Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Diabaikan


__ADS_3

Perlahan Malvin memegang tangan Yoona, lalu berkata dengan menatap wajah wanita itu begitu lama. "Menurutku ... gugurkan kandunganmu, Yoona."


"Apa kau sudah gila?! Menepis tangan Malvin dengan kasar. "Aku tahu jika Mas Erlan mungkin tidak akan suka dengan kabar kehamilan ku ini, tapi membunuh sebuah nyawa yang tidak berdosa itu jauh lebih buruk, Malvin."


"Tapi, kebahagiaan dirimu yang paling utama, Yoona. Kau tidak akan mungkin bisa menjalani kehidupan dengan menjadi ibu tunggal apalagi tanpa ada yang peduli di usia kehamilan besar mu nanti. Namun, jika memang tidak ingin mengugurkan kandungan itu, maka aku bisa membongkar semua rahasia ini kepada Papa Agra," ancam Malvin dengan tiba-tiba.


Awalnya Yoona merasa jika Malvin tidak akan berniat buruk, tetapi sekarang ia semakin tidak percaya saat mendengarnya.


"Aku sungguh tidak habis pikir dengan pikiranmu ini, Malvin. Ternyata ... kau tidak jauh berbeda daripada Mas Erlan."


"Dengarkan aku dulu, Yoona. Rahasia itu tetap tertutup rapat, tapi hanya Erlan yang mendapatkan keuntungan. Lalu apa untungnya bagimu sendiri, Yoona? Kau hanya akan dibenci oleh keluarga besar Erlan, apalagi setelah mereka tahu tentang kebenaran dari kematian kakak kembarmu. Bukan hanya Erlan yang akan menyakitimu setiap saat, tapi juga keluarganya nanti. Sekarang pikirkan dirimu sendiri. Aku siap menerima kehadiran mu asalkan anak ini tidak lahir ke dunia," jelas Malvin.


"Tidak akan aku lakukan hal itu, Malvin. Biarkan anak ini lahir ke dunia karena aku tidak ingin menjadi orang bersalah untuk kedua kalinya. Namun, jika kau ingin membongkar semua rahasia tentang pernikahanku, maka lakukan saja. Aku sudah tidak takut, Malvin," tegas Yoona dengan berusaha percaya diri untuk tetap kuat.


"Baiklah, Yoona. Kamu terus memaksanya, dan aku akan lakukan hal itu untukmu. Kebaikanmu bagiku yang paling utama, meskipun caraku ini salah, tapi tidak ada cara lain agar kau bisa lepas dari pria arogan seperti Erlan."


"Lakukan saja yang kau suka, Malvin. Maka aku akan melakukan yang aku suka," tegas Yoona lalu bangkit dari duduknya.


"Aku akan mengantarmu pulang ke rumah Erlan."


"Tidak perlu lakukan itu, Malvin. Aku bisa pulang sendiri."


"Tapi kau-"


"Maafkan aku, Malvin. Kali ini aku tidak bisa ikut denganmu. Aku bisa pulang dengan taksi," tolong mengertilah."


"Baiklah, Yoona. Aku akan melihatmu naik taksi. Tidak perlu menolak karena aku akan tetap memaksanya."


"Meskipun sekarang kau menolak untukku, Yoona. Tapi kali ini, aku tidak ingin tinggal diam melihatmu harus tersiksa setiap waktu. Aku akan tetap membongkar tentang rahasia pernikahan kalian," batin Malvin dengan pikiran yang sudah bulat.


Sesuai janjinya, Malvin benar-benar menunggu sampai Yoona berhasil memberhentikan sebuah taksi. Namun Yoona merasa kesulitan untuk harus pergi ke mana, terlebih tujuannya sama sekali tidak pasti.


"Jika aku pulang ke rumah kami, maka Emma dan Papa Agra pasti akan berpikir buruk tentang pernikahan kami. Apalagi sampai sekarang aku belum mengetahui tentang keadaan Mas Erlan. Apa sebaiknya aku hubungi Jerrol saja lebih dulu?" gumam Yoona.

__ADS_1


Panggilan tersebut berhasil tersambung. "Jerrol, apa kau bisa mendengar ku?"


"Ya, Yoona. Kau sudah kembali pulang? Aku bisa mendengarnya. Di mana kamu sekarang, Yoona?"


"Aku di dalam taksi dan tidak tahu harus pergi ke mana. Bisakah kau beritahukan di mana Mas Erlan sekarang?"


"Ya, tentu saja. Dia sekarang berada di rumah temannya. Aku akan mengirimkan alamatnya."


"Baik, Jerrol. Terima kasih banyak."


Yoona tiba di depan sebuah rumah dengan nomor 213, namun ia merasa bingung dengan rumah itu.


