Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Kerjasama


__ADS_3

Di perusahaan Agra Group Kanada, Alice dengan sangat bersemangat untuk kembali menjalankan rutinitasnya setelah hari pertama menjadi kekasih Erlan. Ia sampai menyapa semua karyawan dengan penuh ceria, padahal biasanya dia tidak pernah melakukan hal itu.


Begitupun dengan Jerrol yang baru datang, lalu diikuti oleh Malvin. Keduanya bertemu di parkiran. Membuat Malvin segera melangkah mendekat ke arah Jerrol.


"Oh, ternyata kita kembali bertemu di sini, Jerrol. Aku tidak menyangka bahwa kita satu perusahaan, meskipun berbeda proyek. Itu sebabnya kau dan aku jarang sekali terlihat di waktu yang sama. Bahkan aku baru tahu kalau kau tangan kanan dari bos besar," ucap Malvin dengan ramah.


"Ya, aku pun tidak menduga kalau bisa bertemu dengan mantan kekasih dari bos besar kita. Andaikan saja Tuan Erlan tahu kalau ternyata kau itu dulunya memiliki hubungan erat dengan Yoona, pasti dia akan sangat terkejut sekali," sahut Jerrol yang ikut membalas, tanpa ingin kalah.


"Sudah pasti aku akan memilih membawa Yoona pergi kalau seandainya saja Tuan Erlan tahu tentang diriku. Untuk apa aku harus berdiam diri, jika dia mengganggap ku perusak. Lagi pula, aku dan Yoona telah selesai secara baik-baik. Meskipun aku masih sangat mencintainya." Tanpa ada keraguan dan ketakutan, Malvin menjawab dengan tenang.


"Hentikan omong kosong mu itu, Malvin. Kau tidak akan bisa membawa Yoona pergi kemanapun, meskipun nanti Tuan Erlan tahu dengan hubungan kalian. Namun aku, tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Apapun itu, kau tidak akan bisa," ancam Jerrol dengan tekadnya.


"Coba saja menghalangi diriku jika memang kau yakin, tapi sebelum itu terjadi pastikan Yoona—ku selalu baik-baik saja," tegas Malvin. Lalu ia melangkah pergi setelah memberikannya senyuman kecil.


Hari ini, Malvin memiliki tugas baru dari atasannya—Papa Agra. Kebetulan memang ia salah satu orang kepercayaan darinya. Memiliki dia definisi bangunan, membuat mereka tidak selalu bisa bertemu. Terlebih ketika ada pertemuan di luar kota. Hingga kedua tidak saling mengenal, karena memang perusahaan tersebut terbagi dua, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi, masih berada di satu lokasi yang sama.


Saat ini Papa Agra memimpin perusahaan sementara karena Erlan sedang liburan, ia merasa tidak yakin untuk bisa menjalankan semua proyek tersebut sendiri. Hingga meminta agar Malvin turun tangan, itulah sebabnya Jerrol dapat melihat pria itu.


Kehadiran Malvin di tempat, membuat Papa Agra memutuskan agar ia segera menjalankan proyek bersama dengan Alice, sebagai ganti di saat Erlan tidak ada, maka akan diserahkan kepada sekretarisnya.


Tidak ada bantahan dari Alice, begitupun dengan Malvin. Mereka mulai memutuskan untuk memilih menjalankan proyek di tempat terbuka. Keduanya terlihat sangat profesional sekali, dan membuat Jerrol memandang dari jauh.

__ADS_1


"Pria itu secara perlahan mulai masuk ke dalam kehidupan Tuan Erlan, dan sekarang ia pun sudah mendapatkan tempat baik di dalam pandangan Bos Agra. Licik sekali dia mencari kesempatan," gumam Jerrol.


Pekerjaan hari ini membuat Jerrol ingin segera mengadu kepada tuannya, namun tiba-tiba ia dikejutkan setelah melihat sebuah kiriman pesan dari Yoona. Belum sempat membalasnya, namun Papa Agra sudah berdiri mendekat sembari menatapnya.


"Hei, apa kau ingin terus di sana bermain ponsel sepanjang hari? Kau ingin bekerja seperti itu saja?" tanya Papa Agra yang berusaha menyindirnya. Terlebih dirinya paling tidak suka dengan seorang karyawan yang lalai dalam pekerjaan.


"Ah tentu saja tidak, Tuan Besar." Jerrol sedikit merasa takut. Dengan cepat ia menyembunyikan ponselnya sembari berjalan menghampiri atasannya.


"Apa yang sedang kau lihat di ponselmu itu di jam kerja, Jerrol? Apa kekasihmu sedang terluka?"


