
Samar-samar melihat ke arah telapak kaki seseorang yang sedikit tertutup dengan pepohonan. Membuat Yoona sangat yakin jika itu orang yang sedang mengintai mereka. Ingin segera memberitahukan kepada Erlan, tetapi suaminya terlihat sedang mengintai ke arah yang lain.
Bergerak untuk ingin berdiri di hadapan Erlan, tetapi ia tidak menduga langkahnya yang ceroboh membuat mereka terlihat dari pada penjahat. Tiba-tiba seorang pria bersenjata ingin segera melukai Yoona, tetapi dengan cepat Erlan segera menembaknya.
Suara pelatuk senjata yang keras membuat teman dari penjahat bergegas untuk bisa kembali melukai mereka, tetapi Erlan berhasil membawa Yoona berlari. Keduanya berlari tanpa tahu arah, dan tidak menyadari jika mereka telah kehilangan arah dari peta yang Tante Rega berikan.
Sembari berlari sesekali Erlan menoleh ke belakang, berharap untuk bisa memastikan penjahat itu tidak menemukan mereka. Namun sialnya, ia menyadari mereka sedang menuju semakin mendekat. Tetapi, Erlan merasa takut jika Yoona sampai terluka.
"Lari lah lebih dulu, Yoona, cepatlah!" paksa Erlan sampai mendorong istrinya perlahan.
Yoona merasa cemas, ia takut meninggalkan suaminya sendirian dalam bahaya. "Tidak, Mas Erlan. Aku akan membantumu."
"Lari, Yoona, lari! Selamatkan dirimu dulu, aku akan mengecoh kan mereka. Ayo cepat! Lari dan bersembunyi." Erlan terus memaksa.
Meskipun tidak ingin, namun dengan sangat berat hati Yoona berlari. Keduanya telah pergi dengan arah yang berbeda, dan Erlan berusaha membuat para penjahat hanya mengejar dirinya sendiri.
Posisi Erlan yang tidak terlalu melihat langkahnya, ia tiba-tiba terjatuh hingga membuat senjatanya terlempar sedikit jauh. Berusaha mengambil senjatanya, tetapi tiba-tiba seseorang ingin segera menusuknya.
Untung saja dengan cepat, Erlan berhasil menghindar dari bahaya. Ia berhasil menendang tangan penjahat tersebut dari samping hingga senjata tajam itu terlempar jauh.
Melawan seorang penjahat tanpa memakai senjata apapun, namun kekuatan Erlan sebanding dengan pria bertubuh besar itu. Membuat Erlan sedikit kewalahan, namun ia berusaha untuk bisa mengambil kembali senjatanya.
Berhasil, ia segera memberikan tiga tembakan hingga seorang tertinggal seorang diri. Namun ternyata, penjahat yang terakhir berpikir sangat licik. Pria itu memilih untuk berlari ke arah lain demi bisa menemukan Yoona, padahal sedikit lagi hampir mendekati Erlan.
Tembakan kembali Erlan lakukan, namun tidak tepat sasaran. Ia semakin merasa ketakutan saat mengingat Yoona yang entah ada di mana.
Terdengar suara teriakan Yoona, dan ternyata pria itu telah berhasil menangkapnya. Dengan senjata tajam secara ancaman dari pria itu, membuat Erlan tidak berani mengarahkan senjata.
"Jika kau ingin wanita ini selamat, maka turunkan pistol mu," perintah seorang penjahat.
__ADS_1
Tanpa bisa bertindak lebih jauh daripada keselamatan Yoona yang akan jadi bahaya, Erlan memilih untuk menurut meskipun ia terpaksa.
Berbeda dengan Yoona yang berusaha menggelengkan kepalanya demi membuat Erlan pergi dari sana. Namun, tidak Erlan pedulikan.
"Apa tujuanmu yang sebenarnya? Jika kau ingin kematian ku, maka lepaskan wanita itu, dan tangkap aku saja," pinta Erlan sembari dengan perlahan membawa salah satu di belakang tubuhnya.
"Jangan berani macam-macam! Aku menginginkan kalian berdua, maka sekarang ikuti aku."
"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi, bisakah kau membiarkan istriku jalan baik-baik?"
"Hei, jangan banyak bicara! Cepat jalan di depanku!" perintahnya.
Erlan pun menurut dengan berjalan lebih dulu, namun sebuah pistol yang lain sudah ia genggam di dalam tangan tanpa terlihat. Berusaha mencari kesempatan demi bisa membuat pria penjahat itu kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya Erlan pun berhasil mengalahkannya.
