Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Dibalik Fakta Kebenaran


__ADS_3

"Sekali lagi kau membentak ku, maka aku bisa membunuhmu, Tante."


Wanita paruh baya itu kembali dengan membawa sebuah pakaian yang sudah berlumuran darah. Pakaian terakhir milik Fiona, dan Erlan sangat mengenalnya. Terlebih itu salah satu pakaian kesayangan yang sering tunangannya kenakan.


Mengambil pakaian tersebut tanpa ada rasa jijik sedikit. Rasanya membuat hati Erlan begitu sakit, namun ia mencoba menguatkan dirinya.


"Apa maksudmu ini, Tante?" tanya Yoona yang masih tidak paham.


"Ini pakaian terakhir yang kakakmu kenakan, Nak. Tante sengaja tidak membuangnya supaya bisa terus mengingat tentang kejadian itu. Erlan, sungguh tidak ada kebohongan yang sedang Tante tutupi. Meskipun kau merasa ragu, tapi percayalah bahwa ini sebuah kenyataan yang harus kau terima. Mungkin saja takdir sudah membawamu untuk bersama dengan Yoona."


"Jika itu memang benar. Apakah sebelumnya ada orang lain yang mengalami kecelakaan tersebut? Yoona, kau masih mengingat atau tidak saat kecelakaan itu terjadi?" tanya Erlan yang begitu penasaran.


Sejenak Yoona terdiam, lalu ia berkata. "Ya, aku ingat bahwa ada mobil lain yang ikut tertabrak olehku. Namun, aku tidak tahu setelah kejadian itu lagi. Mas Erlan, bukankah pakaian ini sudah begitu jelas? Apalagi yang ingin kau buktikan?"


"Kita harus menemukan siapa orang lain di dalam kecelakaan itu. Tante, apa kau tahu sesuatu?"


"Sebetulnya, Tante tahu. Mereka berdua selamat, dan tiga lainnya tiada. Namun, rumah mereka sangat jauh dari sini, Nak. Kalian sampai harus melewati pegunungan agar bisa sampai ke sana. Lagi pula untuk apa semua itu? Toh, Fiona juga tidak akan kembali."


"Apapun itu, kau harus tahu dan tidak mempercayai seseorang tanpa bukti jelas seperti ini. Berikan alamatnya padaku, Tante."


Membuat Yoona mengerutkan keningnya ketika mendengar obsesi Erlan yang terlalu berlebihan.


"Tidak, Mas. Kau jangan nekat! Kita tidak akan tahu ada bahaya apa yang saja terjadi selama mendaki gunung. Lagi pula apalagi yang harus kau buktikan, Mas?"


"Tentang mereka semua dan kebenaran kejadian itu. Mereka yang selamat pasti tahu jauh lebih banyak. Meskipun kau ada di tempat, namun dirimu saat itu tidak dapat melihat apapun. Berhentilah untuk membantah, Yoona. Jika kau tidak ingin pergi, maka aku bisa sendiri!" Erlan sudah memilih dan selalu ia tidak akan melepaskan keputusan yang sudah ia buat.

__ADS_1


"Astaga, Mas." Yoona mengusap wajah dengan penuh kecemasannya. Ia merasa terlalu gelisah, namun tidak akan rela membiarkan suaminya pergi seorang diri.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu, Mas Erlan. Tante, berikan alamatnya yang jelas pada kami. Jika perlu kau harus menuliskan peta agar kami tidak ke sasar."


"Baiklah jika kalian berdua memaksa, tapi tolong jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu dengan kalian. Apalagi pegunungan itu sudah lama tidak di datangi oleh orang lain, dan hanya satu-satunya jalan yang paling dekat untuk menuju ke tempat mereka. Tunggu sebentar, Nak. Aku punya alamatnya serta petunjuk jalan menuju ke sana," sahut Tante Rega. Lalu meninggalkan mereka berdua dalam kecemasan.


Tante Rega tidak kunjung mengambil apa yang sedang Erlan dan Yoona butuhkan, namun ia justru berdiri di balik pintu dengan sedikit membuka celahnya.


"Dasar keras kepala! Rasakan saja akibatnya nanti akibat kecerobohan kalian ini. Akan lebih baik kalian berdua ikut tiada saja," gerutu Tante Rega dalam batinnya dengan memasang wajah topeng.


Lima menit kemudian, Tante Rega kembali dengan membawa sebuah peta petunjuk. Ia segera memberikan kepada Erlan.


