya Yoona dengan rasa penasaran sembari menunjuk ke arah Alice.


Dokter segera menjawab dengan anggukan kecil, lalu berkata. "Ya, benar. Memang dia orangnya. Saya mendengar jika dia memanggil pasien di dalam dengan sebutan ibunya, dan sudah beberapa hari dia berada di sini. Maaf, tapi saya masih banyak pasien, jika begitu saya permisi dulu, ya."


"Oh tentu saja, Dok. Terima kasih banyak," sahut Yoona dengan cepat. "Apalagi sekarang? Apa mungkin yang dokter itu katakan benar? Tapi, mana mungkin dokter berbicara berbohong kepada keluarga pasiennya sendiri. Apakah itu artinya dia memang anak dari mamaku juga? Namun, selama ini aku hanya tahu kalau hanya ada aku dan Kak Fiona."


Kecurigaan Yoona semakin membuatnya terdiam sampai ia melangkah masuk ke dalam ruangan ibunya tanpa ada semangat. Hanya menatap tubuh ibunya yang sedang terbaring lemah.


"Sekarang aku harus apalagi, Ma? Kapan kau akan bangun dan melihat penderitaan diriku ini?" tanya Yoona dalam batinnya.

__ADS_1


Tidak kuasa melihat ibu yang paling ia sayangi terbaring. Yoona segera melangkah pergi, namun ia berusaha untuk bisa mencari keberadaan wanita sebelumnya.


Setelah melihat ke segela posisi, membuat Yoona tidak dapat menemukan wanita itu. "Ke mana dia pergi? Apa mungkin wanita anggun sepertinya berjalan begitu cepat seperti itu? Rasanya mustahil sekali. Padahal, aku ingin tanya tentang kebenaran ini."


Merasakan lelah, terlebih karena sudah seharian memaksakan diri untuk terus bergerak. Membuat Yoona merasa sedikit penat, lalu ia berjalan ke luar tanpa tersadar ia telah melewati Alice bersama dengan Emma yang sedang bersembunyi.


Kepergian Yoona membuat mereka berdua merasa lebih lega. Memang keduanya sudah berteman sangat akrab sejak pertama kalinya Alice menjadi sekretaris Erlan.


"Untung saja dia sudah pergi. Ngomong-ngomong kenapa kau juga ada di sini, Kak Alice?"


"Emma, sebelum aku menjawab sebaiknya kau katakan dulu kenapa kau yang ada di sini? Bahkan sejak kapan kau kembali ke Kanada? Erlan tidak memberitahuku apapun tentangmu."


"Mungkin Kak Erlan lupa karena dia sibuk mengurus pernikahannya, Kak Alice. Di sini tentu saja aku ingin mengikuti kakak iparku. Entah mengapa, saat pertama kalinya bertemu, dia terlihat berbeda dari Kak Fiona yang aku kenal dulu," jelas Emma tanp menutupi apapun.


"Sungguh? Jadi, kau pun merasakan hal yang sama dariku, kan? Tentu, dia juga tidak mengenali diriku saat tadi kamu berpapasan," sahut Alice yang ikut memihak.


"Itu dia, Kak Alice. Aku merasa kalau dia seperti orang lain. Bahkan panggilan kesayangan mereka pun tidak lagi aku dengar, dan juga sikapnya sangat dingin denganku. Biasanya dulu dia ceria dan sering mengajakku berdandan ataupun sekedar mengoceh tanpa kenal waktu."


"Mungkin ... dia masih kelelahan karena baru menikah, Emma. Sebaiknya kau tidak perlu memikirkan banyak hal," bantah Alice sembari memperlihatkan senyum yang berbeda.


"Bahkan bukan saja diriku yang merasa kalau istrinya Erlan itu jauh berbeda dari Fiona, karena memang mereka bukanlah orang yang sama. Namun, hanya wajah yang sama. Tetapi, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuka rahasia wanita itu kepada keluarga besar Erlan. Nanti saja karena aku harus menunggu waktu yang tepat," batin Alice.


......................


Selamat bersenang-senang, BESTie. Kita akan memasuki keseruan yang penuh kejutan!

__ADS_1


__ADS_2