Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Bibirnya


__ADS_3

Kepergian ayahnya membuat Erlan merasa lega, ia tidak habis pikir saat kembali melihat kertas salinan dari surat kontrak di tangannya.


"Benar-benar gila. Dia bahkan mengancam anaknya sendiri, dan lebih mementingkan wanita bodoh itu," geram Erlan. Lalu ia melemparkan kertas tersebut.


Jerrol datang untuk kembali memungut sembari membaca semua isinya. Tiba-tiba saja ia tertawa tanpa henti. Berusaha menertawai atasannya dengan sangat gembira.


"Ya ampun. Kau terlihat seperti anak tirinya, Tuan Erlan," ejek Jerrol dengan begitu puas.


"Diam kau."


"Tapi, serius ini sungguh lucu sekali. Biasanya ayah akan selalu mendukung kita, apalagi kau putra kebanggaannya. Namun ternyata, realitanya tak seindah yang aku duga, Tuan Erlan," lanjut Jerrol.


"Aku bilang berhenti, Jerrol. Berhentilah untuk mengejekku karena aku bisa saja mengakhiri posisimu di dalam rumah ini. Apa kau mau untuk keluar dari pekerjaan ini?" Erlan terlihat begitu marah besar. Tidak seperti biasanya, ia sampai melampiaskan kekesalannya kepada orang lain.


Melihat amarah yang tidak sedang main-main, Jerrol segera berdiam diri sembari menundukkan wajahnya.


"Katakan ruangan nomor berapa Yoona dirawat, Jerrol?"


"Nomor tiga belas, lantai tiga, Tuan Erlan."


"Ya sudah, kalau begitu malam ini kau saja yang hadir berkencan dengan Alice. Aku akan mengurus tentang Yoona terlebih dahulu."


Seketika Jerrol menatap Erlan dengan rasa tidak percaya. Terlebih ia tahu kedekatan mereka yang terlihat bermesraan di depan wajahnya.


"Tapi, kenapa harus aku yang datang? Alice hanya memintamu untuk berkencan."


"Keputusanku sudah bulat, Jerrol. Katakan pada Alice kalau malam ini aku sedang sibuk, dan tidak perlu mencari ku. Namun, besok pagi aku akan menemuinya di kantor," pesan Erlan yang tidak bisa diganggu gugat.


"Baik, Tuan Erlan." Hingga akhirnya Jerrol hanya bisa pasrah sembari menjawab dengan anggukan kecil.


Di dalam hati kecil Jerrol, ada rasa senang yang paling dalam saat menyadari malam ini akan berkencan. Ia tahu pasti semua ini Erlan lakukan setelah mendengar tentang kebenaran perasaannya.


"Tanpa kau ucap pun, aku tahu bahwa kau peduli denganku, Tuan Erlan. Kita sudah seperti keluarga, tapi meskipun kau terkadang arogan dan menyebalkan. Namun malam ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menyatakan cinta kepada Alice setelah bertahun-tahun aku menahannya," batin Jerrol.

__ADS_1


Belum satu menit Erlan pergi, tiba-tiba ia kembali mendekat hingga membuat Jerrol sedikit terkejut.


"Tolong, siapkan surat kontrak terbaru untuk diriku dan Yoona. Pastikan rincian dari kertas kontrak papaku ini kau gunakan. Aku hanya memberimu waktu lima belas, kerjakan sekarang," perintahnya.


"Baik, Tuan Erlan."


***


Berbeda dengan Yoona yang sedang merenung dengan menatap ke arah jendela yang langsung terhubung ke taman rumah sakit. Ia melihat banyak orang yang sakit yang sedang bersama dengan keluarga besarnya.


Keadaan itu mampu membuat Yoona merasa sedih, meskipun tubuhnya sudah mulai lebih bertenaga, dan bisa memegang selang infusnya sendiri. Tetap saja, kesepian di dalam hidupnya semakin tidak menentu, dan membuat hati menjadi lebih cepat tersentuh.


"Ma, kapan kau akan terbangun dari komamu itu? Aku di sini sendirian, dan mungkin kau akan marah setelah mengetahui aku menikah paksa dengan tunangan kakakku sendiri. Maafkan aku, Mama," gumam Yoona yang hanya bisa menyampaikan semua kesedihan kepada dirinya.


"Ini ruangannya, Tuan Erlan." Terdengar suara seseorang yang berjalan mendekat. Yoona sadari jika itu seperti suara Jerrol.


