
Malvin masih terus menyusuri hutan seorang diri, namun ia tidak merasa ketakutan karena membawa semua peralatan mendaki sekaligus senjata. Dalam kecemasannya, Malvin terus berharap agar bisa menemukan gubuk tempat keberadaan Yoona, walaupun ia kesulitan untuk harus menemui jalan yang tepat.
Mendengar suara air yang mengalir, membuat Malvin semakin yakin bahwa di dekat sana pasti ada jalan menuju untuk membawanya bertemu dengan Yoona. Sesuai dengan perkiraannya, Malvin melihat dari jauh sebuah kebun jagung yang luas.
"Sedikit lagi, Yoona. Semoga aku bisa bertemu denganmu. Tolonglah aku, Tuhan," batinnya dengan penuh harap.
Takdir pun berpihak kepadanya saat Malvin berhasil melihat sebuah gubuk. Ia berlari dengan cepat. Terlihat kaki wanita dari luar yang sepertinya sedang tertidur. Kini semakin membuat Malvin yakin jika ya ia temui adalah Yoona.
Raut wajahnya terlihat ceria saat melihat Yoona di depan matanya, ia berusaha menepuk kecil pipi Yoona agar bisa tersadar, namun ternyata suhu tubuh Yoona yang terlalu panas membuat Malvin semakin cemas.
"Sepertinya Yoona sedang demam, bagaimana ini? Aku bahkan tidak membawa obat-obatan ke sini kecuali obat merah dan penghangat tubuh," gumam Malvin seraya membawa Yoona ke dalam pangkuannya.
Melihat wanita itu sedang terlelap dengan wajah pucat, Malvin semakin tidak tega. Ia berusaha mengusap pipi Yoona, namun kenangan indah kembali terbayang olehnya.
"Buka matamu, Yoona. Aku di sini untukmu, dan kau harus sadar." Berkali-kali Malvin menggerakkan tubuh Yoona.
Memberikan obat hangat serta selimut tebal sembari membawa Yoona masuk ke dalam pelukannya. Kecemasan Malvin semakin bertambah saat Yoona tidak memperlihatkan reaksi apapun.
"Aku mohon sadarlah, Yoona. Jika terjadi sesuatu denganmu, aku tidak akan memaafkan pria itu."
Masih terus berusaha demi bisa melindungi wanita yang ia sayangi, hingga perlahan Yoona mulai membuka matanya. Berpikir jika itu Erlan, Yoona tiba-tiba membalas pelukannya.
"Jangan tinggalkan aku, Mas Erlan. Aku tahu kau akan datang menjemput ku lagi." Dalam isak tangis yang mulai ikut terdengar.
Rasa sakit di hatinya jauh lebih besar dibandingkan dengan teriris pisau. Malvin tidak kuasa menahan amarah yang berusaha ia pendam ketika Yoona berpikir dirinya orang lain.
Demi kesembuhan Yoona, dengan sengaja Malvin terdiam tanpa bersuara. Berharap agar demamnya bisa cepat turun. Namun dengan tiba-tiba, Yoona menatap ke arah wajahnya sembari ingin berpegangan. Tetapi ternyata dengan cepat ia melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Malvin? Kau di sini? Lalu di mana Mas Erlan? Bukannya tadi dia yang datang ke sini menjemput ku lagi?"
"Sadar, Yoona. Sejak tadi hanya ada aku di sini, dan bukan si brengsek itu," bantah Malvin.
"Tapi, kenapa harus kamu, Malvin? Bagaimana mungkin kau bisa menemui ku di sini? Sedangkan kami datang berdua. Apa jangan-jangan kau sudah melakukan sesuatu kepada Mas Erlan? Katakan dengan sejujurnya apa yang sudah terjadi dengannya, Malvin?!" tuduh Yoona tanpa berdasar.
Membuat Malvin semakin tidak habis pikir ketika dulunya ia menjadi orang yang paling dipercayai oleh Yoona, namun sekarang semuanya telah berubah. Mengusap wajahnya dengan cepat dalam rasa kekesalan.
"Haruskah sekarang kau menuduh orang lain seperti itu, Yoona? Lagi pula kenapa aku harus melakukan sesuatu terhadap Erlan? Jika aku perlu, maka aku bisa saja menusuknya tepat ketika pertama kali kita bertemu bertiga. Ayolah kenapa kau berpikir aku ini orang jahat? Sungguh, kau terlalu memperdulikan pria lain yang jelas-jelas sudah sangat menyakitimu."
"Jika tidak, katakan kenapa kau bisa bertemu denganku? Bahkan di dalam hutan seperti ini." Yoona masih tetap keras kepala.
