
Sebuah ciuman menggoda mendarat tepat di bibir Yoona, tanpa ia sadari, namun Ernio sudah merampas bibir manisnya. Dengan erat Ernio memegangi leher Yoona, dan tidak ingin melepaskan sampai ia benar-benar sudah puas dengan kecupan yang sedang berlanjut.
Merasa kalau semua ini tidak pantas terjadi, namun Ernio sendiri tidak rela jika semuanya berlalu dengan begitu cepat. Sampai Yoona mendorong tubuh pria itu lebih keras sampai bisa melepaskan diri.
Berlari ke luar dari dalam toilet, namun Ernio masih tetap tidak membiarkan wanita itu pergi, dan justru menggenggam erat tangan Yoona.
"Jangan sentuh aku. Lepaskan tanganku, Ernio," bentak Yoona, tetapi pria itu tidak bergerak.
"Jangan salah paham dulu padaku, Yoona. Aku tahu ciuman itu salah, tapi ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku merindukanmu, tapi setelah sampai di rumah aku tidak akan melakukan apapun. Jadi tolong, jangan berpikir buruk tentang diriku."
"Lalu aku hanya perlu diam saja, begitu? Bagaimana mungkin aku tidak berpikir buruk saat kau berusaha merampas ciumanku, Ernio. Lagi pula mana ada seorang adik ipar mencium kakak iparnya sendiri? Kita tidak ada hubungan apapun lebih daripada itu, kau mengerti?" jelas Yoona, namun Ernio hanya tersenyum kecil.
"Baiklah, aku akan mengerti. Kalau begitu ayo sekarang kita pulang, dan anggap saja kalau semua itu tadi tidak terjadi apapun. Kau bisa percaya denganku, Yoona. Setelah ini tidak akan ada hal buruk yang lainnya lagi," ucap Ernio yang berusaha menyakinkan wanita itu.
Meskipun sedikit tidak percaya, namun Yoona berusaha untuk tetap tenang. Berbeda dengan Ernio yang justru ingin menggenggam erat tangan wanita itu, tetapi Yoona memilih untuk berjalan dengan jarak yang jauh.
"Tidak apa, Yoona. Untuk sekarang aku bisa memaklumi ketakutan dirimu atas diriku, tapi setelah itu tidak akan lagi. Apalagi saat aku akan berusaha membawamu kembali menjadi milikku, bukan hanya untuk kekasih, tetapi sebagai seorang istri. Meskipun harus menentang Kak Erlan, maka akan aku lakukan. Jika itu perlu," batin Ernio dengan impian yang sudah sejak lama ia ingin lakukan.
Saat Yoona sedang keluar dari toilet, justru ia tidak menduga akan bertemu dengan Malvin. Terlebih pria itu sudah sejak tadi berusaha mencari Yoona, saat ia pelan-pelan mengikutinya.
Namun ternyata, Malvin sangat takut ketika melihat Yoona keluar dari tempat sepi bersama dengan seorang pria yang paling tidak Malvin sukai.
"Yoona, kau baik-baik saja? Apa sudah terjadi sesuatu padamu?" tanya Malvin dengan sangat cemas sembari memegang wajah wanita itu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Jangan cemas, Malvin. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pulang bersama sekarang." Yoona berusaha berbohong demi tidak terjadi keributan sembari melirik perlahan ke arah Ernio.
"Kau sungguh baik? Tapi, jika kau terluka atau ada yang mengancam katakan saja padaku. Aku tahu bahwa kau tidak sedang baik-baik saja, apalagi sampai bisa ada di depan toilet seperti ini." Malvin masih merasa begitu curiga.
"Tolong percayalah, Malvin. Tidak ada yang menyakiti diriku," pinta Yoona dengan terus-menerus.
Bukannya mendengarkan, namun Malvin justru semakin tidak percaya akan ucapan Yoona. Ia justru menatap Ernio dengan tatapan kesal sembari tiba-tiba menarik kerah baju pria itu dengan kuat.
"Jika sampai kau melakukan hal buruk terhadap Yoona atau menjebaknya seperti dulu, maka aku tidak akan memaafkan dirimu. Bahkan jika kau adik dari seorang pengusaha besar, aku tidak akan takut," ancam Malvin dengan tegas. Tetapi, Ernio justru bersikap santai sampai tersenyum kecil.
Yoona berusaha menarik tubuh Malvin agar tidak saling menyalahkan. "Hentikan, Malvin. Dia tidak bersalah. Karena memang kami pergi ke sini karena ingin bicara, bukan hal yang lainnya. Sebaiknya percayalah padaku karena aku tidak berbohong, dan sekarang Ernio sudah banyak berubah."
