
Mereka mulai berjalan menyusuri hutan yang telah Malvin berikan tanda menaburkan kelopak bunga mawar merah agar tidak tersesat.
Malvin menyadari saat telah sampai di tempat Erlan di temukan, namun sudah tidak ada tenda Jerrol yang terpasang. Ia berusaha menghubungi Jerrol dan Alice, tetapi ponselnya kehilangan sinyal.
"Ke mana mereka pergi? Sepertinya tadi mereka memasang tenda di sini, apa jangan-jangan mereka tidak menungguku kembali?"
Kebingungan itu membuat Yoona mulai panik terlebih saat mendengar ucapan Malvin. "Jangan katakan kalau semua perkiraan kamu itu benar."
"Tapi, aku sama sekali tidak berbohong, Yoona. Aku jelas-jelas melihat Jerrol memasangkan tenda di sini. Lalu lihat di sana, ranting pohon itu bahkan masih berbekas darah Erlan yang terluka," sahut Malvin sembari menunjuk.
"Lalu bagaimana selanjutnya, Malvin? Jangan bilang kalau kita tidak akan bisa kembali pulang."
"Tenang dulu, Yoona. Sebaiknya kita terus berjalan karena aku merasa takut jika di sini berlama-lama. Apalagi bekas darah itu bisa membuat hewan liar datang. Ayo cepat, Yoona," ajak Malvin tanpa melepaskan gandengannya.
"Baiklah."
Kembali menyusuri hutan, tetapi hujan deras membuat sebagian hutan tersebut longsor hingga aliran sungai mulai memenuhi lokasi kejadian.
"Bagaimana ini, Malvin? Kita tidak mungkin menyebrangi sungai jika deras seperti ini. Lalu bagaimana mungkin Mas Erlan dan yang lainnya bisa kembali pulang?"
"Entahlah, Yoona. Tapi mungkin mereka memang telah pergi sebelum kejadian ini berlangsung."
Kembali melanjutkan perjalanan, terlihat Jerrol yang duduk di ujung kapal dari jauh. Hanya Yoona yang menyadari hal itu, ia segera berlari tanpa memikirkan keadaannya sendiri.
"Jerrol! Tunggu dulu!" Berusaha berteriak, tetapi laju kapal yang begitu cepat tidak bisa membuat mereka mendengarnya. "Oh tidak, bagaimana ini?"
Yoona kembali berlari ke tepian sungai sampai keseimbangan mulai membuat tubuhnya hampir tercebur. Untungnya dengan cepat Malvin berusaha menarik tangannya.
"Apa kau sudah tidak waras, Yoona?! Lihatlah ke bawah sana. Kau bisa mati, dan tolong jangan pikirkan tentang mereka dulu, tapi keselamatanmu yang paling utama," geram Malvin dengan sangat takut.
Kepanikan dan ketakutan bercampur satu, membuat jantung Yoona tidak berhenti berdetak, terlebih sangat ia melihat sedikit lagi maut ingin menghampirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Malvin. Sungguh ... aku tidak bermaksud membuatmu cemas," ucap Yoona dalam isakkan tangis yang perlahan mulai terdengar.
"Sudahlah jangan menangis, Yoona." Malvin segera membawa wanita itu ke dalam pelukannya dengan rasa tidak tega. "Seharusnya aku tidak membentak mu seperti itu. Tolong jangan lagi menangis ...."
"Bukan karena dirimu, Malvin. Lalu sekarang bagaimana caranya kita pulang?"
"Sebaiknya ayo kau duduk di sini dulu, aku akan memasangkan tenda untuk kita dulu. Mungkin memang kita tidak akan bisa menyebrang sungai sederas itu, tapi kita bisa menunggu para penyelamat datang. Apalagi aku yakin daerah di sini memang rawan longsor. Pasti ada tim pencarian yang datang, atau jika tidak perahu layar itu yang akan membawa kita pulang," sahut Malvin yang berusaha menenangkan meskipun ia pun hanya sekedar mengarang.
"Tapi, sampai kapan perahu itu datang kembali, Malvin? Bagaimana jika tidak?"
"Aku yakin Jerrol tidak akan membiarkan kita di sini, terlebih aku datang bersama dengannya kemari. Mungkin jika tidak sekarang, bisa saja besok, atau kita bisa turun saat sungai mulai mengering."
"Aku berharap bisa lebih cepat, Malvin."
"Aku tahu, tapi sekarang minumlah ini. Aku akan kembali memasang tenda."
