
Yoona terbangun dari tidurnya, ia menatap wajah Erlan dari samping yang sedang menggenggam telepon genggam. Namun, ia merasa penasaran dengan siapa pengirim panggilan larut malam seperti ini.
"Apa mungkin teman kerjanya?" batin Yoona, namun ia tidak berani bertanya.
"Halo, Jerrol. Ada apa?"
“Tuan, bisakah kau datang ke sini sekarang? Aku merasa bingung. Sepertinya aku tidak bisa menggantikan dirimu untuk pergi berkencan dengan Alice. Dia sampai rela menunggumu datang satu jam lamanya, dan aku pikir akan membuatnya begitu kecewa," pinta Jerrol tanpa rasa percaya diri.
Mendengar nama Jerrol membuat Yoona sedikit lega, ternyata bukan orang asing yang menghubungi. Namun, ia ingin sekali mengetahui pembicaraan mereka yang terlihat begitu serius. Perlahan Yoona beranjak dari tidurnya, meskipun kakinya masih terasa perih.
"Ayolah, Jerrol. Kau ini pria sejati. Aku sengaja membiarkan dirimu yang datang berkencan demi bisa kau utarakan semua perasaanmu itu. Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu untuk itu," sahut Erlan dengan cepat. Lalu mematikan ponselnya sebelah pihak.
Melirik ke arah Yoona yang sedang mendekat, membuat Erlan memalingkan wajahnya. Seperti tidak berminat menatap wajah istrinya.
Yoona terdiam mematung ketika Erlan pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hal ini membuat hatinya semakin bimbang dan tak menentu.
"Apalagi salahku sekarang? Kenapa Mas Erlan meninggalkan diriku di sini sendirian? Aku ingin menyusulnya, tapi tidak tahu dia pergi ke mana, dan juga perusahaan ini terlalu besar untukku jelajahi," batin Yoona.
Erlan segera menuju ke rooftop, bagian lantai atas yang terbuka. Ia sengaja ke sana demi bisa mencari ketenangan dan kedamaian. Meskipun hatinya gelisah saat melihat Yoona terbangun, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
Kesalahan yang ia sadari dengan perbuatan yang baru saja ia lakukan, entah mengapa ia merasa menyesal. Tetapi, penyesalan itu tidak membuatnya ingin meminta maaf, melainkan tidak tahu entah apa maunya.
Berbeda dengan Yoona yang mencoba ke luar dari pintu ruangan Erlan bekerja. Ia tidak melihat siapapun di perusahaan besar itu. Hanya ada ruangan yang luas. Terlihat sangat menyeramkan, ia merasa takut. Dengan cepat berlari kembali masuk.
Setelah kecelakaan yang lalu menimpanya, bukan hanya trauma dalam mengemudi, tetapi juga dengan melihat darah dan kesunyian. Tangan Yoona bergetar sampai ia memilih untuk memeluk lututnya dengan mata terpejam.
"Aku takut di sini. Mas Erlan, di mana sekarang? Aku takut sekali ...." Yoona mengeluh dengan air mata yang tidak dapat ia tahan. Bahkan dirinya tidak teringat untuk mencoba menghubungi Erlan, justru ia tidak tahu di mana ponselnya berada.
__ADS_1
Kecemasan itu membuat Yoona sampai terbaring tidak sadarkan diri di balik pintu. Tidak ada yang tahu.
Di sisi lain, selepas Jerrol menghubungi Erlan. Ia berusaha memberanikan dirinya untuk segera berjalan mendekat ke arah Alice yang sedang duduk menunggu. Terlihat kecemasan dari wajah Alice sampai ia berkali-kali menatap ke arah jam tangannya.
Melihat kedatangan Jerrol, membuat Alice terbangun. Wanita itu merasa kebingungan.
"Loh, di mana Erlan? Kenapa kau yang datang ke sini, Jerrol?"
"Tenanglah dulu, Alice. Aku bisa jelaskan, tapi tolong berikan aku tempat duduk terlebih dahulu," pinta Jerrol.
Tidak ada pilihan lain karena Alice hanya menginginkan kehadiran Erlan, namun ia juga ingin tahu kenapa pria itu mengabaikan kencan pertama mereka.
"Ya sudah, sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan? Lalu panggil Erlan untuk datang ke sini. Aku sudah menanti kehadirannya sampai satu jam lebih, kau tahu itu? Melelahkan."
"Aku mengerti, Alice. Maka dari itu dengarkan aku bicara dulu. Tolong, jangan salah paham."
Kedua tangan Jerrol yang semulanya bergetar, namun melihat Alice serta sikapnya. Tiba-tiba ia bisa tenang. Entah mengapa dulu ia paling ingin melihat wajah wanita itu, tetapi sekarang seperti sudah tidak ada rasa bahagia yang sama, seperti sepuluh tahun yang lama.
