
Episode 116 : Apakah aku pantas?
.
.
.
Setelah makan malam itu, Edgar tidak membuang-buang waktu, dia juga sudah lapar sehingga dia langsung membawa istrinya pulang saja.
"Ahh, aku kenyang sekali ... terimakasih suami sudah memberikan aku makan pizza kesukaan ku ..." Aluna duduk di sisi Edgar dan Tertidur dengan senyuman.
Dia benar-benar jadi mudah lapar dan mengantuk, tanpa ia sadari dirinya juga jadi bersikap manja kepada suaminya.
"Tak!"
Aluna langsung bersandar di pundak suaminya dan terlelap begitu saja.
Berbeda dengan Edgar yang mendengar itu ...
"Te ... terimakasih apa? sayang, barusan kau memanggilku apa?"
Edgar mengulang ucapan itu, dia ingin mendengar nya lagi.
Mendengar Aluna memanggil nya dengan sebutan suami membuat nya merasa terlalu bersemangat, dan dengan di dadanya semakin berdegup kencang.
"Sayang?"
Edgar mencoba menggoyang bahu istrinya, saat itulah Aluna terjatuh ke paha Edgar.
"Buk!"
Berada di paha suaminya membuat Aluna seperti tengah tidur di bantal, karena terlalu sering di pangku oleh suaminya membuat Aluna menjadi sangat nyaman terlelap disana.
"Malah tidur, setelah menggoda kau langsung tidur, kau sungguh tahu betul bagaimana membuat ku gila!" bisik Edgar mencubit pelan pipi istrinya.
Setelah itu di sepanjang perjalanan, Edgar berpangku tangan dan menatap Aluna yang tidur di pangkuannya.
Dia tersenyum sembari memainkan helaian rambut istri nya, waktu seolah berjalan dengan sangat lambat, lampu-lampu jalanan yang mereka lewati seperti menjadi bintang bersinar di antara keduanya.
Siapa yang menduga, tiga tahun kelam dan penuh derita yang dialami oleh Edgar, penderitaan yang tidak berkesudahan yang dia kira tidak akan pernah sembuh, ternyata seseorang yang begitu bercahaya datang secara tiba-tiba.
Memporak-porandakan seluruh hidup Edgar dan mengingatkan Edgar lagi mengenai perasaan kuat yang disebut dengan cinta.
"Jika aku memang sudah jatuh cinta, apakah ini artinya aku sudah pantas bahagia? setelah semua kesalahan yang aku perbuat? karena aku kakek ku tiada, karena aku ayahku sakit hingga sekarang, apakah aku pantas mendapatkan ini semua?"
"Apakah aku sedang memaksakan kehendak? aku benar-benar tidak tahu sayang, hanya satu yang aku tahu jika aku sungguh tidak akan melepaskan tangan mu, kali ini aku bisa melihat nya, melihat masa depan yang aku kira sudah hancur bersama mu,"
__ADS_1
Edgar berbisik pelan sekali, dia masih memainkan rambut istrinya dan sedang menikmati perasaan debaran di jantung nya yang sudah mati selama tiga tahun belakangan ini.
.
.
"Tuan, kita sudah sampai ..." suara supir pribadi Edgar terdengar begitu lembut, pintu mobil sudah terbuka dan Aluna masih terlelap.
Mungkin Aluna masih kelelahan akibat ulah Edgar tadi malam.
"Ssshhhh ..." Edgar meletakkan telunjuk jarinya di depan bibir agar supir nya tidak menimbulkan suara yang tidak berarti yang nanti nya akan mengganggumu tidur istrinya.
Dengan sangat lembut Edgar menggerakkan badannya, dia keluar lebih dahulu lalu menggendong istrinya dengan amat sangat lembut agar Aluna tidak terbangun.
Siapapun yang melihat sikap lembut Edgar sekarang pasti akan terkejut, karena Edgar belum pernah menunjukkan kelemah lembutan seperti ini.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Edgar melangkah kan kakinya dengan cepat agar ia cepat sampai di kamar pribadinya.
Saat melangkahkan kaki menuju lift, Edgar sudah melihat Clara ada di ruang tamu melipat tangan dan menatap nya dengan tatapan marah, kelihatan nya dia juga baru menangis.
'Ck! kenapa dia ada di sini? merepotkan!'
