
“Ernio! Apa sudah tidak waras? Di mana akal sehatmu? Menikah katamu, begitu? Tidak dan tidak akan pernah. Lebih baik berhentilah berpikir demikian karena sekarang aku kakak iparmu, bukan calon istrimu. Lagi pula kita sudah berpisah begitu lama sejak di bangku sekolah. Jadi berhenti, berpikir tidak sehat," ketus Yoona dengan tegas, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan pria itu.
Terdiam dalam kebisuan, dan begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di dalam benaknya. Meskipun Ernio tahu, bahwa permintaannya tentang menikah hanya sekedar lelucon semata untuk sekarang, namun ia masih sama sekali tidak mengerti dengan semua maksud ucapan dari Yoona.
Mengejar langkah Yoona yang sudah semakin menjauh, lalu menarik tangannya sampai Yoona bergerak lebih mendekat, hingga deru nafas keduanya terasakan.
"Apa maksudnya tentang kakak ipar? Kau sedang bercanda denganku, Yoona. Bertahun-tahun tidak bertemu, lalu sekarang kau mengatakan lelucon yang aneh padaku," tanya Ernio sembari tersenyum kecil saat ia berharap semua dugaannya tidak benar.
"Tidak sama sekali karena memang aku sudah menikah dengan kakakmu, yaitu Erlan Chris Agra. Dia itu kakak kandungmu, kan? Jadi, lepaskan aku." Mendorong perlahan tubuh Ernio selepas Yoona berucap.
Masih membuat Ernio tidak ingin menerima sebuah fakta yang buruk saat pertama kali kepulangannya. Terlebih ia pergi karena ingin memiliki hidup yang jauh lebih baik dan mandiri, apalagi saat ia teringat ketika Yoona pernah mengakhiri hubungannya karena sebuah materi saat dirinya masih menjadi putra yang manja.
"Kakakku dan Yoona sudah menikah, itu artinya mantan kekasihku sendiri sudah direbut oleh Kak Erlan. Apa dia tidak memiliki gadis lain sampai harus merebut wanita yang sejak dulu aku cintai? Otaknya mungkin sudah tiada," gerutu Ernio dalam batinnya.
Yoona terus menjauh, namun Ernio kembali mengejarnya. Tiba-tiba menarik Yoona untuk pergi ke sebuah toilet bandara.
"Kau mau bawa aku ke mana? Lepaskanlah!" Yoona berontak, namun Ernio sama sekali tidak peduli dan tidak menjawab apapun sebelum tujuannya tiba.
"Tetaplah di sini sebentar, Yoona. Aku mohon!" paksa Ernio dengan keras. Dan tidak membiarkan Yoona membuka pintu toilet.
"Tapi, kenapa harus di dalam sini? Kita bisa bicara di luar, kan? Buka pintunya, Ernio. Aku tidak ingin di sini denganmu, cepatlah." Membuat Yoona terus berontak sampai berusaha mendorong tubuh Ernio yang jauh lebih kuat dan lebih berotot daripada saat terakhir kalinya mereka bertemu.
__ADS_1
"Jangan membuatku marah, Yoona. Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku hanya ingin sebuah kejujuran. Di luar terlalu bising, maka dari itu aku membawamu ke sini. Jangan buat aku menyakitkan, jadi patuhilah aku sedikit."
"Memangnya apa yang ingin kau katakan padaku?" Yoona mulai terlihat sabar.
"Jawab aku dengan jujur, bahwa semua yang sudah kau ucapkan itu tidak benar. Kau tidak benar-benar menikah dengan kakakku, kan? Setahuku, dia memiliki tunangan."
"Ceritanya rumit, tapi itulah kenyataannya sekarang. Aku memang sudah menikah bersama Mas Erlan, dan awalnya aku sama sekali tidak tahu kalau ternyata dia itu kakakmu. Itulah sebabnya aku ada di sini karena Emma—adikmu yang memintaku untuk datang menjemput. Tidak ada kebohongan apapun, Ernio. Karena diriku tidak sepertimu yang berusaha menyembunyikan identitas aslimu itu padaku dulu," sahut Yoona dengan cepat.
"Hei! Aku menyembunyikan identitas karena memang aku memiliki tujuan. Papa Agra sendiri yang memintaku untuk tidak mengenalkan identitas asliku karena ia berpikir kalau di luar sana akan banyak wanita berhati busuk yang hanya mengincar harta kekayaan keluargaku saja. Namun pada akhirnya aku sadar, bahwa kau tidak seperti wanita itu, Yoona. Lalu sekarang aku kembali, dan berpikir untuk mencari mu lagi. Namun ternyata ... kau tidak pergi kemanapun, justru kita menjadi keluarga," bantah Ernio dengan raut wajahnya yang terlihat sedih.
