
Yoona baru tiba di kediamannya, lalu tidak lama mobil yang ditumpangi oleh Ernio juga sampai. Namun saat itu, Erlan dan Alice justru menatap mereka berdua yang sedang berdiri di depan pintu.
"Itu adikmu pulang, Sayang. Ayo kita ke sana," ajak Alice sembari menggenggam erat tangan Erlan seraya tersenyum manis.
Tidak ada bantahan apapun dari Erlan, juga genggaman tangan tanpa terlepas. Namun hal itu, semakin membuat Yoona sadar bahwa mereka sudah mempublikasikan hubungan secara terang-terangan.
Kemesraan itu membuat Ernio terheran sampai batinnya berpikir sesuatu. "Istrinya Kak Erlan sebenarnya itu Yoona atau wanita itu? Kenapa justru dia berpegangan tangan di depan Yoona sendiri? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di rumah ini?"
Walaupun Ernio penasaran, namun ia tidak banyak bertanya selain dengan berusaha mengamatinya. Berbeda dengan Yoona hanya bisa terdiam sembari menatap suaminya yang sedang menyambut kedatangan Ernio, begitupun dengan Alice yang berusaha untuk terlihat sangat ramah dengan keluarga Erlan.
Namun hal itu, membuat Yoona merasa sedikit cemburu. "Sepertinya aku tidak dibutuhkan di sini, begitupun dengan Mas Erlan."
Membuat Yoona melangkah pergi, namun tiba-tiba Ernio menghentikan langkahnya dengan langsung menggandengnya.
"Mau ke mana buru-buru sekali? Yoona, kau tidak ingin ikut menyambut ku datang?" tanya Ernio yang sengaja memperlihatkan kedekatannya.
"A-aku ... ya tentu saja. Selamat kembali ke rumah ini, Ernio." Membuat Yoona sedikit tidak nyaman apalagi saat Alice dan Erlan yang terus menatapnya. Tetapi, ia berusaha untuk tetap terlihat ramah.
"Terima kasih, Yoona." Ernio tersenyum kecil lalu melepaskan gandengannya. Ia melangkah pergi lebih dulu setelah berhasil menciptakan keheranan di wajah semua orang.
"Kau lihat itu, Sayang. Baru saja datang justru Yoona dan adikmu sudah terlihat begitu dekat. Entah apa yang sudah terjadi dengan mereka saat di bandara, sampai-sampai Ernio sendiri bisa menggandeng tangan istrimu seperti tadi," bisik Alice yang berusaha memanas-manasi keadaan.
Erlan terdiam tanpa ingin menaruh rasa curiga, namun di hati kecilnya ia ikut terheran. "Aneh. Apalagi yang aku tahu kalau Ernio tidak terlalu suka mendekati wanita seperti tadi. Bahkan dia terkenal cuek dengan orang asing, lalu sekarang, dia sampai bisa menggandeng tangan Yoona. Apa mungkin Yoona mulai merayunya juga?"
__ADS_1
Membuat Alice sedikit kesal ketika Erlan mengabaikan ucapannya. Menarik wajah Erlan untuk berusaha menatapnya sembari bertanya. "Kenapa kamu cuma diam saja, Sayang? Kamu mulai bosan denganku, ya?"
"Alice, tolong! Aku tidak ingin berdebat. Sekarang ayo masuk. Kita harus memulai pesta untuk Ernio."
Erlan berjalan lebih dulu, dan tidak biasanya ia berusaha mengabaikan Alice begitu saja. Namun anehnya, setelah ia melihat Ernio yang berusaha mencari simpati dengan Yoona, justru membuatnya lebih banyak terdiam dan mengasingkan diri.
Sebuah kejutan terjadi saat Emma dan juga teman-temannya yang lain mulai meletuskan banyak balon saat Ernio melangkah masuk untuk pertama kali di rumah Erlan.
"Wow! Ini kejutan untukku?" tanya Ernio yang terlihat begitu senang.
"Yeah! Tentu saja, Kak Ernio. Selamat datang di sini setelah bertahun-tahun lamanya kau tidak kembali. Sekarang apa kau masih ingat dengan wajah adikmu yang comel ini?" tanya Emma yang dengan sengaja membuat wajahnya terlihat semakin menggoda.
Mencubit kedua pipi adik bungsunya itu, lalu memeluknya dengan begitu erat. Betapa rindunya Ernio dengan adik perempuannya yang paling ia sayangi, dan selalu ia manjakan.