Gerutu Edgar tidak memperdulikan Clara, Edgar terus saja berjalan menuju lift dan kamar pribadinya.
Edgar sepertinya memiliki hobby baru sekarang, dia suka menatap wajah terlelap istrinya yang seperti ini.
Dia menatap nya beberapa menit kemudian ...
"Kenapa kau bisa secantik ini? semakin aku perhatikan semakin aku cantik, jantung ku berdegup sangat kencang sekarang karena mu, apakah kau juga merasakan hal yang sama? dengan aneh ini membuat ku bersemangat dan seperti hidup kembali ..."
Edgar mulai mengarahkan wajahnya ke arah dada istrinya, ingin mendengarkan debaran jantung Aluna.
Dia juga ingin mendengar nya.
Tetapi sebelum ia lakukan, ketukan pintu langsung mengganggu nya.
"Pasti itu Clara!" geram Edgar tidak suka waktu tenang nya dengan Aluna di ganggu seperti ini.
.
.
"Ctak!"
Edgar membuka pintu dengan mata tajamnya, dan benar saja ada Clara disana menunggu dengan wajah yang memerah dan mata sembab.
__ADS_1
"Kau bilang dia hanya pelayan, kenapa kau menggendong nya? aku sudah menduga ini jika dia pasti memiliki hubungan yang dekat dengan mu?"
"Aku sudah jauh-jauh datang ke tempat ini untuk mendekati mu, kenapa kau begini kepadaku?"
"Apakah karena dia mirip dengan Fiona? apakah aku harus melakukan operasi plastik agar mirip dengan Fiona? agar kau juga mau bersama ku?"
Clara sudah kehilangan kesabarannya, dia menangis karena untuk kedua kalinya dia kalah lagi dengan seseorang dengan wajah yang mirip dengan Fiona.
Edgar menilik ke belakang dimana Aluna masih tertidur, dengan sigap Edgar menutup pintu agar Aluna tidak terbangun karena suara Clara.
"Bicara di ruang tamu saja, nanti istriku terbangun ..." seru Edgar melangkah dengan percaya diri meninggalkan Clara.
Edgar berjalan lebih dulu.
"I ... ISTRI? apa maksudmu Kak? apa maksudmu dengan istri? apakah wanita yang mirip dengan Fiona itu sudah kau jadikan istri? apa-apaan ini? apakah Kakak tahu konsekuensi nya jika Ibu Camelia tahu?"
Clara bertanya sembari berlari mengejar Edgar.
Clara butuh penjelasan untuk ucapan Edgar barusan.
Saat mendengar semua ucapan Clara, Edgar terdiam dan dia sudah kehilangan kesabarannya.
Edgar mengepal tangannya dan menatap Clara dengan sangat tajam.
"Jangan kira karena kita sudah mengenal begitu lama kau bisa mengatakan apapun semau mu, sejak kapan kau memiliki urusan dengan keluarga ku?!"
"Perjodohan kita sama sekali tidak aku terima, jangan berbicara seolah kau memiliki hubungan spesial dengan ku!"
"Dan ya, Aluna adalah istriku, aku sudah menjadikan nya istri sejak awal! bukankah aku sudah pernah katakan ini padamu? aku akan menikahi siapapun yang aku ingin nikahi! dan itu bukan dirimu!"
"Aku sendiri yang akan menghadapi Ayah dan Ibuku, apapun resiko nya aku akan membawa Aluna Minggu depan ke rumah Ayah dan Ibu!"
"Dan satu lagi, jangan pernah sangkut-pautkan Aluna dengan Fiona, mereka berbeda! aku sudah mengatakan semua yang ingin aku katakan jadi pergilah dari kediaman ku sekarang juga!"
Edgar tidak mau berbicara lebih jauh lagi dengan Clara, dia tidak mau mendengar omong kosong, dan juga tidak mau menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia jelaskan kepada Clara.
"Aku tidak terima, aku tidak mau, aku sudah mengalah dulu, sekarang aku tidak akan mengalah, aku tidak mau!" Clara menangis dan berteriak.
Dia berlari pergi dari tempat itu sembari menangis sesenggukan.
Edgar hanya menghela nafasnya dalam-dalam dan kembali ke kamarnya, dia masih lapar dan jika dia meladeni Clara maka emosinya akan meluap-luap dan tak akan bisa ia kontrol.
.
.
.
__ADS_1