Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Tidak Bisa Diatur


__ADS_3

Terlihat kebingungan di wajah Ernio, namun tidak dengan Alice yang justru tersenyum kecil.


"Sekap saja dia di sebuah villa atau di manapun itu berada, tapi yang pasti jauh dari kediaman Erlan, dan tidak ada satu orangpun yang tahu keberadaannya. Aku mohon, Ernio. Lakukanlah semua ini sampai aku bisa menikahi Erlan, dan nantinya kau pun bisa menikah Yoona, bukan?"


"Itu cukup berbahaya, Alice, dan aku tidak senekat dirimu. Aku hanya akan membawa Yoona kembali dalam kesadarannya. Lebih baik pergilah dari sini, karena aku tidak ingin kau menggangu ketenangan ku," bantah Ernio yang tidak ingin diperbudak apalagi oleh seorang wanita.


"Ernio, cukup! Kau bisa memiliki Yoona seutuhnya jika saja mau menuruti perkataan diriku ini. Maka lakukanlah semua yang aku katakan ini, jika tidak wanita itu tidak akan bisa seutuhnya menjadi milikmu," desak Alice dengan terus-menerus.


"Terserah karena aku memiliki rencanaku sendiri, Alice. Kau bisa menghasut ku, tapi aku bukanlah Kak Erlan yang akan menuruti setiap perintahmu kapanpun itu, dan lagi pula siapa yang ingin menjauh dari keluargaku sendiri? Jika menyekap Yoona, sama saja aku menolak warisan dari papaku sendiri. Maka hentikan omong kosong mu ini karena jika tidak, aku bisa memutarkan fakta bahwa kaulah penyebab kami berdua bisa ada di sini. Terlebih sejak tadi kehadiranmu kemari sudah terekam dari atas sana," kesal Ernio sembari menunjuk ke atas langit.


Tersadar akan semua ancaman Ernio yang bukan sekedar ancaman biasa. Membuatnya menjadi tidak bisa melakukan banyak hal sesuai keinginan.


"Kurang ajar! Aku pikir jika Ernio akan mau melakukan yang aku inginkan, padahal aku mau supaya Yoona bisa menjauh bahkan kalau perlu menghilang seutuhnya," batin Alice yang penuh dengan amarahnya, tetapi tidak bisa berbuat banyak hal.


Mengepalkan kedua tangan sembari menatap dengan melotot sempurna. "Baiklah jika memang kau ingin lepas dari kerjasama kita. Tidak mengapa, Ernio. Aku bisa memaklumi bahwa kau juga masih menginginkan warisan bagianmu. Ya sudah lakukan saja semuanya, tapi jangan pernah lewati batas sampai Yoona bisa kembali baik-baik saja dengan Erlan. Kalau tidak, warisan yang kau tunggu-tunggu hanya akan menjadi sebuah angan-angan, mengerti?"


Tidak membuat Ernio menjawab apalagi membantah, namun pria itu langsung menutup pintu meskipun Alice masih berada di luar.


"Dia sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin wanita licik itu bisa menjadi kekasih dari Kak Erlan? Entah matanya buta sampai memilih wanita seperti dia."


Rasa kesal Ernio berakhir hilang saat melihat Yoona yang masih terlelap dengan begitu pulas, ia langsung mendekat sembari memeluk dengan erat.


"Hanya kau penyemangat untuk diriku, Yoona. Hanya kau seorang."

__ADS_1


Ingin segera memejamkan matanya, namun ternyata Yoona mulai terbangun, dan langsung memegang perutnya yang tiba-tiba merasa kram sampai begitu sakit di bagian bawah perutnya.


Kepanikan Ernio membuatnya bingung, terlebih ia sudah larut malam. "Astaga ... ada apa denganmu, Yoona? Hei ... lihat aku."


Yoona terus memeluk perutnya sendiri sampai ia begitu tidak tahan dengan rasa sakit yang begitu kuat. Sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Membuat Ernio terus menggerakkan tubuh Yoona agar wanita itu tersadar, namun sayangnya, tidak bisa.


Kepanikan itu membuat Ernio berjalan mondar-mandir sampai ia tidak tahu harus melakukan apa, terlebih ia terlalu takut jika orang lain mengenalinya saat memanggil dokter, tetapi melihat keadaan Yoona sama sekali tidak bisa membuatnya lega.


