Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Menghilang


__ADS_3

“Aku egois katamu? Yoona, kau tidak berpikir jika dirimu jauh lebih egois dariku? Menikahi calon kakak iparmu sendiri adalah sebuah kesalahan bagimu, Yoona. Bahkan kematian oleh ulah mu. Lantas, masih mau juga mengatakan aku ini egois? Baiklah, karena aku memang egois, maka kita harus berpisah di sini. Aku tidak sedang bercanda, tolong pergilah dengan mencari jalanmu sendiri," sahut Erlan dengan tegas akan keputusan yang sudah bulat.


"Akan lebih baik seperti ini supaya aku tidak perlu terus terjebak dengan pernikahan kebohongan ini, Yoona. Biarkan urusanku dengan Papa Agra menjadi tanggung jawabku saja," batin Erlan yang sudah memikirkan semuanya dengan sangat baik.


Terlihat tidak ada kebohongan di mata Erlan, membuat Yoona semakin yakin bahwa pria itu tidak sedang bermain-main. Dengan cepat Yoona berpegangan tangan pada Erlan sembari berharap agar dirinya tidak ditinggal sendirian.


"Mas Erlan, tolong pikirkan sekali lagi. Aku mohon ... jangan tinggalkan aku di hutan seperti ini," rengek Yoona dengan penuh ketakutan.


"Keputusan ku tidak bisa dirubah, tolong lepaskan tanganku." Erlan semakin gegabah.


"Tidak, Mas. Jangan lakukan itu."


"Lepaskan tanganku, Yoona! Aku sudah berubah pikiran, jangan menggangguku lagi." Erlan terus bersikeras.


"Mas Erlan, aku berjanji akan selalu mematuhi mu, tapi tolong jangan lakukan ini." Yoona sudah mulai menangis dengan penuh cemas.


Dengan kuat Erlan menarik tangannya sampai membuat Yoona hampir saja kehilangan keseimbangan.


Mereka akhirnya benar-benar berpisah. Tidak ada harapan lagi bagi Yoona untuk bisa mengikuti jejak Erlan karena pria itu berlari demi bisa menjauh.


Walaupun sama-sama tidak tahu jalan yang harus ia tempuh, namun Erlan memilih jalan ke depan, tetapi tidak dengan Yoona yang memilih untuk tetap terdiam di dalam gubuk tanpa berani beranjak pergi.


"Meskipun sekarang kamu meninggalkan diriku di sini, Mas Erlan. Tapi, aku akan tetap menunggumu kembali untuk menjemput ku. Mungkin ... dengan cara ini aku bisa menebus semua kesalahanku terhadapmu. Aku yakin kau akan datang untuk menemui ku lagi," batin Yoona dengan mencoba menyakinkan dirimu sendiri.


Keyakinan Yoona yang belum tentu tercapai, masih membuatnya tetap setia menunggu meskipun api unggun sudah mulai padam, dan sisa jagung bakar sudah mulai habis.


Sudah satu jam penuh Erlan meninggalkannya, tiba-tiba Yoona mulai merasa lapar. Namun ia sadar, tidak ada korek api untuk bisa membakar jagung kembali. Terlebih ia belum pernah berada di situasi malang seperti ini sebelumnya.


Hujan deras yang kembali mengguyur hutan dapat membuat Erlan berusaha mendirikan tenda, namun ia tahu bahwa hanya ada satu tenda yang ia bawa.

__ADS_1


"Astaga ... kenapa aku tidak meninggalkan tenda ini untuk Yoona saja? Bagaimana jika dia pergi dalam cuaca seperti ini?"


Hati Erlan masih merasa sedikit cemas setelah meninggalkan Yoona, apalagi hujan ini membuatnya kembali teringat saat kebersamaan di dalam tenda yang penuh kehangatan.


Kecerobohan yang ia lakukan membuat dirinya mulai merasa menyesal, Erlan terlihat tidak tenang, dan berharap hujan kembali berhenti supaya bisa kembali menemui istrinya.


Namun sayangnya, angin berhembus lebih cepat daripada sebelumnya sampai membuat sebuah pohon besar tumbang tidak jauh dari posisi tendanya. Hati Erlan semakin tidak menentu, rasanya ia ingin sekali terbang untuk melihat istrinya.


"Gawat, Yoona pasti bisa terluka. Kenapa aku selalu melakukan hal bodoh tanpa banyak berpikir? Sebaiknya aku kembali menemuinya lagi," gumam Erlan.


Tanpa memikirkan tentang tenda miliknya, ia berlari berharap lebih cepat. Namun tiba-tiba sebuah batang kayu kecil kembali terjatuh dan menimpa setengah tubuhnya.


Membuat Erlan kesulitan untuk bergerak, apalagi tangannya yang terasa licin mampu membuat kayu tersebut bergerak saat ia ingin angkat.