"Oke, akan aku jelaskan. Aku, Alice, dan Jerrol tiba di sini demi bisa mencari kalian berdua. Tetapi Erlan sekarang sedang bersama mereka berdua, dan aku di sini yang mencari mu, Yoona. Sekarang kau sudah mengerti kenapa hanya aku yang datang menjemputmu, kan?"
Seketika membuat Yoona terdiam, ia merasa bersalah karena sudah menuduh Malvin tanpa dasar.
"Maafkan aku, Malvin," ucap Yoona dengan perlahan sembari merasa begitu malu ketika menatap wajah pria itu yang sudah salah ia duga.
"Aku mengerti kenapa kau sangat kesal denganku, tapi tidak perlu minta maaf, Yoona." Malvin masih memberikan kesempatan sampai ia berusaha mengusap bahu wanita itu.
"Lalu sekarang apa Mas Erlan baik-baik saja?"
"Dia terluka, Yoona. Ada ranting pohon yang jatuh ke tubuhnya. Tapi, kau tidak perlu cemas karena Alice dan Jerrol sudah memberi pertolongan pertama, suamimu sekarang sudah aman."
"Apa? Jadi, Mas Erlan terluka separah itu?" Yoona terkejut. "Kenapa bisa ia terluka? Apa mungkin karena itu dia tidak jadi menjemput ku di sini?"
"Begitulah, Yoona. Oh ya, apa kau sudah makan? Sebaiknya makan dulu dan minum penyegar ini. Tubuhmu masih sangat panas, aku tidak akan mungkin bisa membawamu pulang jika keadaanmu lemah seperti ini."
__ADS_1
"Tidak, Malvin. Aku harus melihat keadaan Mas Erlan dulu."
"Jangan keras kepala, Yoona. Aku tidak ingin membahayakan dirimu. Meskipun kita sudah berpisah, jangan berpikir aku akan tinggal diam jika keadaanmu seperti ini. Tolong, makanlah dan dengarkan perkataan ku. Ini demi dirimu, bukan untukku," paksa Malvin sembari ia membuka makanan yang telah di bawa.
"Harusnya dulu aku tidak perlu memercayai Tante Rega kalau yang telah tiada itu Fiona, bukan dirimu. Mungkin sekarang aku tidak harus kehilanganmu seperti ini, Yoona," batin Malvin yang terang-terangan memperlihatkan tatapan yang begitu tulus darinya.
"Baiklah, Malvin." Yoona mulai menurut untuk makan, meskipun pikirannya di penuhi oleh Erlan.
Keduanya terdiam sampai Yoona berhasil menghabisi semua makanan yang Erlan bawa. Membuat pria itu tersenyum kecil.
"Aku senang melihatmu masih mau menuruti keinginan ku, Yoona," ucapnya perlahan.
"Karena aku sekarang sangat lapar. Tapi, saat kita kembali sebaiknya kita bertemu dengan mereka terlebih dulu, tidak apa-apa kan, Malvin? Aku ingin melihat keadaan suamiku."
"Tentu saja, Yoona. Karena aku pergi satu mobil dengan Jerrol, sudah pasti kita akan pulang bersama," sahut Malvin yang hanya bisa pasrah.
"Terima kasih banyak, Malvin. Ya sudah ayo sekarang kita kembali," ajak Yoona dengan begitu terburu-buru.
"Apa harus sekarang?" Malvin semakin terheran. "Tidak bisakah kau melihat kebaikanku sedikit lagi, Yoona? Bahkan perpisahan kita belum terucap dengan tepat."
"Ya, tentu saja sekarang, Malvin. Lebih cepat lebih baik karena aku takut akan turun hujan. Lagi. Apalagi di hutan ini cepat sekali hujan."
"Maafkan aku, Malvin. Tapi, aku berusaha supaya kita tidak semakin lama berduaan seperti ini. Bagaimanapun juga, kita pernah merasakan kenyamanan, dan aku takut rasa nyaman itu membuatmu ingin kembali padaku," batin Yoona dengan sebuah alasan yang tidak bisa ia ucap.
Tanpa bisa berbuat banyak hal, Malvin pun menjawab dengan anggukan kecil sembari berkata. "Baiklah, kita sekarang kembali. Tapi, kau harus pergi dengan berpegangan tangan padaku, Yoona. Hutan yang kita lewati sangat licin dan berbahaya setelah hujan semalam. Jadi tolong, jangan ada bantahan."
"Baiklah. Kali ini aku akan mengikuti keinginanmu."
__ADS_1
"Dan aku sangat berharap agar kau bisa terus mengikuti diriku lagi, Yoona. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu menderita seperti ini lagi," batin Malvin sembari menatap dengan senyuman ke arah wanita itu.