
"Aku tidak ingin macam-macam, Alice. Melainkan aku hanya ingin melakukan tugasku seperti yang sudah aku pikirkan matang-matang. Lagi pula kaulah yang sudah merasuki pikiran dengan semua niat buruk yang sudah aku perbuat, maka sekarang aku ingin kita bisa bertobat," sahut Ernio sembari terus membawa mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Alice merasa sangat ketakutan sampai membuat dirinya berpegang erat, namun ia masih tidak mengerti dengan semua hal yang sedang ia dengar.
"Tobat katamu? Bagaimana bertobat sedangkan kau terus mengebut sampai membuatku ketakutan. Ernio, hentikan mobilnya! Aku tidak ingin pergi dengannya, dan semua itu bukanlah salahku."
"Semuanya salahmu, Alice. Sampai aku harus terperdaya atas semua keburukan yang telah kau hasut. Maka sekarang kau harus membayar semua perbuatan yang sudah kau buat. Kita mati sama-sama, Alice. Aku tidak ingin mati sendiri, maka dari itu, aku ingin mati berdua denganmu. Agar di kelahiran selanjutnya kau bisa berbuat baik dengan hidup bersamaku," jelas Ernio dengan niat buruk yang sudah ia pikir.
Sontak membuat Alice sangat merasa ketakutan di saat tindakan Ernio yang sudah semakin gila.
Berusaha membuka pintu mobil, tetapi justru tidak bisa karena Ernio sudah menguncinya dari depan. "Turunkan aku cepat, Ernio! Jika kau ingin mati, maka mati saja dirimu, tapi jangan ajak dirimu."
"Terserah apa katamu, Alice. Namun aku, tidak akan pernah menghentikan mobilnya sampai tujuanku belum tiba. Sekarang ikutlah denganku agar kau bisa lebih tenang. Lagi pula aku sudah ikhlas dengan kebahagiaan Yoona, apalagi setelah melihat Kak Erlan yang mulai tertarik dengan wanita itu. Jika saja Kak Erlan tidak demikian, maka mungkin aku akan memikirkan cara untuk tetap kembali hidup sampai seratus tahun lamanya. Namun sekarang tidak lagi, kaulah yang harus mendengarkan diriku daripada terus merusak kebahagiaan mereka berdua!" tegas Ernio yang semakin tidak terkendali.
"Kau gila! Tidak, Ernio. Jangan pikirkan hal bodoh karena aku tidak ingin bunuh diri denganmu!" Alice terus berteriak sembari ia mencoba memaksa agar bisa merampas kendali mobil dari Ernio. "Jika memang kau ingin tiada, maka kau saja sendiri. Aku bahkan tidak berniat, apalagi kalau harus mati denganmu!"
"Percuma saja kau telah remnya, Alice. Karena aku bahkan sudah memotong tali rem agar mobil ini tidak berhenti. Ha-ha-ha lihatlah sekarang, Alice. Kau bahkan sangat takut sekali mati." Ernio sudah pasrah bahkan ia berharap niatnya bisa lebih cepat terkabulkan.
"Maafkan aku, Yoona. Meskipun aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk terus menjagamu, tapi sepertinya Kak Erlan yang akan melanjutkan janjiku ini. Jika seandainya saja Kak Erlan memang sudah menaruh perasaan padamu, maka aku ikhlas membiarkan cintaku pergi dengannya. Terlebih dia kakak kandungku, dia berhak atas istrinya, namun aku tidak. Bahkan dosaku sendiri karena melecehkan dirimu jauh lebih berat daripada harus memperlihatkan diriku lagi di hadapan kalian semua. Aku pun sudah menuliskan surat terakhir agar kalian tahu dengan niat kepergian ku ini," batin Ernio yang perlahan mulai memejamkan matanya.
Tindakan bodoh lagi yang Ernio lakukan, justru semakin membuat Alice tidak habis pikir. Terlebih di saat pria itu mulai memejamkan mata seperti sedang tidak terjadi apapun.
__ADS_1
Tanpa tunggu lama, Alice mulai memegang kendali mobil, namun tetap saja mobil tersebut melaju begitu cepat hingga melewati jalan perbatasan yang seharusnya tidak pernah ia lewati. Terlebih di ujung sana, ada sebuah tebing yang langsung turun ke bawah danau.
Alice berusaha menghentikan mobilnya, ia berharap agar jalan tetap seimbang. Namun ternyata tidak, dugaannya salah karena di depan adalah jalan turunan.