"Ini jalannya. Kalian berdua hanya perlu melewati pegunungan ini dan nantinya akan bertemu air terjun. Dulu para pendaki sering memilih tempat itu untuk mendaki, namun setelah kejadian menghilangnya salah satu dari teman mendaki mereka. Lalu pengunjung tidak ada lagi yang berani datang bahkan sampai sekarang. Aku tahu kabar ini karena aku salah satu dari anggota di sana. Sebaiknya kau kembali memikirkan tentang tujuan ini, Erlan. Terlebih tunanganmu sudah pasti tiada, dan tidak akan kembali walaupun kau mencoba mencarinya ke ujung dunia sekalipun," jelas Tante Rega.


"Aku tidak akan menyerah, apalagi sudah sampai di sini, Tante. Terima kasih karena sudah memberikan aku jalan. Ya sudah sebaiknya sekarang kita pergi, Yoona. Namun, kau bisa memiliki sekali lagi untuk pergi atau menungguku kembali di sini bersama dengan tantemu."


Melihat Erlan dan Yoona yang sudah meninggalkan rumahnya, Tante Rega tiba-tiba saja menghubungi seseorang.


"Ada tugas baru untuk kalian berdua. Sore nanti kalian harus bersiaplah. Jangan biarkan mereka berdua ke luar dari tempat itu," perintahnya kepada seseorang.


"Siap, Nyonya."


Sebelum mendaki gunung, Erlan memilih untuk membawa semua persiapan yang sebelumnya tidak ia ingat. Seperti tenda, makanan, dan lain-lainnya. Berbeda dengan Yoona yang menunggu di dalam mobilnya.


Saat Erlan kembali, Yoona segera memperlihatkan isi pesan di ponselnya. "Mas Erlan, aku sudah mengirimkan alamat tujuan kita di pendakian nanti kepada Jerrol. Aku harap, kau tidak marah."

__ADS_1


"Apa? Bagaimana kalau sampai dia memberitahukan hal ini kepada Papa Agra? Dia bisa membunuhku, Yoona."


"Tenanglah, Mas. Jerrol tidak seperti itu. Dia tidak akan mungkin mengecewakan kita."


"Ya sudah. Semoga saja dia tidak berulah."


"Aku yakin itu, Mas. Namun, Jerrol berpesan kalau kita tidak kembali setelah dua puluh empat jam ke depan, maka dia bersama dengan tim akan mencari kita. Terlebih aku tahu betul pengunungan di tempat itu sangat ekstrim," sahut Yoona.


"Akan aku lalui seekstrim apapun perjalanannya," lirih Erlan dengan keputusan yang sudah bulat.


Tidak ada yang dapat Yoona katakan, namun ia merasa hatinya sedikit kecewa. Dengan sengaja Yoona mengalihkan pandangannya agar Erlan tidak mengetahui jika dirinya berusaha menahan rasa sedihnya.


"Sebetulnya ini perjalanan yang konyol, Mas Erlan. Terlebih kita sudah tahu kalau kakakku telah tiada, namun kau masih nekad untuk mencari tahu tentangnya. Entah aku harus bahagia memiliki seorang pria yang begitu setia dengan satu cinta sepertimu, Mas. Ataukah aku harus selalu merasakan kecewa karena obsesimu yang sangat berlebihan," batinnya.


"Tidak akan lama lagi kita sampai, Yoona," lirih Erlan dengan perlahan. Namun ia menyadari jika istrinya tidak mendengar.


Menepuk pundak Yoona sembari bertanya. "Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak ada, Mas."


"Jika tidak ada, lalu kenapa? Kalau kau merasa ragu, maka aku bisa mengantarkan mu pulang sebelum kita memasuki hutan, Yoona."


"Aku yakin, Mas. Kita teruskan saja perjalanan ini. Siapa tahu kau dapat menemukan bukti jika kakakku masih hidup. Tunggu apalagi, ayo!" Yoona terlihat kesal.


"Tunggu dulu, kau berusaha mengejekku? Apa kau tidak ingin kebenaran dari kematian kakakmu terungkap? Jika memang dia telah tiada, ya sudah. Aku pun tidak akan mungkin bisa mengembalikan nyawanya, tapi setidaknya aku bisa mengungkapkan fakta tentang kematiannya itu. Terlebih setelah kita berpisah nanti."

__ADS_1


"Jadi, itu sebabnya kau sangat bertekad, Mas Erlan. Ternyata kau sudah memikirkan tentang perpisahan di dua tahun yang akan mendatang, tapi mungkin saja tidak akan sampai dua tahun. Terlebih jika kebenaran itu terungkap, maka sudah pasti Papa Agra akan meminta kita berpisah secepatnya."


"Memang itu yang aku inginkan, Yoona. Perpisahan adalah yang terbaik untuk kita berdua, namun tidak sekarang. Melainkan setelah aku bisa membawa bukti kepada keluargaku," batin Erlan dengan niat tersembunyi.


__ADS_2