"Tuan? Apa mungkin dia mengajak Mas Erlan ke sini?" Yoona merasa heran. Ia terus menatap pintu ruangan tanpa henti.


"Apa ini ruangannya?" tanya Erlan memastikan.


"Benar, Tuan," sahut Jerrol sembari memberikan jalan masuk.


"Kau bisa pulang lebih dulu, Jerrol. Tidak perlu menungguku."


"Tentu saja boleh, Tuan Erlan. Ini kunci mobilnya," Jerrol menjawab dengan begitu formal.


Kedatangan Erlan membuat Yoona sedikit merasa senang, terlebih ia sama sekali tidak berpikir kalau suaminya akan datang menjenguknya. Kebahagiaan itu membuat Yoona berjalan mendekat, berharap untuk bisa memberikan pelukan hangat seraya memperlihatkan keadaannya yang jauh lebih baik.


Belum sepenuhnya Yoona menyentuh tubuh Erlan, tiba-tiba pria itu mengarahkan telunjuk untuk memberikan jarak.


"Berdiri saja di sana. Kau pasti belum mandi, jadi aku tidak ingin dekat-dekat denganmu," ketus Erlan dengan tatapan dinginnya.


"Jika begitu, untuk apa juga kau datang ke sini, Mas Erlan? Jika bukan untuk melihatku, maka lebih baik pergi saja. Aku masih bisa mengurus diriku sendiri." Yoona membalas dengan tidak kalah ketus. Sampai membuatnya tidak berniat untuk menatap lawannya bicara.

__ADS_1


"Heh, beraninya kau melawanku!" bentak Erlan yang ikut menarik tangan Yoona tepat di bagian infusnya terpasang.


Rasa sakit membuat Yoona meringis sampai matanya terpejam. Darah mulai perlahan naik ke atas selang infusnya. Yoona berusaha bertahan hanya untuk tidak terlihat lemah di depan suaminya.


"Jika sekali lagi kau melawanku seperti tadi, maka aku tidak akan segan-segan untuk-" Ucapan Erlan tiba-tiba terhenti saat mendengar suara pintu ruangan tersebut terbuka.


"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saatnya pasien minum obat." Suster tiba-tiba masuk.


Erlan segera melepaskan Yoona sembari bergerak sedikit menjauh agar tidak membuat kecurigaan.


Melihat darah yang mulai naik, membuat suster tersebut sedikit terheran. Ia kembali memperbaikinya, lalu menatap ke arah Erlan. "Tolong pastikan agar darah di selang infusnya tidak lagi naik, Tuan. Itu akan menyakitkan untuk istri Anda."


"Ya, saya mengerti," sahut Erlan dengan santai.


Kepergian suster itu dengan cepat diikuti oleh Erlan untuk segera mengunci pintu ruangan dari dalam.


"Jadi, kau jauh lebih senang berada di tempat pengap ini daripada di rumah, kan?" Erlan tiba-tiba bertanya, namun pertanyaannya sangat membingungkan.


Membuat Yoona menatap dengan kening berkerut. "Apa maksudmu, Mas?"


"Jika kau sudah bisa pulang, maka malam ini kita harus segera pulang. Karena besok pagi papaku ingin bertemu denganmu. Aku harap kau tidak membuatku berada di dalam masalah."


"Bagaimana ini? Apakah aku harus ikut pulang dengannya sekarang? Meskipun aku ingin, tapi aku takut merepotkan dirinya," batin Yoona yang mulai bimbang. Ia terlihat terdiam dengan terus menatap ke bawah.


"Hei, apa kau tuli? Aku sedang berbicara denganmu, Yoona. Kau dengar aku tidak?" Erlan bergerak lebih dekat sampai ia tidak sengaja tatapannya tertuju ke arah bibir istrinya.


"Memangnya kenapa papa ingin bertemu denganku besok pagi?"


Membuat Erlan hanya semakin fokus dengan bibir istrinya, sampai menghiraukan pertanyaan. Meskipun tidak memakai riasan, namun kecantikan alami yang terpancar dapat membuat Erlan sadar jika Yoona menarik untuk dipandang.


Bibir Yoona terlihat begitu mungil serta merah muda, ditambah dengan tahi lalat kecil ditepian bibir bawahnya. Dapat membuat Erlan semakin bergerak mendekat. Yoona merasa heran hingga kedua matanya melotot sempurna, namun perlahan ia memejamkan matanya.


"Apa mungkin Mas Erlan akan melakukannya di sini?" tanya Yoona dalam batinnya dengan jantung berdebar-debar.

__ADS_1


__ADS_2