
"Itu pasti tidak akan mungkin, Alice. Meskipun aku juga mulai ragu, tapi aku yakin kalau Ernio tidak serendah itu. Mungkin saja karena Yoona sudah susah-susah payah menjemputnya ke bandara, jadi dia bersikap manis seperti sekarang. Lebih baik kita menemui mereka dulu, daripada nanti Papa Agra mencari," bantah Erlan demi bisa membuat hatinya yang sudah mulai menaruh rasa curiga.
"Ya sudah kalau memang itu maumu. Ayo kita kembali." Alice tidak membantah, namun ia masih memikirkan semua itu dalam benaknya. "Meskipun Erlan ragu, dan jika itu salah. Maka akan lebih baik kalau seandainya saja Ernio bisa bersama dengan Yoona. Dengan begitu hanya akan ada satu nyonya besar Erlan, dan itu aku."
Sesuai dugaan mereka, Papa Agra ternyata benar-benar mencari keberadaan Erlan dan Alice yang tiba-tiba menghilang.
"Darimana saja?"
"Dari luar, Pa. Lalu di mana Ernio sekarang?" tanya Erlan yang sama sekali tidak melihat adiknya setelah sesi suap-suapan berakhir.
"Dia berganti pakaian, dan Papa meminta agar Ernio beristirahat sejenak. Lagi pula pesta yang paling meriah masih berlanjut satu jam kemudian sambil kita menunggu tamu-tamu yang lainnya datang. Kau sendiri tidak ingin menemui adikmu?"
"Ah tidak perlu, Pa. Dia sedang lelah, jadi untuk apa aku ganggu. Tapi ngomong-ngomong, apa calon mama baru kami juga sudah Papa undang? Jika ya, aku ingin sekali melihat wajahnya," tanya Erlan yang sangat penasaran.
"Tentu saja, Nak. Papa sudah mengandungnya, dan sebentar lagi Papa akan pergi menjemput mama barumu. Ya sudah, kalau begitu kamu temui Yoona dulu. Sejak tadi dia terlihat murung sekali."
"Baik, Pa."
Tepat ketika Erlan ingin melangkah pergi menemui Yoona, tetapi justru Alice berusaha menghentikannya. "Kau serius ingin datang menemaninya, Sayang? Ayolah ... jangan bercanda."
"Tidak. Mana mungkin. Aku hanya ingin pergi dari sini saja sampai Papa Agra pergi. Lagi pula kau ada di sini."
"Baguslah. Aku pikir kau serius ingin menemui Yoona. Oh ya, sebentar ya, Sayang. Emma memanggilku. Entah apa maunya dia," ucap Alice sembari melihat Emma yang melambaikan tangan kearahnya.
"Tentu saja, pergilah."
Suasana yang meriah, meskipun pesta yang sesungguhnya belum dimulai. Tetapi entah mengapa, Erlan merasa sangat tidak bersemangat. Ia merasa sedih, meskipun tidak tahu jelas penyebab dari kesedihannya itu.
"Apa mungkin karena aku sudah lama tidak menatap wajah tunanganku lagi? Itu sebabnya aku galau sekali. Lebih baik aku melihatnya dulu," gumamnya.
__ADS_1
Menatap ke arah sebuah bingkai milik mendiang tunangannya, namun sekarang ia tidak begitu merasa sedih lagi seperti dulu. Hanya melihat bingkai foto itu, tetapi hatinya masih saja tidak nyaman.
"Kenapa denganku? Biasanya semangatku langsung kembali bahagia ketika melihat wajahmu, Fiona. Meskipun dari dalam bayanganku saja, tapi sekarang ... sangat hambar." Erlan terlihat bimbang dan tidak mengerti dengan keluh kesah yang sedang hatinya rasakan.
Secara tiba-tiba Yoona juga ikut masuk ke dalam kamar mereka, namun Yoona tidak menyadari jika sejak tadi Erlan berdiri di balik pintu lemari sampai membuat kehadirannya tidak begitu terlihat.
Berbeda dengan Erlan yang bisa melihat kehadiran istrinya. Merasa sedikit penat, apalagi sudah melewati banyak persoalan yang rumit. Rasanya Yoona ingin berendam di dalam air hangat sambil menunggu pesta utama tiba.
Menanggalkan satu per satu pakaiannya tanpa Yoona sadari bahwa Erlan sedang menatapnya. Mengambil handuk dan berjalan dengan tubuh polos.
"Dia ... begitu indah," batin Erlan sembari perlahan berjalan mendekat.
Membuat Yoona sangat terkejut saat melihat Erlan tiba-tiba ada di dekatnya. Namun, semua itu tidak membuat Yoona takut terlebih ia sadar untuk berhak memberitakan haknya sebagai seorang istri.