Yoona terdiam ketika ia menyadari sebuah kesalahan kecil yang bisa membuatnya berpikir buruk tentang orang lain, hal itu membuat batinnya berucap. "Ternyata Ernio sama sekali tidak bersalah saat ia berusaha menyembunyikan identitasnya dulu saat kami sekolah dulu. Tapi justru, ia anak yang sangat penurut yang rela terlihat biasa saja, padahal ia terlahir kaya raya. Apa mungkin aku sudah begitu salah memikirkan keburukan tentang Ernio selama ini?"
"Lalu kenapa tiba-tiba kau terdiam?" Ernio bertanya sembari mengusap pipi Yoona dengan sengaja. Sentuhan kecil yang ingin ia rasakan atas kerinduannya selama ini.
Bukannya takut, tetapi Ernio justru tersenyum manis. "Lucu sekali. Sekarang kau kakakku, Yoona. Tapi tidak apa-apa, seorang kakak ipar masih bisa manjadi calon istri."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Abaikan saja ucapan ku barusan, Yoona. Oh ya, aku juga membawa hadiah untukmu, tapi sepertinya koperku tertinggal di sana."
"Aku tidak mau hadiah," jawab Yoona dengan cepat sembari mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Ayolah, Yoona. Hadiah kecil yang aku berikan untukmu memang tidak seberapa, tapi semua itu aku beli dengan hasil kerja kerasku sendiri. Saat melanjutkan pendidikan, diam-diam aku bekerja tanpa diketahui oleh Papa Agra dan Kak Erlan. Karena jika mereka tahu, pasti mereka akan langsung memintaku pulang ke sini. Nanti aku akan ambilkan hadiahnya, ya."
Semakin banyak mengenal Ernio, semakin membuat Yoona tersadar bahwa mantan kekasihnya itu terlihat semakin berubah. Bahkan seperti orang asing baginya.
"Dia terlihat jauh berbeda, apalagi dia sampai rela bekerja keras hanya demi membelikan hadiah untukku. Jika aku menolak, rasanya aku terlalu buruk sekali. Mungkin ... firasatku tentang sifatnya yang sudah salah, apalagi setiap orang bisa saja berubah-ubah menjadi lebih baik," batin Herlin.
"Baiklah. Aku akan menerima hadiahmu, tapi aku meminta sebuah syarat."
"Syarat? Memangnya aku harus apa?" Ernio terlihat heran.
"Syaratnya itu sembunyikan tentang masa lalu kita pada semua keluarga. Aku tidak ingin mereka berpikir buruk tentang kita berdua, apalagi sebentar lagi akan ada pesta. Jadi, aku takut merusak semua suasana pesta itu," pinta Yoona yang berusaha mencari kesempatan.
"Yoona, apa kau malu jika dunia tahu bahwa kita pernah bersama?" Membuat Ernio justru berpikir hal yang lain.
Dengan cepat Yoona menggelengkan kepalanya sembari berucap. "Sama sekali tidak, Ernio. Aku tidak pernah berpikir demikian karena bagiku, masa lalu tetaplah masa lalu, dan sama sekali tidak membuatku malu. Karena di sana juga memiliki tempat yang indah, meskipun sekarang kita sudah bukan lagi satu."
"Terima kasih karena kamu masih mengganggap diriku sebagai masa lalumu, Yoona. Baiklah. Aku akan berusaha menyembunyikan tentang rahasia ini, tapi aku mohon untuk tidak bersikap tak acuh padaku nanti. Kau bisa?"
"Tentu, kita sudah menjadi saudara ipar. Maka tidak masalah. Lebih baik sekarang kita kembali, Ernio. Pak supir pasti sudah lama menunggu."
"Aku tahu itu, tapi tunggu dulu, Yoona." Tiba-tiba Ernio menatap wajah Yoona dengan sangat dalam hingga menarik pinggang wanita itu untuk lebih mendekat. Terlebih hanya mereka berdua yang berada di dalam satu toilet yang sama.
__ADS_1
"A—apa yang ingin kau lakukan?" tanya Yoona sampai gelagapan, namun wajahnya tidak bisa berpaling dari Ernio saat pria itu mulai memegangi lehernya juga.
"Yoona, aku ingin ... kau-"