Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Amarah Dan Benci


__ADS_3

“Baiklah, Yoona. Akan aku tunjukkan sesuatu padamu." Malvin mengeluarkan ponselnya beserta dengan sebuah foto keluarga yang sempat ia ambil saat memasuki ruangan kerja Pak Agra. Ia segera memperlihatkan benda tersebut kepada Yoona.


"Ini yang ingin aku tunjukkan, tapi aku selalu lupa mengatakannya padamu, Yoona. Walaupun aku baru tahu semua ini sekarang, tapi percayalah aku sama sekali tidak tahu kalau ternyata kau pun juga tidak menyadari hal ini. Kalau ternyata pria bernama Marcello memiliki nama lengkap Ernio Marcello Agra, dan dia sekaligus adik kandung dari Erlan. Sekarang kau sudah tahu, dan aku yakin kau masih tidak percaya ini. Maka dari itu, aku membawakan buktinya," sambung Malvin.


Seketika membuat Yoona terdiam, dan semakin tidak menduga bahwa ternyata pria kurang ajar itu berada di dekatnya, bahkan sudah menjadi keluarganya sendiri. Terlebih Ernio sejak masa sekolah menengah selalu memberikan perhatian lebih kepada Yoona hingga mereka memasuki sekolah kelas atas, namun Ernio langsung pindah.


Terlebih Ernio adalah mantan kekasih pertama Yoona, dan pernah menjalin hubungan selama lima bulan. Tetapi, sikap Ernio terlalu tidak bisa Yoona terima apalagi saat pria itu ingin menodai dirinya. Sampai sebuah trauma mampu membuat Yoona tidak bisa berpikir lebih baik, hingga Malvin datang untuk menyembuhkannya secara perlahan-lahan.


Fakta yang membuat Yoona merasa takut, apalagi dulu sikap Ernio terlalu buruk kepadanya. Terlebih ia tidak tahu bahwa Marcello memiliki nama lengkap yang lebih panjang.


"Tapi, kenapa aku tidak pernah tahu kalau ternyata Marcello yang aku kenal dulu itu adalah Ernio? Aku sungguh tidak percaya dengan nama Ernio yang tiba-tiba muncul," tanya Yoona dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Karena sebenarnya Ernio berusaha menyembunyikan nama aslinya padamu, Yoona. Sekarang aku semakin takut saat meninggalkan dirimu bersama dengan keluarga itu. Apa sekarang kamu bisa memikirkan lagi untuk terus bersama dengan keluarga itu? Aku berharap kau bisa memikirkannya kembali, terlebih Ernio bukanlah orang yang akan dengan mudahnya menyerah."


"Tidak, Malvin. Aku pun tidak akan bisa pergi dari hidup Mas Erlan. Bagaimanapun kami sudah menikah dan aku sedang mengandung keturunannya. Aku akan mencoba membicarakan hal ini dengan Mas Erlan, aku harap dia mau mendengarkan diriku tentang adiknya." Yoona memilih pasrah pada keadaan, meskipun ia masih terlalu sulit untuk mencoba menghadapi semuanya sendirian.


"Ya ampun, Yoona! Kau masih terus berusaha untuk memikirkan orang lain, kapan kau akan memikirkan tentang dirimu dan aku? Bahkan setelah masa depan untuk kita berdua hancur pun, kau masih tidak ingin kembali. Ya sudah, sekarang aku semakin sulit untuk bisa mengatur dirimu, padahal niatku baik. Memang benar orang bilang, jika saling mencintai akan lebih mudah memiliki. Namun sekarang, hanya aku yang sangat mencintaimu, tapi kau tidak." Terlihat raut wajah Malvin yang lesu sampai ia menunduk perlahan.


"Tetap saja tidak bisa, Malvin. Aku sudah terikat dengan ikatan suci pernikahan, jadi bagaimana mungkin aku pergi dan mengakhiri semuanya dengan mudah? Walaupun sekarang Mas Erlan dan Alice memiliki hubungan, tapi aku tahu ini mungkin hanya sebuah hukuman untukku karena sudah mengambil hak yang seharusnya milik kakakku sendiri. Sudahlah, Malvin. Kita sebaiknya tidak membicarakan tentang ini lagi, dan terima kasih karena kamu sudah menceritakan tentang Ernio. Semoga saja aku bisa berbicara dengan Mas Erlan," sahut Yoona sembari tersenyum kecil, dan seolah-olah memperlihatkan rasa takut yang tidak pernah ada.


"Kau yakin dengan ini, Yoona? Ernio sejak dulu selalu menjadi mimpi buruk bagimu, bagaimana kalau seandainya sekarang dia berulah seperti itu lagi? Aku cemas memikirkan keadaanmu di sini."


"Jangan cemaskan aku, Malvin. Di rumah bukan hanya ada aku yang sendirian, tapi ada Mama, Alice, Emma, dan Mas Erlan. Jadi, aku yakin mereka tidak akan membiarkan diriku terluka. Kalau begitu pesta nanti malam kau harus datang, ya. Aku sendiri yang mengundangmu."