"Semoga saja Jerrol sudah benar memberikan alamatnya padaku," gumamnya sembari membuka pagar. Ternyata benar, Jerrol langsung menyambut kedatangan Yoona datang dengan bahagia.


"Ternyata kau sudah datang, Nona Yoona. Ayo ikut masuk denganku terlebih dahulu."


"Tunggu dulu, Jerrol. Tapi, kenapa rumah ini terlihat begitu sepi? Di mana Mas Erlan berada?"


"Mereka belum pulang, Yoona. Tuan Erlan dan Nona Alice sedang di rumah sakit. Mungkin sebentar lagi mereka pulang."


Jerrol tidak menjawab, namun ia tetap menemani Yoona dengan setia di luar rumah. Melihat wajah Yoona yang cemas, membuat Jerrol merasa sedikit kasihan.


"Maafkan aku karena tidak bisa berbuat banyak hal, Yoona. Terlebih aku tidak memiliki kekuasaan untuk membantumu," batinnya.


Hampir satu jam menunggu, tetapi Erlan dan Alice belum juga terlihat. Jerrol sendiri sudah merasa lelah menunggu di luar, namun tidak dengan Yoona yang masih tetap berusaha bertahan meskipun rasa pusing mulai kembali terasa.


"Sebaiknya tunggulah di dalam, Nona Yoona," ucap Jerrol dengan tiba-tiba.


"Tidak apa, Jerrol. Aku masih sanggup duduk di sini."


"Tapi, mungkin mereka pulang sedikit terlambat, Yoona."


"Jerrol, tolong jangan memerintahkan diriku."

__ADS_1


"Maaf, Nona Yoona." Jerrol menganggukkan kepalanya.


Kesetiaan dan kepedulian Yoona terus berlanjut sampai hari mulai gelap. Dengan mata yang sudah terlalu lelah dan rasa kantuk berdatangan. Berbeda dengan Jerrol yang sudah terlelap di depan teras karena tidak sanggup terduduk lama.


Tiba-tiba terlihat cahaya mobil yang masuk ke dalam pekarangan, membuat Yoona dengan cepat mengusap mata saat menyadari kepulangan Erlan.


Ingin segera menghampiri suaminya lebih dulu, tetapi Alice lebih dulu membantu Erlan untuk berjalan. Hati Yoona terasa perih, dan tidak tahu untuk harus melakukan apa selain dengan melihat suaminya bersama wanita lain di depan matanya sendiri.


Kehadiran Yoona membuat Alice tidak terkejut, karena sebelumnya ia sudah tahu dari seorang penjaga rumahnya.


"Untung saja aku sudah meminta ibu tinggal di apartemenku lebih dulu sebelum aku kembali ke sini. Jika tidak, Yoona pasti sudah bertemu dengan ibunya juga," batin Alice sembari melirik perlahan.


Mereka semua bergegas masuk, begitupun dengan Yoona yang segera bergerak mendekat ke arah Erlan. Namun untuk sekali lagi, Alice lebih dulu mengulurkan tangannya untuk memberi segelas air.


"Sebaiknya minumlah dulu, Sayang. Kau pasti sangat kelelahan," ucap Alice dengan suara yang begitu lembut.


Seketika membuat Yoona terdiam saat mendengar panggilan kesayangan untuk suaminya.


"Sayang? Apa maksudnya ini? Apa jangan-jangan Mas Erlan dan wanita ini sudah ... Aku tidak boleh tinggal diam," batin Yoona.


"Mas Erlan, aku mau bicara denganmu, Mas!" kata Yoona dengan cepat.


"Hei, kau tidak lihat kalau dia baru saja pulang dari rumah sakit? Tidak punya mata," sahut Alice dengan ketusnya.


"Aku mau istirahat dulu," lirih Erlan dengan tiba-tiba. Ia langsung bangkit, tetapi dengan cepat Alice kembali membantunya berjalan.


Lagi-lagi Yoona tidak memiliki kesempatan untuk bisa membantu dan merawat suaminya yang masih kesakitan.


"Aku sadar kalau Mas Erlan tidak menginginkan bantuanku, tapi dia masih suamiku. Aku harus tetap di sini untuknya," batinnya.


Perlahan Jerrol meliriknya sembari bertanya. "Nona Yoona, apa kau ingin pulang ke kediaman Tuan Besar saja? Di sana ada Emma yang akan menemanimu. Sepertinya di sini tidak cocok."


"Tidak perlu, Jerrol. Aku harus di sini untuk suamiku. Kau sebaiknya jangan memintaku untuk pulang dan jangan kasihani diriku. Tapi, katakan satu hal dengan sejujurnya. Apa hubungan Mas Erlan dengan wanita itu? Apakah dugaan ku ini benar tentang mereka? kau pasti mengerti, kan? Kenapa tidak bilang dari awal padaku, Jerrol?"

__ADS_1


"Um ... Nona Yoona, aku minta maaf."


__ADS_2