
"Kenapa malah diam, Jerrol? Katakan saja padaku, jika memang kau mencintainya," paksa Erlan.
"Tuan Erlan, aku tidak tahu harus menjawab apa. Lagi pula tidak ada yang mengatakan tentang Alice. Mungkin kau hanya salah mendengarnya." Jerrol terus bersilat lidah.
Sedikitpun kebohongan paling tidak disukai oleh Erlan, namun untuk persoalan ini ia juga tidak bisa memaksakan seseorang untuk berkata jujur.
Menepuk pundak Jerrol dengan tersenyum kecil, lalu berkata. "Tidak masalah. Kau bisa mengatakannya lain waktu. Ya sudah, aku ingin beristirahat sebentar."
Erlan telah melangkah pergi, namun hati Jerrol masih tidak senang. Ia berusaha untuk tetap tenang, tetapi tetap percuma.
"Apa mungkin dia mulai salah paham denganku? Sial! Harusnya aku tidak ceroboh, dan selalu mengunci pintu kamar ini agar Tuan Erlan tidak bisa masuk dengan sesuka hatinya," gerutu Jerrol dalam batinnya.
Berbeda dengan Erlan yang sama sekali tidak terpengaruh meskipun sudah mendengar tentang perasaan Jerrol. Ia memilih untuk duduk di depan meja kerjanya.
Ingin segera memulai pekerjaan yang tertunda, namun tiba-tiba Erlan mendapatkan panggilan masuk dari papanya.
"Gawat!" Belum sempat menjawab, namun Erlan merasa cemas sembari menatap ke arah ponselnya.
"Di mana kamu, Nak?!" tanya Papa Agra dengan nada yang tegas.
"Aku sedang berada di luar, Pa. Kebetulan sekali aku sedang sibuk, jadi nanti saja Papa hubungi aku lagi," sahut Erlan yang berusaha menghindar.
"Dasar kamu ini. Sekarang buka pintunya," perintah Papa Agra tanpa disangka-sangka.
Membuat Erlan menelan ludahnya sendiri. Ia merasa gelisah, dan sudah pasti akan menjadi bahan bullyan untuknya. Perlahan bergerak keluar, namun ternyata Jerrol dan papanya telah berdiri menunggunya turun dari lantai atas.
"Oh, jadi kau sedang di luar, Nak. Lalu mobil siapa yang terparkir di depan? Apa itu mobil arwahmu juga?"
__ADS_1
"Enggak, Pa. Itu ... ayolah ini masih siang, gerah sekali, Pa." Erlan berusaha mengipasi dirinya sembari berharap agar tidak diomeli.
"Jangan beralasan kamu, Erlan. Sekarang cepat tanda tangan surat ini," perintah Papa Agra tanpa ingin dibantah.
Begitupun dengan Erlan yang tidak berani membantah, terlebih ia sadar jika semua warisan belum sepenuhnya berada di tangannya, namun hanya satu perusahaan saja yang dapat dipercayai untuknya.
Erlan segera mengambil kerta tersebut, ia merasa kebingungan. Terlihat di dalam kertas itu terdapat beberapa perjanjian yang harus ia lengkapi agar bisa membuatnya tetap disiplin. Baik mengenai pekerjaannya ataupun urusan pernikahannya.
"Pa, ini terlalu berlebihan. Aku bukanlah anak kecil," ucap Erlan dengan kesal.
"Karena kau bukan lagi anak kecil, maka dari itu aku ingin kau tetap disiplin, Nak. Bagaimanapun juga, setelah kematianku nanti, kau yang akan membuat kedua adikmu itu bisa meneruskan perusahaan kita. Jadi, cepat tanda tangan saja tanpa banyak bantahan," tegas Papa Agra.
"Ayolah, Papa. Ini bukan disiplin, tapi hukuman untukku. Bagaimana mungkin kau ingin mengambil sahamku jika aku mengkhianati istriku? Ayolah, lelucon apalagi ini? Bahkan di sini kau juga ingin membuat istriku belajar tentang bisnis. Ini sangat-sangat berlebihan sekali," bantah Erlan yang terus merasa tidak benar.
"Sial! Jika Papa Agra mengatur segala hal sampai rumah tanggaku juga, maka aku tidak bisa menceraikan wanita bodoh itu. Dia pasti akan besar kepala jika sampai tahu kalau perusahaan juga akan jatuh ke tangannya. Meskipun mungkin aku akan rela jika istriku adalah tunanganku dulu, tapi nyatanya wanita itu telah menipuku," gerutu Erlan dalam batinnya.