Memilih untuk berjaga sepanjang malam sampai rasa kantuk membuat Ernio begitu kelelahan, namun ia tetap berjaga dan terus mengecek denyutan nadi Yoona yang masih terasa.


Sedikit lega, terlebih Ernio berpikir jika itu hal biasa karena pengaruh obat. Namun tiba-tiba ia tidak melihat ke arah paha Yoona yang justru mengeluarkan darah.


"Apa perutnya terluka?" Ernio kembali begitu panik, tetapi untuk kali ini ia tidak akan tinggal diam.


Hingga sang dokter tiba, dan merasa sangat terheran ketika melihat pasien terlihat menakutkan.


"Jangan cuma tatap saja, sekarang cepat periksa keadaannya," perintah Ernio dengan sangat terburu-buru sembari mengancam dengan menaikkan senjata.


"Ba-baik." Sang dokter begitu ketakutan hingga tangannya bergetar ketika memeriksa keadaan Yoona. "Apa barusan dia mengalami kontraksi?"


"Aku tidak tahu apa itu namanya, tapi sejak tadi dia terus mengeluh sakit perut sampai akhirnya seperti ini tidak sadarkan diri," sahut Ernio tanpa menjauhkan senjata api dari hadapannya.

__ADS_1


"Sepertinya dia sudah mengalami keguguran, dan harus dirawat untuk beberapa waktu karena kondisi wanita ini sangat lemah. Mungkin sebaiknya harus dibawakan ke rumah sakit saat."


"Apa katamu? Memangnya kau tidak bisa mengobati keadaannya tanpa harus ke rumah sakit? Ayolah ... kau ini dokter, dan aku mau agar dirimu yang datang tiap waktu ke sini untuk memberikannya obat, tapi aku berjanji akan membayar mu mahal asalkan kau juga bisa tutup mulut."


"Saya tidak bisa melakukannya, Tuan. Saya bekerja dengan kejujuran, maaf," tolak Dokter wanita itu, meskipun hatinya sudah begitu ketakutan saat melihat Ernio mulai ancang-ancang menarik pelatuk senjatanya.


"Aku tidak mau tahu apa kau jujur atau tidak, tapi yang pasti aku mau agar dia sembuh. Kau bisa datang ke sini untuk mengobatinya, jika tidak maka dirimu dan keluargamu juga yang akan menjadi korbannya. Jadi katakan, bersedia atau tidak?" tanya Ernio dengan paksaan tegas sembari memberinya dua pilihan yang berat.


Membuat Dokter paruh baya itu tidak memiliki cara yang lain untuk bisa menuruti semua permintaan dari Ernio. Ia hanya bisa menjawab dengan anggukan kecil. "Saya akan sesekali memastikan keadaannya, terlebih nanti saya akan tinggalkan obat untuk mereda rasa sakitnya, Tuan. Jadi, tenanglah."


"Baiklah kalau memang kau sudah setuju dengan semua itu, maka sekarang pulanglah, tapi ingat jangan sampai keberadaan kami di sini diketahui oleh orang lain. Jika tidak, seperti yang sudah kau ketahui."


"Ya, akan saya lakukan sesuai dengan perintah. Kalau begitu mana bayaran untuk saya agar bisa tutup mulut."


"Ternyata diam-diam kau ini mata duitan juga, ya."


Selepas kepergian dokter tersebut, Ernio langsung bergerak mendekati Yoona yang masih belum terbangun.


"Kau sudah sangat terluka, tapi sekarang aku tidak akan melukai mu, Yoona. Kau aman denganku, dan juga aman dari sifat Kak Erlan yang arogan. Hanya saja ... aku tidak tahu kalau rupanya kau sedang hamil muda, andaikan saja aku tahu mungkin semua ini tidak akan terjadi," gumam Ernio yang masih memiliki sisi baik dalam hatinya.


Rasa kasihan yang bercampur aduk membuat Ernio terus memperhatikan Yoona, namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Erlan, membuatnya sedikit terkejut.


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Ernio dalam batinnya. "Tapi, jika aku hanya diam bisa saja mereka mencurigai diriku."

__ADS_1


"Halo, Kak Erlan."


"Kau ada di mana sekarang? Kenapa tidak pulang padahal kita baru saja selesai pesta, tapi dirimu sudah menghilang dari rumah, aneh sekali."


__ADS_2