
Malvin dengan sengaja berjalan menyenggol Erlan dari belakang, ia berpura-pura tidak melihat Erlan.
Membuat Erlan merasa heran sampai ponselnya terjatuh. Dengan cepat Malvin mengambilnya seraya memperlihatkan wajah terkejut.
"Ya ampun, Pak Erlan. Maafkan saya, Pak. Kebetulan saya sedang terburu-buru sekali sampai tidak sadar menabrak mu. Ini ponselmu, Pak. Coba dilihat siapa tahu rusak," ucap Malvin yang berusaha bersikap manis. Saat ini Yoona merasa cemas ketika melihatnya.
"Memangnya kau tidak punya mata atau memang sengaja?" Erlan merasa kesal sampai mulai curiga kalau Malvin seperti sengaja ingin menjatuhkan dirinya.
"Sekali lagi maafkan saya, Pak. Sungguh, saya tidak sadar kalau Pak Erlan sedang di sini."
"Jika ponsel saya rusak, maka gajimu yang akan saya potong. Lain kali kalau jalan pakai mata, dan besok kau harus lembur. Saya tidak mau tahu alasan apapun itu," perintah Erlan.
"Baik, Pak. Akan saya lakukan perintahmu. Tapi ngomong-ngomong, apa dia itu istrimu, Pak Erlan? Sejak tadi wanita itu terus mendorong kursi rodanya sendirian."
Erlan melirik sekaligus ia merasa sedikit tidak nyaman ketika menyadari sikapnya terlihat tak acuh di depan orang lain. Dengan perlahan Erlan bergerak mendekat ke arah Yoona seraya memegang kursi roda.
"Ya, dia memang istriku. Tidak ada yang sedang membiarkan istriku menarik kursi rodanya sendiri, tapi memang dia yang menginginkan hal itu karena seorang istri dari Tuan Muda Erlan harus belajar untuk bisa mandiri," jelasnya.
"Wah ... sangat hebat. Jika begitu saya akan belajar darimu, Pak Erlan. Baiklah, sekali lagi maafkan atas kecerobohan saya tadi. Saya harus segera pergi dulu, Pak. Memang sedikit terburu-buru." Malvin segera melangkah pergi setelah memberikan hormat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, namun ia sempat melirik ke arah Yoona.
"Yoona, aku harap kau baik-baik saja dengan pria arogan itu. Tapi, jangan khawatir. Aku akan berusaha melindungi dirimu," batin Malvin sembari memandang wajah Yoona sebelum pergi dari tempat itu.
Pandangan tersebut membuat Erlan sedikit merasa heran. Ia melihat tatapan Malvin seperti ingin mengatakan sesuatu terhadap istrinya.
"Apa mereka sudah saling kenal? Tapi, setahuku Malvin tidak memiliki kekasih. Bahkan ia sudah ditinggalkan oleh kekasihnya," batin Erlan dalam kecurigaannya.
__ADS_1
Kepergian Malvin membuat Erlan masih merasa kesal, namun ia berusaha untuk mendorong kursi roda Yoona agar tidak mendatangkan pusat perhatian dari banyak orang.
Seketika Yoona mengerti saat Malvin dengan sengaja bersikap berlebihan. Ternyata kebaikan Malvin demi membuat Erlan peduli dengannya, meskipun hanya sedikit.
"Bahkan setelah aku mencampakkan dirinya, Malvin masih berusaha mengingat diriku. Aku sudah salah besar karena meninggalkannya tanpa kabar, tapi aku baru sadar kalau ternyata Malvin bekerja di perusahaan yang sama dengan Erlan. Itu artinya aku akan lebih sering melihatnya nanti," batin Yoona.
***
Melihat sebuah mobil yang paling Erlan kenali berada di depan pekarangan rumahnya. Membuat Erlan segera turun dan berlari dari mobilnya dengan cepat tanpa menunggu Yoona yang masih terjebak di dalam mobil.
"Mas, tunggu aku," panggil Yoona, tetapi Erlan tidak memperdulikannya. "Aduh ... kepalaku masih terasa begitu pusing. Jika aku berjalan sendirian, apa aku akan sanggup? Mana kursi roda berada di belakang mobil. Aku tidak kuasa untuk mengambilnya."
Yoona merasa kesulitan, ia mencoba untuk pelan-pelan turun, tetapi justru kakinya tidak tepat menginjak tanah, dan hampir terjatuh. Untungnya dengan tiba-tiba Jerrol berhasil menahan tubuhnya.
Keberadaan Yoona di dalam rangkulan Jerrol membuat pria itu merasa gelisah. Entah mengapa mereka berdua sangat dekat, namun hati Jerrol yang mulai berdetak lebih cepat. Sampai membuat tatapan Jerrol terus memandangi wajah majikannya itu.