Dalam ketakutan, membuat Yoona segera berlari memeluk Erlan. Ia sampai menangis, namun suaminya berusaha menenangkan dengan mengusap rambutnya.
"Mas Erlan, aku takut sekali ...."
"Kau tidak bersalah, Mas. Aku yang seharusnya bisa menahan mu untuk tidak datang ke hutan ini."
Mendengar itu, Erlan hanya bisa terdiam sembari membiarkan dirinya tetap berada di dalam pelukan Yoona. Namun, membuat batinnya berkata. "Bahkan sampai tangannya bergetar karena ketakutan pun, Yoona masih tetap menyalahkan dirinya sendiri. Apa dia sebegitu tidak ingin aku tiada? Mungkinkah dia sangat mencintaiku?"
"Ya sudah. Kalau begitu sebaiknya kita segera kembali dari sini, Yoona."
"Baik, Mas Erlan. Tapi ... apa sepertinya kita sudah tersesat? Sebelumnya kita tidak melewati jalan yang ini? Dan di mana peta yang Tante Rega berikan, Mas?"
"Peta? Ya ampun. Sepertinya aku sudah menjatuhkan kertas itu saat kita dikejar penjahat tadi, Yoona. Mungkin ... memang kita sudah tersesat, tapi kita akan berusaha keluar dari sini. Tenanglah," sahut Erlan yang berusaha terlihat aman. Meskipun ia sangat cemas dengan keberadaanmu.
"Gawat! Bagaimana caranya kami keluar dari hutan ini? Bahkan sekarang ponselku tidak ada sinyal," batin Erlan.
__ADS_1
Tiba-tiba Yoona menurunkan tas ransel kecil miliknya. Ia berusaha mengambil ponsel, namun lebih dulu Erlan memperlihatkan sinyal ponselnya.
"Sepertinya di sini tidak akan ada jaringan, Yoona. Maka lebih baik kita berjalan sampai bisa menemukan sungai. Biasanya sungai akan membawa kita ke perkampungan. Pasti di sekitar sana ada perkampungan. Apa kau masih sanggup untuk berjalan?"
"Aku sanggup, Mas Erlan," sahut Yoona dengan cepat. Namun, ia sengaja tidak memberitahukan tentang betisnya yang sedang terluka akibat tergores ranting pohon saat berlari sebelumnya.
Langkah yang Yoona paksakan, membuat kakinya tidak bertenaga, dan hampir terjatuh. Namun untungnya Erlan dengan cepat menahan tubuh istrinya. Pria itu mulai merasa heran saat melihat Yoona berjalan tanpa seimbang.
"Apa kau terluka?" tanya Erlan sembari menundukkan kepalanya.
Terlihat sebuah luka yang besar, membuat Erlan segera mengangkat celana Yoona untuk tidak terkena lukanya.
"Duduklah di sini sebentar, Yoona. Kau terluka, dan biarkan aku mengobati lukamu dulu."
"Ini luka yang kecil, Mas Erlan." Yoona berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Jangan keras kepala, kau bisa pusing jika terlalu banyak kekurangan darah. Di sini tidak ada rumah sakit, jadi tolong dengarkan ucapan dariku saja," paksa Erlan dengan tegas.
Erlan tahu jika Yoona sedang berpura-pura kuat, padahal luka sebesar itu sudah pasti sangat kesakitan. Dengan cepat ia membalut luka istrinya dengan perban yang sudah ia siapkan sejak tadi.
Tiba Erlan menunduk sembari berkata. "Ayo naik ke atas punggungku. Kita harus kembali melanjutkan perjalanan ini."
"Tapi, Mas Erlan. Kau masih bisa berjalan, tidak perlu menggendong ku."
"Aku bilang jangan keras kepala, maka dengarlah. Daripada kau tersiksa, lebih baik patuhi aku." Erlan terus mendesak, ia sampai memilih untuk tidak bangkit demi Yoona menurut.
Membuat Yoona tersenyum kecil, batinnya berkata. "Entah perjalanan ini sebuah kesialan atau mungkin kebahagiaan kecil untukku, Mas Erlan. Namun, perjalanan yang entah tidak aku tahu ini membuatku senang karena hanya berdua denganmu saja."
Mereka berdua terus berjalan meskipun belum tahu jalan mana yang tepat, tetapi cuaca mulai tidak bersahabat. Hujan dan angin deras mulai turun membahasi bumi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita dirikan tenda, Yoona. Apa kau bisa menungguku di bawah pohon besar itu saja dulu? Daripada basah kuyup di sini nanti. Aku akan kembali setelah mendirikan tenda," tanya Erlan sembari menunjuk dengan jarak yang sedikit jauh.