"Apa? Dia sudah berubah? Benarkah kau mempercayai pria ini begitu saja, Yoona? Saat kalian masih bersekolah, pria ini bahkan bertindak seperti seorang penjahat kelas kakap. Dia berusaha mengancam dan menjebak hanya agar niatnya terpenuhi. Teror pun kau terima, lalu sekarang kau berpikir jika dia berubah begitu cepat? Yoona, aku kau tidak salah?" Malvin semakin tidak habis pikir.
"Ya, aku tidak salah, Malvin. Sekarang Ernio telah berubah lebih dewasa. Kau jangan terus salahkan dia. Lebih baik kita pulang karena kalau tidak orang rumah akan cemas karena aku hanya pamit untuk pergi menjemput Ernio kembali. Tolonglah dengarkan aku," desak Yoona sembari memegang bahu Malvin agar bisa membuatnya lebih luluh.
Keberadaan Yoona membuat Ernio tidak bisa membalas apapun, meskipun saat itu tangannya sudah mengepal erat karena tidak sabar untuk memberi hantaman.
"Jadi, pria ini sudah menjadi tetanggaku. Baiklah, tapi tidak masalah. Terlebih aku begitu ingat saat pria ini mencoba merebut Yoona dariku dulu—saat kami menjadi kekasih. Sekarang dia berusaha menjadi seorang pahlawan, pecundang," batin Ernio dalam amarah yang besar.
Setiba di depan mobil, ingat Yoona membuka pintu, tetapi dengan tiba-tiba Malvin menghentikan niatnya.
"Pulanglah bersama denganku, Yoona. Biarkan pria itu pulang sendiri," ajak Malvin dengan sedikit memaksa.
__ADS_1
"Memangnya kenapa jika Yoona ingin pulang denganku? Dia kakak ipar ku, dan kami satu rumah. Itu sudah pantas, bukan?" timpal Ernio dengan sengaja saat melihat sikap Malvin sudah terlalu berlebihan.
"Pantas untukmu, tapi tidak untukku. Sekarang biarkan Yoona pulang bersamaku saja. Kau mau, kan?"
Yoona merasa kesal saat melihat dua bayi dewasa yang terlihat sedang bertengkar hanya karena masalah sepele. Hal itu membuatnya sedikit pusing apalagi terik matahari terlalu menyinari tubuhnya saat dalam keadaan berbadan dua.
Memijit keningnya yang terasa sedikit lelah sembari batinnya mengeluh. "Ya ampun ... mereka terlihat seperti dua bayi besar yang sedang merebut asi ku. Lebih baik aku pulang dengan taksi saja daripada meladeni perdebatan tidak jelas ini."
Tidak menjawab apapun, namun Yoona langsung menghentikan sebuah taksi yang juga baru mengantarkan penumpang ke bandara.
"Pak taksi, apa penumpang itu tidak memintamu menunggu?" tanya Yoona dari balik kaca mobil.
"Tidak, Nyonya. Kalau kau ingin naik, naiklah."
"Baik."
Melihat kepergian Yoona, membuat Malvin dan Ernio saling berusaha menghentikan. Namun justru, mereka kembali kesal saat bertatapan.
"Hei, lo ngapain pakai acara sok jadi pahlawan di depan Yoona? Enak saja mengatur hidup orang," ketus Ernio.
"Wah ... ucapan mu langsung berubah dan sangat keras saat Yoona pergi. Tapi, Ernio. Kau tidak akan bisa menyakiti Yoona untuk kali ini karena aku yang akan menjaganya."
"Silahkan saja jaga sepuas hati yang kau bisa, Malvin. Karena mulai sekarang aku yang akan membuatmu kalah untuk menjadi penjaga dan juga memiliki Yoona. Kemenangan mu dulu akan aku menangkan sekarang, tapi bukan sebagai kekasih, melainkan seorang istri. Kau ingat baik-baik," balas Ernio dengan tidak kalah tegas.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Malvin membentak dan ingin segera memberi pelajaran, tetapi Ernio dengan cepat memilih masuk ke dalam mobil tanpa ingin meladeni perkelahiannya.
"Lo pikir gue rela mengotori tangan gue sendiri hanya untuk berkelahi denganmu, Malvin. Tentu saja tidak karena perkelahian yang sebenarnya dengan otak, bukan otot," batin Ernio sembari menyunggingkan senyumnya.