"Kenapa malah melamun? Ayo turunkan aku, Jerrol," pinta Yoona setelah berusaha memukul wajah pria itu.
"Eh! Maafkan saya, Nona Yoona." Jerrol segera tersadar.
"Tidak apa, tapi bisakah kau membantuku berjalan sampai ke kamar? Rasanya kepalaku masih sangat pusing, dan aku ingin beristirahat sejenak."
"Tentu saja, Nona Yoona. Jika nanti kau membutuhkan bantuanku, katakan saja."
"Baik, Jerrol. Ngomong-ngomong di dalam siapa yang datang? Mas Erlan sampai berlari seperti kesetanan segala."
__ADS_1
"Oh, adiknya Tuan Erlan baru saja pulang, Nona Yoona. Memang adik perempuannya itu sangat dekat dengan tuan, dan sudah setahun lamanya gadis itu tidak kembali ke sini," jawab Jerrol sembari membawa Yoona pergi.
"Berarti Tuan Erlan juga memiliki seorang adik perempuan, aku baru tahu. Aku pikir dia anak tunggal," batin Yoona.
"Memangnya mereka semua ada berapa orang, Jerrol? Kau mungkin bisa menceritakan sedikit tentang tuanmu itu. Kau pun tahu sendiri kalau aku tidak biss bertanya tentang hal pribadinya, pasti dia tidak mau memberitahukannya."
"Tidak masalah, Nona Yoona. Kapanpun kau ingin tahu akan selalu aku beritahu. Tuan Erlan memiliki dua adik. Wanita dan pria, tapi keduanya tidak ada di sini. Tergantung mereka menetap di sini selama satu atau lima bulan. Aku pun tidak tahu banyak tentang keduanya. Namun, merasa cukup ramah," jelas Jerrol.
"Oh, aku sekarang mengerti. Terima kasih banyak, Jerrol. Nanti di depan pintu, tidak perlu lagi memegangi ku. Sepertinya kepalaku mulai terasa sedikit membaik."
"Tentu, Nona Yoona."
Yoona berjalan seorang diri, namun tiba-tiba seorang wanita lebih dulu menghampirinya dan langsung memeluk tubuhnya.
"Hai, kakak ipar ... maafkan aku karena tidak bisa pulang saat pernikahan kalian. Sungguh, aku tidak bisa meninggalkan ujianku itu, Kak Fiona. Namun sekarang tidak, karena aku sudah ada di sini. Ini hadiah pernikahan untukmu, dan sudah aku janjikan sebelum kalian menikah dulu," sapa Emma seraya memberikan sebuah kejutan dengan penuh keceriaan.
Membuat Yoona merasa bingung, namun ia berusaha mengambil kejutan tersebut. Sekaligus ia sama sekali tidak tahu kalau ternyata dulu saudara kembarnya begitu dekat dengan keluarga Erlan.
"Ayo cepat buka, Kak. Apa kau tidak penasaran dengan kejutan dariku ini?" paksa Emma yang langsung mengambil kembali kotak hadiah dari tangan Yoona.
"Aku akan membukanya nanti. Tentu saja aku sangat suka dengan hadiahmu ini. Tapi, siapa namamu? Maksudku, ketika kita tidak saling berkomunikasi, aku jadi sedikit lupa," tanya Yoona yang berusaha untuk tidak terlihat seperti bukan saudara kembarnya.
"Ya ampun, Kak. Kau tidak lagi mengingat namaku? Ayolah, Kak Erlan, apa kau sengaja tidak ingin lagi menceritakan tentang diriku kepada istrimu ini? Jujur aku sedikit tersinggung, Kak Erlan. Padahal dulu kita sangat dekat. Kakak ipar seperti bukan dirinya saja." Emma merasa heran dan sedikit kesal. Terlebih ia merasa orang lain telah melupakan dirinya.
"Tidak seperti itu, Emma. Istriku tidak mungkin melupakan dirimu, apalagi namamu. Dia pasti masih pusing. Terlebih kami baru saja pulang dari rumah sakit. Benarkan, Sayangku?" Erlan segera merangkul istrinya dengan erat. Amarahnya berusaha ia tahan demi membuat adik kandungnya tidak semakin curiga.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi, kalian baru dari rumah sakit? Apa itu artinya kalian ingin memiliki bayi, Kak Erlan? Wah ... aku senang sekali jika itu memang benar." Kebiasaan Emma yang selalu berbicara lebih dulu, meskipun tidak mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Ia terlalu cepat menghakimi orang lain.
"Astaga ... gadis ini sedang berbicara apa? Memangnya setiap pengantin baru ke rumah sakit karena ingin memeriksa kehamilan? Bahkan aku tidak yakin Mas Erlan aku menerima kehamilanku. Semoga aku bisa tetap waras berada di tengah keluarga ini," batin Yoona yang mulai merasa lelah saat di dalam situasi yang tidak ia sukai.