__ADS_1


"Baiklah, tapi jika ada apa-apa segera kabari aku, Yoona."


"Akan selalu aku lakukan, Malvin. Apalagi rumah kita sekarang sudah berdekatan. Kalau begitu ayo antar kan pulang, di rumah masih banyak pekerjaan. Jadi, aku harus membantu Emma menyiapkan segalanya."


"Baiklah."


"Meskipun terasa sulit, tapi aku berharap agar Ernio tidak melakukan hal buruk apalagi sampai menceritakan yang tidak-tidak kepada Mas Erlan," batin Yoona saat ia mencoba mengalihkan pandangannya demi menghindari tatapan Malvin yang terus berusaha melihat rasa takut dari dalam hidupnya.


Tiba di kediaman Erlan, Yoona turun dari mobil Malvin tepat di depan kediaman itu. Tidak Yoona duga bahwa dari dalam rumah Erlan beserta yang lainnya sedang menatap dengan tatapan tajam.


"Masuklah dulu, Yoona. Aku akan melihatmu dulu."


"Eh enggak perlu. Kita kan udah tetanggaan. Kalau begitu pulanglah."


"Sampai jumpa."


Melangkah dengan pasti, namun tiba-tiba Yoona terdiam saat melihat semua mata menatap kearahnya.


"Ada apa? Apa sedang terjadi sesuatu? Dan Mas Erlan kenapa cepat sekali pulang? Ini belum jam pulang kantor, kan?" tanya Yoona dengan keheranan.


"Masih saja seperti orang bodoh, padahal sudah jelas-jelas sedang bersalah. Dasar! Semakin tidak tahu diri," ketus Alice dengan kasar tanpa merasa takut meskipun Erlan ada di tempat.


"Apa maksudmu, Alice? Aku tidak merasa sedang berbuat kesalahan apapun. Mas Erlan, kenapa kau cuma diam saja? Kau juga berpikir aku salah, begitu? Memangnya apa salahku?"

__ADS_1


"Ikut denganku sekarang!" perintah Erlan sembari menarik tangan Yoona dengan kasar.


Membuat Alice tersenyum kecil, tetapi tidak dengan Mama Sania yang sejak tadi hanya terdiam. Lalu tiba-tiba wanita paruh baya itu melangkah pergi, tetapi Alice berusaha menghentikannya.


"Loh? Mau ke mana, Bu? Apa Ibu tidak mau ikut marah dengan Yoona? Ia sudah sangat bersalah dan sekarang dia terang-terangan memperlihatkan kesalahannya itu," tanya Alice yang menginginkan sebuah kehancuran, bukan saling diam seperti ini.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, Alice. Biarkan Erlan saja yang memutuskan untuk terbaik untuk istrinya itu. Aku lelah, dan ingin istirahat," sahut Mama Sania dengan santai.


"Baiklah kalau begitu Ibu istirahat saja, ya. Aku dan Emma akan menyelesaikan dekorasi ruangan ini dulu."


"Ibu ke kamar dulu."


"Tentu."


"Aneh sekali. Biasanya Mama Sania tidak diam seperti ini, tapi sekarang dia hanya berdiam diri tanpa berkata kasar dengan anaknya itu. Apa mungkin hatinya sudah mulai luluh saat melihat Yoona yang kasihan?" tanya Alice dari dalam batinnya.


Berbeda dengan Erlan yang tiba-tiba menjatuhkan tubuh Yoona ke atas ranjang dengan kasar. Sampai membuat Yoona sedikit berteriak.


"Ada apa denganmu, Mas Erlan? Apa salahku?"


"Kau masih tidak menyadari kesalahanmu itu, begitu? Aku akan memberikan hukuman terberat untukmu setelah pesta di rumah kita berlangsung. Yoona, kau sudah seperti seorang ****** bagiku. Lalu sekarang kau masih bersikap begitu hangat, dan tidak tahu apapun. Murah sekali harga dirimu ini, Yoona," hina Erlan dengan bertubi-tubi.


Membuat mata Yoona terbelalak saat mendengar semua hinaan yang lebih buruk dari sebelumnya. Ia perlahan bangkit, lalu berjalan mendekat ke arah Erlan.

__ADS_1


"Apa bagimu aku ini sebagai seorang pelacur pribadimu, Mas Erlan? Tidakkah sedikit saja kau mengganggap diriku seperti seorang istri? Apa aku harus selalu menerima setiap pelampiasan hasrat dan amarahmu setiap saja? Padahal jelas-jelas aku sedang mengandung anakmu. Tidakkah kau sadar? Jika dirimu lebih buruk daripada seorang iblis, Mas Erlan," bantah Yoona dengan balasan yang tegas. Tetapi, air matanya tak sanggup berhenti kita ia berucap dengan penuh kekuatan hati.


__ADS_2