
Rasa pusing yang begitu besar membuat Yoona perlahan terbangun, ditambah sinar mentari yang menyinari dari celah jendela membuatnya membuka mata. Terduduk diam sembari mengumpulkan kekuatan dari rasa pusing di kepalanya.
Namun tiba-tiba Yoona baru tersadar, jika kamar itu terasa asing untuknya. Terlebih saat pakaiannya tiba-tiba sudah berganti, padahal yang ia ketahui jika terakhir kalinya ia memakai gaun pesta berwarna biru muda.
"Aku ada di mana? Dan siapa yang sudah mengganti pakaianku?" Ia terlihat kebingungan sembari Yoona terus berusaha mengingat yang terakhir kalinya bersamanya.
Hingga ingatannya kembali saat Ernio yang mengajaknya pergi. "Astaga! Hadiah mobil itu ... malam itu Ernio memberikan hadiah untukku? Tapi kenapa sekarang aku terbangun di kamar ini? Dan perutku terasa nyeri, anehnya aku tidak merasa seperti ada gerakan lain di perutku sekarang."
"Aku di sini, Yoona. Kau ternyata sudah bangun? Mau ikut sarapan bersama denganku?" Tiba-tiba terdengar suara Ernio dengan ajakan santai dari arah kamar mandi. Ternyata pria itu baru selesai membersihkan dirinya.
Betapa tidak pernah Yoona bayangkan ia bisa terbangun sekamar dengan pria yang tidak lain adalah mantan kekasihnya dulu, namun yang paling tidak ia sukai adalah ikatan mereka yang menjadi saudara ipar.
"Kau? Apa maksudmu ini? Apa benar kau yang mengganti pakaianku juga?" tanya Yoona masih berusaha berpikir positif.
"Memangnya ada pria lain di dalam kamar ini, Yoona? Hanya aku, dan kita berdua sejak dua hari yang lalu," sahutnya dengan santai.
"Du-du-dua hari yang lalu? Jangan katakan kalau kau berusaha menculik ku dan merampas tubuhku!" Yoona berteriak saat ia tidak menginginkan sebuah fakta buruk terjadi.
"Tentu saja, Yoona. Aku melakukannya, dan kau adalah wanitaku sekarang. Mau kau terima ataupun tidak, tapi yang pasti rekaman di dalam ponselku ini sudah membuktikan segalanya. Apa kau juga ingin melihat salinan rekaman kita berdua? Tapi aku harap, kita bisa sarapan dulu sebelum kau tergoda dengan kejantananku ini," sahut Ernio dengan sangat percaya diri, dan tanpa bersalah sedikitpun.
"Jangan berbohong padaku, Ernio. Aku sedang hamil, bahkan Mas Erlan menginginkannya saja tidak bisa aku berikan dulu, dan sekarang kau melakukannya tanpa persetujuan dariku, kau gila!"
__ADS_1
"Aku tahu itu, Yoona. Baiklah jika kau masih saja tidak percaya bisa lihat ini." Ernio membuka sebuah laci dan ia segera berikan selembar kertas. "Lihatlah hasil saat kau di rawat di sini."
"Apa ini?" Yoona terheran.
Selembar kertas yang sengaja dikeluarkan oleh seorang dokter atas perintah dari Ernio. Tentang hasil keguguran kehamilan yang sudah Yoona alami. Kebenaran tersebut membuat Yoona merasa sangat bersalah, dan ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih, justru semakin terlihat buruk ketika mengingat semua kejadian tanpa sepengetahuannya.
"Apa itu artinya bayiku sudah hilang? Dia sudah pergi meninggalkanku, dan mungkin saat Mas Erlan tahu kebenaran ini dia pasti akan meninggalkanku. Dia hanya akan mempertahankan hidupku karena kehadiran bayi ini, lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Terlebih jika sampai Mas Erlan tahu jika aku dan Ernio sudah sedekat ini. Oh Tuhan ... aku semakin tidak bisa percaya Ernio berpura-pura baik padaku," batin Yoona yang semakin membuatnya sadar seperti berada di dalam sebuah penjara yang paling buruk.
Saat Yoona terlihat hanya terdiam, namun Ernio bergerak untuk ikut duduk rebahan di atas ranjang tidurnya. Namun justru, Yoona berusaha bergerak menjauh sembari ingin mendorong tubuh pria itu.
Sayangnya, kekuatan Ernio yang lebih kuat justru membuat Yoona kewalahan. Hingga Ernio menahan dirinya dengan mengunci di atas bawah tidurnya.
"Aku sudah pernah melepaskan dirimu, Yoona, tapi tidak dengan sekarang, karena aku akan semakin mengejar mu."