Menjatuhkan handuknya dengan sengaja sembari terus berjalan ke arah kamar mandi, begitupun dengan Erlan yang mulai merasa ingin menyentuh istrinya.
Yoona mulai merebahkan tubuhnya di dalam bathtub yang sudah mulai terisi dengan air mengalir. Kesegaran tubuhnya terasa begitu nyaman, terlebih Erlan yang mulai ikut masuk bersamaan dengannya.
"Ya, tentu jika itu boleh."
"Tapi, aku sedang hamil, Mas."
"Jadi, tidak boleh?" tanya Erlan yang sedikit merajuk, terlebih saat ia melihat adik kecilnya sudah tegap menantang sempurna. "Baiklah, jika tidak boleh aku akan ke luar."
Belum sempat melangkahkan kaki, namun Yoona berusaha memeluk tubuh Erlan dari belakang. Keduanya mulai berendam di dalam air yang hampir penuh.
"Ada apa, Yoona? Jika tidak boleh, biarkan aku pergi."
"Lalu setelah itu apa kau akan melakukannya dengan wanita lain?" tanya Yoona yang merasa tidak rela. Terlebih saat mengingat wajah Alice yang terang-terangan menjadi lawannya.
__ADS_1
"Tidak," sahut Erlan dengan perlahan. Namun sayangnya, Yoona tidak sepenuhnya percaya.
"Katakan dengan jujur padaku, Mas Erlan. Apa kalian berdua sudah pernah tidur bersama?"
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu, Yoona?"
"Aku hanya ingin tahu saja, Mas Erlan."
"Aku tidak tidur seranjang dengan Alice, meskipun memang kau melihatku terlalu dekat, tapi kami tidak lebih sampai harus tidur bersama," jelas Erlan.
"Sungguh? Tapi, aku masih sangat tidak percaya, Mas."
"Terserah dirimu saja. Jika memang kamu sedang hamil, dan aku tidak bisa menyentuhmu. Maka lepaskan pelukanmu ini, aku harus pergi."
"Meskipun itu benar ataupun tidak, tapi aku yakin jika Mas Erlan tidak melakukan hal serendah itu apalagi dia hanya sangat mencintai kakak kembarku, bukan aku ataupun Alice. Semoga saja mereka benar-benar tidak berhubungan badan," batin Yoona sembari memejamkan mata dan menikmati pelukan yang terus berlanjut.
"Tunggu dulu, Mas Erlan. Biarkan aku memelukmu seperti ini, sebentar saja." Yoona memohon sampai membuat Erlan tidak tega meninggalkan istrinya.
Entah kenapa tiba-tiba Erlan tersenyum melihat sikap Yoona yang mulai manja, namun anehnya lagi ia tidak merasa senang ketika melihat foto mendiang tunangannya dulu, tetapi sekarang justru sebaliknya.
"Ada apa denganku? Aku bahkan tidak lagi membentak saat Yoona bersikap seperti ini. Mungkinkah ... diam-diam aku mulai jatuh cinta, tapi bagaimana mungkin rasa cintaku hilang dalam sekejap kepada mendiang tunanganku dulu?" batin Erlan.
Keheranan yang sedang Erlan rasakan dapat membuatnya ingin sekali membalas pelukan Yoona, tetapi justru ia teringat dengan satu hal tentang kebingungannya selama ini.
Perlahan membalikkan tubuhnya menatap wajah Yoona yang terlihat menggoda, dan kedua pipi merah merona.
"Yoona, tolong jawab aku dengan sejujurnya. Katakan siapa darah daging dari bayi yang sedang kau kandung ini? Bahkan sama sekarang kamu belum memberikan hasil tes DNA miliknya."
"Jadi, sejak tadi kamu terdiam saja karena memikirkan tentang itu, Mas Erlan? Aku sudah jujur sejak lama denganmu, Mas. Bahwa memang ini bayimu, dan sama sekali bukan darah daging Malvin. Meskipun memang aku dan Malvin pernah bersama, tapi kaulah yang sudah memecahkan kesucian ku. Haruskah aku juga memberikan bukti tes DNA? Jika memang iya, tunggu sampai kehamilanku lebih membesar karena kalau tidak, aku takut akan menyakitinya," sahut Yoona.
__ADS_1
"Jika memang begitu, lalu kenapa kamu sampai bisa bermalam bersama dengan Malvin di hutan saat itu? Bahkan kalian sepertinya sengaja untuk tidak pulang bersama."
"Apa ini? Apa mungkin Alice yang sudah mencuci otak Mas Erlan sedemikian rupa? Padahal jelas-jelas kami tertinggal perahu karena mereka pergi lebih dulu," gerutu Yoona dalam batinnya.