
Mata Yoona dengan cepat terbuka lebar dalam rasa cemburu, kesal, dan tidak rela untuk berbagi. Mimpi indahnya terganggu karena kehadiran sosok wanita lain. Terlebih Yoona menyadari jika di dalam mimpinya itu Erlan dan wanita tersebut sangat mesra, sampai-sampai berusaha untuk tidak peduli dengan kehadirannya.
Terlihat Erlan sedang tertidur dengan begitu pulas, membuat Yoona mulai merasa sedih karena mengingat sebuah mimpi yang buruk. Hingga rasa mengantuk tak lagi menguasai dirinya.
Terduduk dalam diam dengan memeluk lututnya, namun pikiran terus teringat dengan mimpi lima menit yang baru saja ia rasakan.
"Siapa wanita yang datang di dalam mimpiku? Rasanya seperti nyata sekali saat Mas Erlan dan wanita itu saling bermesraan. Padahal, aku sedang bahagia mendengar ucapan manisnya, tapi ternyata selalu saja kebahagiaan ini di kacau kan," batinnya.
Angin malam yang masih berhembus cukup besar, tetapi tiba-tiba Yoona merasa ingin buang air kecil, namun ia tidak tegas untuk membangunkan Erlan tidur.
"Aduh ... gimana ini?" Yoona merasa cemas antara takut untuk beranjak pergi dan merasa khawatir jika ia sampai kebobolan di dalam tenda.
Erlan masih tertidur dengan sangat puas, bahkan saat Yoona mengayunkan kedua tangan di wajahnya tidak terasa. Membuat Yoona memberanikan diri untuk segera ke luar dari tenda.
Hawa dingin yang cukup terasa sampai menusuk ke dalam tulang, mampu membuatnya semakin tidak tahan.
"Oh astaga ... tubuhku seperti ingin di bawa terbang," gumam Yoona yang sedang memeluk dirinya sendiri sembari berdiri.
Dengan tiba-tiba Erlan terbangun saat mendengar suara pengait tenda terbuka. Ia melihat Yoona ke luar tanpa memberitahukannya. Merasakannya cemas hingga membuat Erlan segera berjalan ke luar. Tetapi sayangnya, Yoona tidak terlihat di sekitar tenda. Membuat Erlan semakin cemas dengan istrinya.
"Di mana kamu, Yoona?" panggil Erlan tanpa mengetahui jika Yoona sedang berada di belakang tenda. "Oh ya ampun, ke mana perginya? Apa dia tidak berpikir kalau keadaan tidak sedang memungkinkan untuk pergi sendirian. Bagaimana kalau ada binatang hewan buas? Aku tidak bisa berpikir dengan tenang."
"Mas Erlan." Terdengar suara Yoona memanggil dari belakang, tepat saat Erlan ingin beranjak pergi mencarinya.
Betapa bahagianya Erlan melihat kehadiran Yoona di tempat. "Ke mana saja kau pergi? Apa kau tidak berpikir kalau aku cemas?"
"Aku hanya ingin buang air kecil, Mas Erlan. Bukan kabur darimu," sahut Yoona.
__ADS_1
"Tetap saja, Yoona. Kau harusnya membangunkan diriku dulu sebelum memilih pergi. Aku tidak mau jika kau terluka di sini. Meskipun pernikahan kita tidak seutuhnya terjadi dengan keinginan kita berdua, tapi setidaknya aku tidak mau menimbulkan masalah baru dengan menghilang mu di hutan ini." Erlan terlihat kesal.
Perlahan Yoona menunduk sembari mengangguk-angguk kecil, ia pun tersadar bahwa kecemasan yang Erlan perlihatkan bukanlah seperti yang ia pikirkan. "Ternyata Mas Erlan mencemaskan diriku karena ketakutannya kepada Papa Agra, tapi bukan dengan hatinya."
"Jangan cuma mengangguk, Yoona. Sebaiknya kembalilah ke dalam tenda, ini masih malam. Tidak baik untuk kita berada di luar seperti ini. Takut jika ada bahaya yang lain," ajak Erlan. Lalu ia berjalan lebih dulu.
"Tentu saja, Mas Erlan." Yoona mengikuti di belakang.
Selepas kejadian itu, membuat keduanya tidak saling berbicara. Yoona lebih banyak terdiam, tetapi tidak dengan Erlan yang sedang mencemaskan sesuatu.
Sejak tadi Erlan menatap ke arah ponselnya yang masih belum menemukan sinyal. "Pasti Alice sedang kebingungan menunggu panggilan dariku, apalagi kalau sampai dia mihat Emma yang masih ada di rumah. Pasti dia akan mengira jika aku sedang membohonginya."