"Ish Kakak! Bukannya tanya aku sehat atau tidak, malah tanya calon. Ya jelas belum lah! Udah ihh ... sekarang tiup lilinnya dulu karena pesta ini juga sebuah perayaan untukmu, Kak Ernio," ucap Emma yang terlihat begitu semangat.
"Baiklah, Emma. Akan aku lakukan." Ernio meniup lilin, lalu mulai memotongnya perlahan karena tidak ada musik seperti hari ulangtahun tiba.
"Ya sudah sekarang berikan kuenya satu per satu kepada kami semua di sini, Nak, dan selamat datang kembali. Papa sangat senang akhirnya kau pulang juga. Terlebih Papa juga bahagia karena kau justru menjadi seorang pelukis tanpa kami tahu, tapi diam-diam kamu mulai berkarya, Ernio."
"Wah ... jadi, Kak Ernio sekarang juga pintar melukis? Keren dong! Nanti lukis wajah aku juga ya," pinta Emma sembari mendorong kecil bahu kakaknya.
"Enggak mau. Udah ish! Sekarang biarkan aku menyuapi kalian semua dulu," bantah Ernio dengan perlahan, namun tatapannya selalu menyempatkan diri untuk melirik Yoona.
__ADS_1
"Baiklah, Kak. Aku mau potongan kue yang pertama," pinta Emma dengan sengaja meskipun ia hanya bercanda.
Ernio tidak menjawab, namun ia justru menatap ke arah Yoona saat sepotong kue berada di tangannya. Membuat Yoona dan yang lain merasa terheran, namun Ernio tidak peduli, dan langsung menyuapi wanita itu.
Ingin sekali menolak, tetapi Yoona merasa tidak nyaman.
"Potongan pertama untuk kakak iparku karena dengan kehadirannya sekarang membuatku memiliki seorang kakak perempuan. Kak Yoona, selamat datang juga untukmu di rumah ini," ucap Ernio yang berusaha untuk tidak membuat orang lain curiga.
"Um, ya terima kasih banyak," sahut Yoona dengan sekedar, tetapi ia langsung menunduk saat banyak mata terus menatapnya.
Lalu Ernio kembali melanjutkan untuk menyuapi yang lainnya, tetapi tidak dengan Erlan yang justru ditarik paksa oleh Alice untuk pergi ke suatu tempat.
"Kenapa malah kita ke sini, Alice? Di sana sedang banyak orang." Membuat Erlan terlihat kebingungan.
"Ya ampun ... Sayang, apa kau masih saja tidak jelas melihat kedatangan Ernio dengan Yoona sekarang? Hei! Sadarlah. Bahkan sekarang bukan hanya gandengan tangan, tapi juga Ernio langsung menyuapi Yoona sebagai orang pertama untuknya. Padahal, mereka baru saja bertemu selama satu jam yang lalu di bandara, tapi di rumah ini mereka terlihat seperti yang sudah begitu akrab bertahun-tahun," ketus Alice yang membuatnya tidak bisa berdiam diri.
"Berhenti untuk memikirkan hal buruk tentang adikku sendiri, Alice. Kau tadi juga dengar sendiri, kan? Kalau Ernio hanya ingin ikut menyambut kedatangan Yoona saja sebagai kakak iparnya di sini, jadi tidak ada hubungan apapun yang lebih tentang mereka. Sudahlah jangan terus mencurigai mereka," bantah Erlan saat ia merasa semuanya terlalu berlebihan.
"Astaga, Erlan. Kau masih saja keras kepala. Bukannya mencari tahu semua keanehan ini, tapi justru mengabaikan diriku. Sayang, aku hanya ingin keluargamu terhindar dari kejahatan Yoona, itu saja." Alice terus bersikeras.
"Alice, apapun kecurigaan mu sekarang aku harap itu tidak membuat pesta ini kacau. Lagi pula mana mungkin mereka saling mengenal? Karena Ernio sendiri sudah lama menetap di luar negeri, jadi jangan terus mengusik pikiran ku," tegas Erlan yang berusaha untuk tetap tidak terpancing.
"Aku tahu hal itu, Sayang. Tapi, semua itu mustahil sekali apalagi mereka hanyalah ikatan ipar, bukan yang lain. Kau sendiri tidak merasa aneh dengan kedekatan mereka yang tiba-tiba? Lalu jika seandainya saja semua yang aku curigai ini benar, kamu mau buat apa?"
__ADS_1
Erlan terdiam saat dirinya tidak ingin memikirkan semua itu, tetapi hatinya masih ikut penasaran.