"Kau hanya terobsesi denganku, jadi tolong biarkan aku pergi dari tempat ini, tolong ...." Yoona terus memohon hingga membuat tetesan air matanya terjatuh perlahan.
"Kenapa harus aku lepaskan, Yoona? Kau hanya akan menangis jika bersama dengan Erlan, bukan? Tangisanmu bahkan jauh lebih keras jika dibandingkan denganku sekarang. Apa salahku? Bahkan Erlan juga mengkhianati dirimu secara terang-terangan. Sekarang pilihlah untuk bersama denganku daripada harus bersama dengan pria yang sudah jelas memiliki kekasih lain dan sangat menyayangi kekasihnya dibandingkan istrinya sendiri," pinta Ernio tanpa ingin kalah.
"Tidak akan! Meskipun sekarang kau sudah merenggut tubuhku, dan juga telah berhasil mengugurkan kandungan ini. Tapi, aku akan lebih memilih untuk pergi seorang diri daripada harus denganmu, Ernio. Aku tidak suka caramu, kau seperti seorang iblis yang tidak punya hati. Bahkan sebuah nyawa yang tidak berdosa juga sudah kau lenyap kan hanya karena dia anak dari kakakmu."
"Aku berbuat seperti itu karena ingin melindungi dirimu, Yoona. Kau tidak perlu merasa sakit karena mengandung sampai sembilan bulan, terlebih dari seorang pria yang sama sekali tidak peduli denganmu. Jika bisa aku katakan, setidaknya pikirkan dirimu sendiri. Itulah sebabnya, Yoona. Aku ingin kau tetap membahagiakan dirimu, dan di sini aku akan berusaha untuk itu," jelas Ernio tanpa melepaskan pegangan kedua tangannya dari Yoona.
__ADS_1
"Itu hanya pikiranmu, tapi bukan denganku, Ernio. Lepaskan aku! Aku akan kembali dan membongkar semua rahasia ini pada Erlan, dia berhak menghukum mu!" geram Yoona tanpa bisa diatur.
"Lakukan saja sesuai yang kau inginkan, Yoona. Namun, aku akan memastikan jika kau tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Erlan, karena rekaman itu yang akan menjadi urusanku," sahut Ernio sembari menyunggingkan senyumnya.
"Terserah apa maumu, tapi aku akan tetap melakukan yang aku inginkan, Ernio! Sekalipun Mas Erlan dan seluruh keluargamu membenciku, maka itu tidak akan pernah menjadi halangan untukku. Biarkan mereka tahu kebusukan mu ini, Ernio!"
Yoona terus berontak sampai membuat Ernio ikut kembali menguatkan pegangannya. Ingin kembali bagi Ernio membuat Yoona tidak berdaya di bawah tubuhnya, tetapi Yoona terus berusaha melawan sampai ia berhasil membuat Ernio ikut terbaring di sampingnya dengan kondisi tangannya terlepas.
Segera berlari ke arah pintu, tetapi Ernio tidak berhenti untuk kembali menarik tubuh Yoona. Membawa Yoona secara terpaksa dengan menggendongnya, hingga kembali merobek pakaian wanita itu.
"Jangan lakukan itu! Kau tidak bisa, Ernio!" Yoona terus melawan saat Ernio ingin mendorong senjata berharganya, namun sayangnya ia tiba-tiba mendapatkan tendangan kuat.
Yoona berhasil menendang tepat di bagian adik kecilnya, hingga membuat Ernio meringis kesakitan.
"Ini kesempatan bagus, aku harus pergi dari sini. Tapi bagaimana dengan pakaianku sekarang?" batin Yoona yang sedang berlari dalam keadaan tubuhnya terbuka begitu polos.
Ernio terus berlari cepat sampai ia berusaha menghentikan Yoona dan menarik kunci pintu depan. "Jika kau berpikir aku akan kalah, maka itu tidak ada hasilnya, Yoona. Sekarang ikut denganku, karena aku pasti akan kembali membawamu pulang, tapi setelah melayani diriku."
"Aku tidak mau! Jangan paksa, Ernio!" Yoona berusaha ingin menendangnya lagi, tetapi Ernio lebih dulu memeluknya dari belakang dengan begitu erat, sampai wanita itu kesulitan bergerak.
"Sudah aku bilang, bukan? Melawan hanya akan membuat tubuhmu kewalahan, Yoona. Setidaknya dengarkan ucapanku supaya tubuh indah mu ini tidak terluka. Ayo ... ikut denganku ke kamar," ajak Ernio semakin merampas kecupan kecil di pipi Yoona.
__ADS_1