"Ah sial! Yoona, kau pasti sangat ketakutan. Maafkan aku, Yoona." Erlan bergumam sembari berharap agar bisa mengangkat batang pohon itu.


Tetapi sayangnya, kondisinya yang sudah melemah ditambah dengan udara dingin yang semakin menusuk tulang mampu membuat Erlan tiba-tiba kehilangan kesadaran di tengah hujan yang terus turun deras membasahi tubuhnya.


"Mas Erlan, kenapa dia benar-benar ingin meninggalkanku? Aku sangat takut."


"Mas Erlan, kau di mana?"


"Aku takut ... Mas Erlan datanglah, Mas Erlan."


Membuat trauma kecil bagi Yoona sampai wanita itu tertidur dalam keadaan panas tinggi. Ia tidak tahu bahwa sejak tadi terus bergurau memanggil nama Erlan, hingga matanya benar-benar tertutup rapat.


***


Jerrol sudah sangat cemas, ia sampai lalu-lalang terus-menerus dengan menatap ke arah ponselnya sejak tadi. Apalagi hujan deras juga kembali mengguyur kota, dan semakin membuatnya panik.

__ADS_1


Terlebih Jerrol belum mengatakan apapun kepada Papa Agra dan yang lainnya tentang keberadaan Erlan dan Yoona sekarang. Namun sepertinya, ia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


"Ini sudah terlalu lama. Harusnya Yoona bisa menghubungiku sekarang," gumam Jerrol setelah menekan beberapa panggilan yang tidak bisa tersambung.


Kecemasan itu membuat Alice yang sudah siap siaga menguping ingin segera mengetahui keberadaan dari Erlan, tiba-tiba wanita itu mendekat saat Jerrol ingin melangkah pergi.


"Tunggu dulu, Jerrol. Apa kau ingin bertemu dengan Erlan? Jika ya, biarkan aku ikut denganmu sekarang."


"Alice, ini bukan sebuah lelucon. Tolong! Jangan halangi jalanku sekarang."


"Aku tetap akan menghalangi jalanmu kalau kau tidak mau jujur denganku. Jika tidak, mana mungkin sekarang kau cemas, Jerrol. Sekali lagi katakan di mana keberadaan Erlan yang sebenarnya? Atau aku akan membongkar tentang istri kembar milik Erlan. Kau mungkin tidak akan bisa menduga kalau sampai Papa Agra mengetahuinya, bukan?" ancam Alice demi mendapatkan keinginannya.


Membuat Jerrol tidak memiliki pendapat yang lain. "Oke, aku akan katakan padamu yang sebenarnya. Erlan dan Yoona tidak benar-benar pergi honeymoon, melainkan mereka mendaki gunung demi bisa mencari sebuah kebenaran. Itulah yang aku tahu, dan tolong jangan mempersulit tugasku jika kau ingin merengek setelah mengetahui hal itu, Alice."


"Apa? Mendaki? Tapi, kenapa begitu nekat? Jerrol, aku tidak mau kau harus menghubunginya sekarang. Aku tidak mau jika sampai terjadi sesuatu dengannya."


"Sudah, tapi tidak jawaban yang aku dapat. Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Sebaiknya kita harus segera menyusul mereka karena Yoona juga sebelumnya mengirimkan alamat pendakian itu padaku."


"Tentu saja kita harus menuju ke sana dan membawa beberapa tim pencarian. Apalagi kepergian mereka sudah lebih dari dua puluh empat jam," sahut Alice dengan sangat panik.


"Kau benar. Sebaiknya siapkan surat cuti untuk Pak Agra, Alice. Tidak akan mungkin kita pergi tanpa meninggalkan pemberitahuan apapun. Jika sudah, aku akan menjemputmu nanti."


"Tentu saja, tapi sebelum itu kita sebaiknya harus membeli beberapa-"


"Berhenti kalian berdua!" Terdengar suara teriakan dari seorang pria. Membuat Alice dan Jerrol menoleh secara bersamaan.


"Malvin? Kau sudah mendengar semuanya?"


"Ya, aku dengar kalau kalian membahas tentang Yoona. Jadi sekarang Yoona dan Erlan menghilang? Jika begitu, aku harus turun tangan untuk mencarinya," tegas Malvin.

__ADS_1


"Tidak bisa, Malvin. Awalnya aku memang berpikir untuk memberitahumu, tapi sepertinya Pak Agra tidak akan memberikan kita izin cuti secara bersama-sama seperti ini. Biarkan aku dan Alice yang mencari mereka."


"Jangan mengaturku, Jerrol. Bahkan aku lebih baik kehilangan pekerjaan ini daripada harus membiarkan hidup kekasihku di dalam hutan seperti itu," desak Malvin tanpa ada yang bisa menentangnya.


__ADS_2