Yoona yang sudah kembali tertidur lelap, ia tiba-tiba membalikkan tubuhnya tanpa tersadar hingga tersentuh dengan tubuh Erlan.
Menoleh ke belakang, terlihat wajah Yoona yang sedikit basah. "Apa mungkin dia menangis dalam tidurnya?"
Erlan yang penasaran, perlahan mengusap air mata Yoona sembari berkata. "Aku tahu, Yoona. Kamu pasti kesulitan dalam pernikahan ini, tapi yakinlah bahwa waktu dua tahun tidak akan terlalu lama. Setelah itu aku akan membiarkan dirimu terbebas."
"Mungkin kau benar, Mas Erlan. Tapi, asal kau tahu jika waktu dua tahun memang bukan yang terlambat, namun bagaimana mungkin aku bisa mengubur semua kenangan ini, Mas? Satu hari saja bisa membuatku mengingat dirimu setiap saat, lalu bagaimana dengan dua tahun pernikahan kita nantinya? Aku pun tidak percaya dengan hatiku sendiri yang terlalu cepat menaruh perasaan sayang untukmu, mas Erlan," batinnya.
***
Mentari kembali menyapa, Alice baru saja terbangun dari tidurnya. Ia menatap ke arah ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempat tidur. Tidak ada notifikasi yang masuk, hingga membuatnya melemparkan ponselnya kembali.
"Sial! Ke mana sih kamu pergi? Aku jadi tidak bisa fokus bekerja kalau terus begini," gerutu Alice dalam penuh kekesalan sembari ia menendang-nendang selimut yang membungkus tubuhnya.
Terlihat jam dinding sudah lewat lima belas menit waktunya bekerja. Terlalu banyak berpikir hingga membuat tidurnya lebih lama dan terbangun lebih telat.
__ADS_1
"Tuh kan bener, aku malah enggak berani kalau harus masuk kantor sekarang. Pasti Pak tua itu akan memarahi diriku kalau telat. Andaikan kau pulang sekarang, Erlan. Aku tidak perlu melihat papamu yang galak itu di kantor," keluh Alice.
Niatnya sudah bulat untuk tidak masuk kerja, Alice segera bergegas bersiap-siap untuk menuju ke suatu tempat. Sebelum pergi, ia sengaja menghubungi Emma.
"Lagi sibuk enggak? Kebetulan aku sedang bosan, Emma," tanya Alice yang menginginkan untuk bisa mendapatkan hiburan.
"Enggak sih, Kak. Memangnya ada apa? Apa tidak masuk kerja? Nanti papaku marah loh. Apalagi Kak Erlan sedang di luar, pastinya Papa yang mengawasi kantor sekarang," sahut Emma dari balik ponselnya.
"Aku tahu, Em. Itu sebabnya aku semakin malas untuk berangkat. Lagi pula sudahlah, Emma. Bagaimana kalau pagi ini kita bertemu?"
"Ingin ke mana? Aku sedang tidak bisa, Kak Alice. Karena harus mengurus beberapa berkas untuk melanjutkan pendidikanku lagi."
"Baiklah kalau begitu, Emma. Tapi, bisakah aku minta tolong satu hal?"
"Apa itu, Kak Alice?"
"Katakan ke mana tujuan Erlan dan Yoona pergi honeymoon? Apa Papa Agra mengatakan sesuatu kepadamu?"
"Setahuku mereka pergi ke Thailand dan Filipina, itu yang aku tahu dari tiket yang papa kasih. Setelah kemarin kau bertanya, aku langsung tanyakan kepada papa."
"Baiklah, Emma. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama, Kak Alice."
Keputusan Alice telah dimulai untuk segera memeriksa semua jadwal penerbangan dari Erlan dan Yoona. Ia menghubungi seorang teman yang kebetulan bekerja di sana. Informasi yang Alice dapatkan, membuatnya semakin kesal karena yang ia dengar bahwa Erlan tidak melakukan perjalanan apapun, namun justru tiket yang sudah dibeli justru dibatalkan begitu saja.
"Kurang ajar! Berarti Erlan benar-benar sedang mempermainkannya diriku. Awas saja kamu, Erlan. Aku tidak suka dengan kebohongan ini."
__ADS_1
Amarah Alice semakin bertambah hingga membuatnya melemparkan selusin lipstik berharga miliknya. Kekesalannya itu membuatnya terdiam ketika mendengar suara dering ponsel dari pihak rumah sakit.
"Apa sudah terjadi sesuatu?" batinnya.