"Saya akan segera bekerja, Tuah Besar. Namun, saya tidak ada kekasih."


"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu segera, Jerrol. Selama putraku pergi honeymoon, kau dan Alice yang mengurus perusahaan ini. Berikan setiap laporan yang ada kepada Malvin sebelum dia memberikan laporan kalian kepadaku, kau mengerti?"


Selepas kepergian Papa Agra, Jerrol kembali membaca isi dari pesan yang Yoona kirimkan. Ia merasa tidak menyangka kalau Erlan bisa berbuat nekat tanpa pikir panjang.


"Astaga. Dia itu selalu saja membuat orang lain cemas, dan nantinya aku yang akan kena semprot oleh papanya. Bagaimana ini? Pekerjaanku selama Erlan pergi sangat banyak, dan tidak akan mungkin aku bisa pergi sendirian untuk menyusul Erlan. Terkecuali kalau aku, Alice, dan Malvin bisa memutuskan untuk pergi bertiga menyusul mereka. Namun tidak sekarang, tunggu besok pagi saja," gumam Jerrol.


Jerrol masih terdiam dalam kebingungan, tiba-tiba Alice melambaikan tangan kearahnya sembari berteriak keras. "Hei, Jerrol! Kemarilah!"


"Iya-iya aku akan segera ke sana."

__ADS_1


Jerrol masih berada sedikit jauh, tetapi Malvin menatapnya dengan tajam. "Kau mengajaknya ke sini, Alice? Untuk apa?"


"Apa kau lupa, Malvin? Kita juga harus memberikan laporan ini kepadanya nanti. Memangnya kenapa? Kau tidak suka dengan Jerrol?" Alice merasa heran.


"Ya, jujur saja aku sedikit tidak suka. Terlebih dia terlalu ingin mencampuri urusanku tentang wanita. Sudahlah, aku pergi saja, Alice. Kau bisa lanjutkan bekerja dengannya. Ini juga sedikit lagi akan selesai. Setelah jam makan siang, kita kembali bertemu," sahut Malvin yang dengan terang-terangan memperlihatkan rasa tidak sukanya itu.


"Hei, kau serius?" Alice semakin merasa aneh. Namun, ia tidak memiliki jawaban untuk harus menahan Malvin pergi.


"Aneh sekali dengannya, dan apa katanya tadi? Tentang wanita? Siapa memangnya wanita itu? Dan sepertinya aku pergi melihat Malvin, tapi di mana?" batin Alice.


Tiba-tiba Jerrol mengejutkan bahunya sampai dia terkejut. "Astaga kau ini! Sepertinya di rumah sakit-"


"Apa yang di rumah sakit, Alice?"


"Tidak, maksudku Malvin. Ya, aku pernah melihatnya di rumah sakit waktu itu. Lalu apa masalah kalian berdua sampai Malvin tidak ingin bekerja di sini jika ada kau?"


"Memang benar, Alice. Kita pernah bertemu dengan Malvin saat di rumah sakit. Itu tepatnya saat dia menjenguk Yoona. Mereka memang memiliki hubungan dekat, tapi mungkin sekarang sudah berpisah," jelas Jerrol yang tidak menutup apapun rahasia.


"Oh ya ampun, kau serius? Itu artinya ... wah! Malvin bisa mendapat masalah besar kalau seandainya Erlan tahu yang sebenarnya. Tapi, itu masih perkiraan kita, dan yang kedua bisa saja Erlan tidak akan mempedulikan hal itu. Apa lebih baik aku ceritakan saja yang sebenarnya?" Alice terlihat begitu antusias. Ia sampai bertepuk tangan sembari tersenyum.


"Jangan, Alice. Aku tidak ingin ada masalah dan membuat Papa Agra marah. Tentu saja mereka akan bertentangan apalagi jika sampai Malvin tahu kalau sikap Erlan terhadap Yoona sangatlah kasar. Bisa-bisa perusahaan ini heboh hanya karena permasalahan pribadi. Sudahlah, hentikan semua pemikiran buruk itu, Alice. Sebab, aku sudah berjanji kepada tuanku, dan sebaiknya kau sebagai sekretaris yang baik hanya perlu untuk bersikap manis saja tanpa mengecoh apapun," pinta Jerrol demi membuat wanita itu mengerti.

__ADS_1


Tidak segera Alice jawab, namun justru dirinya memikirkan sesuatu dalam batinnya. "Andaikan saja kau tahu, Jerrol. Bahwa aku bukanlah hanya sebagai sekretaris biasa, tapi sudah berhasil memenangkan hati Tuan Muda. Itu artinya aku juga berhak mengecoh apapun tentang masalah pribadi kekasihku sendiri."


__ADS_2