"Aku tidak boleh mati, tidak ... jangan dulu, jangan! Aku belum sempet menikah dengan Erlan, jangan ...." Alice berteriak cukup keras sampai ia berusaha berlindung di belakang tubuh Ernio setelah berusaha keras menarik pria itu.
Namun justru, Ernio terus tertawa lepas meskipun maut sedang berada di depannya. "Jangan takut, Alice. Kita hanya berharap di kelahiran selanjutnya otak mu bisa sedikit berubah untuk tidak menjadi pelakor dari suami orang lain. Ayo peluk aku, Alice!"
"Kau gila! Kau sangat-" Tiba-tiba saja ucapan Alice terhenti saat mobil mereka mulai menghantam batu besar dari arah samping kiri Ernio.
Alice berpikir jika hari ini adalah hari terakhir mereka, namun ternyata tidak. Batu besar tersebut rupanya menjadi penghalang saat mobil mereka sedikit lagi akan terjun ke bawah jurang.
"A-aku belum mati?" tanya Alice sembari meraba tubuhnya sendiri. Namun tidak dengan Ernio yang justru sudah tidak bernyawa.
Tanpa Alice sadari jika mobil tersebut berada di ujung tebing, dan tidak boleh untuk bergerak sedikitpun karena jika tidak maka batu besar akan kembali terguling ke bawah.
Namun sayangnya, Alice tidak menyadari jika Ernio sudah benar-benar mati. Ia terus berusaha membangunkan agar Ernio bisa terjaga, tetapi saat itu ia tersadar jika pria itu tidak lagi bernafas.
"Oh tidak. Aku tidak bisa ikut dengan Ernio dari sini. Secepatnya aku harus ke luar dari mobil ini," gumam Alice dengan tangannya yang bergetar. Ditambah rasa sakit dari keningnya yang sudah berdarah.
Pijakan pertama membuat kondisi mobil merasa bergerak, hal itu membuat Alice sangat ketakutan sampai ia berusaha melihat ke bawah sana.
__ADS_1
Matanya melotot sempurna saat Alice baru menyadari jika maut datang hanya tinggal beberapa detik lagi dari lagi.
"Tolong selamatkan aku, Erlan. Tolong ...." Alice mulai menangis dengan memeluk lututnya sendiri. Ia merasa begitu terburuk, dan berharap ada keajaiban yang datang dengan kehadiran kekasihnya.
Namun sayangnya, tangisannya itu semua keras sampai tidak menyadari tubuhnya bergerak hingga membuat keseimbangan mobil tidak lagi menetap.
Dengan perlahan mobil tersebut mulai terjatuh bersamaan dengan batu besar yang juga ikut jatuh melayang. Membuat Alice sudah pasrah sampai ia menutup matanya dengan cepat.
Suara benturan keras sampai terdengar ke atas tebing, hingga membuat pengemudi dari sebuah truk besar yang sedang bekerja di dekat sana ikut terkejut.
"Apa itu? Macam meteor jatuh saja. Hei! Kalian semua! Ayo kita lihat!" ajak seorang pria paruh baya sembari berteriak ke arah teman-temannya yang lain yang juga sedang mengerjakan proyek mereka.
***
Lain halnya dengan Mama Sania yang saat itu sedang makan dengan tenang. Namun saat ia ingin membawa piring kotornya, tiba-tiba saja terjatuh sampai hampir mengenai kakinya.
Yoona yang merasa haus, ia ingin mengambil minumnya. Namun tidak sengaja mendengar suara percikan kaca yang keras.
"Ma, kau tidak apa-apa? Piringnya sampai terjatuh. Ya sudah biarkan aku yang membersihkannya," ucap Yoona dengan menawarkan diri secara baik-baik.
"Tidak perlu. Mungkin piringnya terjatuh karena ulah mu dan suamimu itu yang sejak tadi tidak memberikan kami izin masuk. Maka dari itu kau diam-diam menyumpahi makanan yang sedang aku makan, bukan?"
__ADS_1
"Kenapa kau harus menuduhku segala, Ma? Jika memang tidak ingin aku bantu, ya sudah. Tidak perlu menghina ataupun berpikir buruk tentang putrimu sendiri," ketus Yoona dengan penuh kekesalan. Ia segera melangkah pergi meskipun ia ingin sekali membantu ibunya.