"Aku sengaja datang ke sini atas perintah dari Erlan. Kau tidak perlu marah dulu karena sekarang Tuan Erlan sedang mengerjakan sebuah proyek. Sampai dia tidak bisa menghadiri kencan ini. Itu sebabnya aku di sini untuk menemuimu," jelas Jerrol yang mulai merasa lebih tenang.
"Apa? Jadi, Erlan tidak bisa datang? Wah ... kau sedang bercanda, kan? Padahal, Erlan sendiri yang mengatakan kepadaku kalau dia akan datang, lalu apa buktinya? Aku sudah menunggunya di sini satu jam lebih. Oh, atau aku tahu. Mungkin semua itu atas permintaan dirimu untuk bertemu denganku, kan?"
Meskipun kecurigaan Alice benar, namun Jerrol tidak ingin mengakuinya. Ia berusaha menggelengkan kepalanya demi bisa menghindari semua itu.
"Sungguh! Aku tidak sedang bergurau, Alice. Jika tidak, Tuan Erlan pasti akan datang menemuimu. Namun, dia berpesan padaku kalau besok kalian akan bertemu."
"Kurang ajar! Dengan semena-mena dia berusaha mempermainkan diriku. Erlan, kau sudah menyakiti diriku. Kencan yang paling aku inginkan karena di sini aku ingin mengakui tentang perasaanku ini, tapi kau justru membuatku marah. Namun, baiklah. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Apalagi kau seorang atasanku sendiri. Bagaimanapun aku harus lebih banyak bersabar demi bisa mendapatkan dirimu," batin Alice yang berusaha untuk tidak meledak amarah di hadapan Jerrol.
__ADS_1
Dengan sangat berwibawa, Alice berusaha menutupi amarahnya dengan tersenyum kecil. Meskipun Jerrol tahu, wanita itu sedang berusaha tetap tenang, meskipun hatinya sudah terluka.
"Alice, apa kau ingin pulang sekarang atau menemaniku makan di sini? Kebetulan aku juga belum makan malam sejak tadi," tanya Jerrol tanpa kebohongan.
"Ya sudah, kita makan malam saja. Lagi pula aku juga sudah memesan makanan."
"Baiklah jika begitu, Alice."
Berada dekat, tetapi seperti di dalam kesunyian. Alice dan Jerrol sama-sama sibuk dengan hidangan makan malam. Keduanya tidak saling mengobrol ataupun sekedar bertanya tentang keseharian. Hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alice sampai memesan makanan malam untuk kedua kalinya, meskipun ia sedang program diet. Tetapi, rasa kecewa atas batalnya kencan membuatnya sakit hati. Namun, ia berusaha melampiaskan semua amarahnya terhadap makanan.
Berbeda dengan Jerrol yang sesekali melirik ke arah Alice. Pria itu tidak mengerti setelah berada begitu dekat, perasaannya tiba-tiba menghilang. Padahal, baru beberapa waktu ia memiliki rasa cinta yang besar, namun sekarang bagaikan lenyap begitu saja.
"Entah kenapa denganku, padahal malam ini aku ingin sekali mengutarakan semua perasaan yang aku punya. Namun entah mengapa, rasa itu sudah tidak ada hanya berlangsung hitungan menit. Apakah mungkin karena aku mulai mendambakan sosok wanita yang lain? Tetapi, mungkinkah perasaan cinta bisa hilang tiba-tiba seperti ini?" batinnya.
Mustahil bagi Jerrol, tetapi tidak dengan kenyataannya. Sebuah rasa cinta tidak akan hilang jika memang cinta itu abadi. Namun berbeda dengan menyukai karena terobsesi. Pasti akan ada saja yang membuat obsesi itu memudar seiring waktu, meskipun hanya dengan hal yang sangat kecil.
Akhirnya keduanya memilih pergi, dan masih tetap tidak saling bertegur sapa. Banyak orang menatap mereka, tetapi Alice tidak ingin menghiraukan pandangan orang lain.
"Tuan Erlan, misiku telah gagal," ucap Jerrol dengan lantang dari balik ponselnya. "Kau ada di mana, Tuan? Aku akan segera ke sana."
"Tentu. Kau bisa datang ke sini, dan bawa pulang Yoona. Aku masih tetap ingin berada di rooftop. Dia berada di ruanganku," jawab Erlan dari ponselnya.
Tepat ketika Jerrol ingin masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja Alice menahan setelah mendengar pembicaraan mereka.
"Apa yang kau hubungi barusan itu Erlan?" tanya Alice dengan tiba-tiba kembali mendekat.
__ADS_1