Meskipun merasa takut, tetapi di dalam hati kecil Malvin jika ia senang berada di posisi sekarang.
"Setahun sekali pun kita tidak akan mungkin terjebak di situasi yang menyedihkan ini, Yoona. Tapi, alam berusaha mendengarkan doaku untuk bisa memilikimu kembali meskipun hanya sebentar," batinnya.
"Mau buat apa?"
"Hah? Tidak ada, Yoona. Aku hanya merasa kedinginan. Tidak apa-apa jika bersandar sedikit di bahumu, kan?" pinta Malvin demi bisa mencari kesempatan.
"Baiklah." Yoona pasrah terlebih ia merasa telah berhutang budi.
"Yoona, kau lihat burung-burung berkicau itu sekarang? Bahkan dulu aku berpikir jika bisa seperti mereka, dan tidak sendirian seperti sekarang. Entah apa dosaku, tapi kau justru meninggalkan diriku," ucap Malvin dengan tiba-tiba yang ingin membuka kembali semua kenangan masa lalu.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Malvin. Tapi, seharusnya kita tidak berbicara tentang itu."
"Kenapa memangnya? Apa kau takut aku akan memaksamu sekarang? Percayalah, aku tidak akan menodai mu jika kau tidak menginginkannya, Yoona."
__ADS_1
"Aku tahu kau pria baik, Malvin. Hanya saja ... keadaan yang membuatku tidak bisa membalas kebaikanmu ini. Sekarang aku sudah menjadi istri orang, kau bisa mengerti, kan?"
"Ya-ya aku sangat mengerti, tapi kali ini tolong biarkan aku tertidur di atas sandaran mu, Yoona."
"Hem ... tentu."
Malvin berpura-pura memejamkan matanya sembari mencuri kesempatan untuk merangkul Yoona, tetapi tidak dengan wanita itu yang terus menatap ke arah sungai. Berharap ada perahu yang lewat untuk bisa menolong mereka.
Sampai seharian, dan gelap malam kembali terlihat. Masih tidak ada perahu yang datang, membuat Yoona semakin cemas.
"Apa kita sudah tidak harapan lagi, Yoona? Setidaknya aku ingin kau kembali padaku," ucap Malvin dengan tiba-tiba saat dirinya merasa kedinginan, dan butuh sebuah kehangatan.
"Tolong jangan katakan seperti itu, Malvin. Aku sendiri masih berharap supaya perahu datang menyelamatkan kita."
"Tapi, bisakah malam ini kita tidur sembari berpelukan? Yoona, seperti dulu aku yang sering memeluknya. Hanya ... berpelukan, tolong."
Tidak ada reaksi apapun dari Yoona selain terdiam, membuat Malvin mengartikan jika itu sebuah tenda mengiyakan. Malam itu dengan cahaya api unggun dari terlihat dari balik tenda. Malvin tidak akan melupakan kesempatan untuk terus memeluk sembari diam-diam mengambil rekaman saat Yoona tertidur lelap di sampingnya.
Ponselnya hanya tidak ada jaringan, bukan baterai. Ia berhasil mengambil rekaman meskipun terlihat samar-samar. "Setidaknya dengan rekaman ini, bisa membuatku melihat kenangan terakhir kita bermalam berdua, Yoona."
Tertidur dengan pulas, sampai keesokan harinya Yoona terbangun lebih dulu. Tiba-tiba saja Yoona merasa pusing, dan saling pinggang yang lebih berat daripada saat ia datang bulan. Terlebih perutnya mulai tiba-tiba mual-mual.
Yoona segera berlari ke luar demi bisa memuntahkan isi makanan, ia tidak tahu kenapa keadaannya saat aneh sekarang.
“Muekk! Ha ... bluwwek!" Lagi-lagi terus mual-mual hingga membuat Malvin terheran.
"Kau baik-baik saja, Yoona?" tanya Malvin sembari mengusap punggung Yoona agar semua muntahan keluar.
"Aku tidak tahu, tapi mual-mual seperti ini tidak biasanya terjadi, Malvin."
“Mungkin kami masuk angin karena terlalu lama di hutan seperti ini, Yoona. Ayo ke dalam tenda, aku akan mengoleskan penghangat ini di perutmu."
__ADS_1
Ajakan Malvin di tolak dengan gelengan kepala, lalu Yoona kembali mual-mual di pagi hari buta.
"Ada apa dengan Yoona sebenarnya?" batin Malvin.