Erlan memang memiliki adik perempuan dan satu laki-laki. Keduanya sedang melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri sampai sudah setahun lamanya mereka berdua tidak kembali ke rumah. Pola asuh dari Papa Agra yang membuat semua anak-anaknya ingin menjadi sukses, meskipun nanti hanya akan mewariskan semua perusahaan miliknya.
"Tunggu dulu, Pa. Atas dasar apa Papa memintaku untuk melakukan hal konyol ini? Usiaku sudah bukan lagi remaja. Aku bisa mengatur hidupku sendiri."
"Aku tahu, Nak. Namun, kau sudah membuat satu kesalahan besar saat mengambil cuti di hari klien terpenting kita berkunjung. Pertemuan yang kau adakan sendiri, namun kau sengaja tidak datang. Padahal, Jerrol sudah aku mintai untuk tetap memanggilmu, tapi kau mengabaikan hal itu. Ulahmu ini sudah membuat perusahaan kita kekurangan banyak saham investor, dan mereka berpikir kalau kau hanya ingin bermain-main dengan mereka. Aku yang malu karena ulahmu itu," jelas Papa Agra.
Penjelasan tersebut membuat Erlan sadar diri, karena memang ia yang melakukan kecerobohan itu. Meskipun melawan, dirinya tetap akan kalah dari Papa Agra.
"Ya sudah aku terima, tapi hanya selama dua tahun, kan?"
"Ya, selama itu pula ajarkan juga istrimu cara berbisnis. Terlebih Papa tahu kalau tunanganmu dulu sangat menyukai bisnis yang kita geluti. Itu sangat cocok untuknya, daripada harus berdiam diri di rumah begitu saja," pinta Papa Agra yang belum tahu akan kebenaran dari pernikahan anaknya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencoba membicarakan hal ini dengannya nanti. Tetapi, aku tidak bisa berjanji, Pa. Karena akhir-akhir ini dia mulai menyukai hal yang lain," sahut Erlan yang berusaha menutupi segalanya.
"Andaikan saja Papa tahu bahwa menantumu sekarang bukanlah Fiona yang dulu sangat kau kenal. Tapi, ini bukan waktunya yang tepat karena aku tidak ingin Papa berpikir aku sedang mengerjainya," batin Erlan.
"Terserah dirimu saja, Erlan. Papa hanya akan menunggu kabar baik darimu. Lalu di mana istrimu sekarang? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya?"
Pertanyaan itu sontak membuat Erlan memberikan isyarat tangan kepada Jerrol agar bisa mengalihkan perhatian.
"Maaf jika saya ikut berbicara, Tuan Besar. Kebetulan Nona Yoona sedang pergi berbelanja untuk persiapan honeymoon Tuan Muda nantinya," timpal Jerrol dengan ide cemerlang yang muncul tiba-tiba.
"Wah ... bagus dong. Erlan, kenapa tidak beritahukan sejak tadi sama Papa? Jika kalian ingin honeymoon, maka Papa sendiri yang akan memberikan hadiah tiket untuk kalian. Besok pagi di kantor, kau bisa meminta menantuku untuk mengambilnya, ya. Sudah lama aku tidak bergurau dengannya. Apalagi dia paling tahu caranya membuat roti bakar untukku." Papa Agra mulai berpikir terlalu jauh.
Lagi-lagi Erlan merasa sial dengan situasinya, terlebih saat Erlan tahu kalau sekarang Yoona sedang ada di rumah sakit. Ingin rasanya untuk membongkar segalanya, namun tidak akan mungkin. Pasti Papa Agra akan berpikir jika dia tidak akan becus merawat istrinya, terlebih baru menikah.
"Ya sudah. Nanti akan Erlan tanyakan dulu, Pa," sahut Erlan yang hanya bisa pasrah.
"Papa tunggu, Nak. Kalau begitu, Pap mau kencan dulu," ucap Papa Agra yang masih berjiwa muda. Terlebih sejak kematian ibu Erlan, pria itu sudah menduda selama tiga tahun lamanya.
"Udah bau tanah masih tahu diri buat kencan, dasar Papa genit," ejek Erlan dengan suaranya yang begitu pelan.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Papa Agra yang memang sedikit merasa sulit untuk mendengar jelas.
"Ah enggak. Nanti kapan-kapan kenalin calon mama mudanya, Pa."
"Tenang-tenang, Erlan. Urusan ini Papa juaranya. Ya sudah jangan lupa ya. Berkas ini juga sudah kamu tanda tangan, awas saja kalau macam-macam kamu. Satu lagi, setelah pulang honeymoon, jangan banyak bolos kerja. Nanti beneran Papa coret dari kartu keluarga tahu rasa kamu."
"Iya-iya! Ah bawel. Mau Erlan antar enggak?"
__ADS_1
"Enggak perlu, kaki Papa masih utuh. Udah deh, jangan cari muka kamu."