Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Erlan Christiano Agra


__ADS_3

Akhirnya seorang pelayan berhasil diberhentikan oleh Erlan hanya karena merasa kasihan dengan Yoona.


Melihat istrinya masih tergeletak dengan tidak sadar, Erlan berjalan mendekat sembari memegang pipi Yoona.


"Wajah ini ... kenapa kalian harus kembar? Karena wajah ini membuatku tidak dapat menghabisi nyawamu, Yoona," gumam Erlan.


Makin terus melihat, bayang-bayang kekasihnya di masa lalu yang terus terlihat. Mampu membuat Erlan semakin tidak karuan dalam keterpurukan yang paling dalam. Ia akhirnya memilih untuk pergi dan menenangkan dirinya di sebuah ruangan bawah tanah.


Ruangan yang dipenuhi dengan lukisan dan kenangan penuh saat bersama dengan kekasihnya. Biasanya tempat itu dijadikan sebagai tempat kerja agar Erlan bisa terus merasakan keberadaan kekasihnya dulu. Namun kini, tempat itu hanya akan membawa luka untuknya.


Mengambil satu per satu lukisan dinding yang tersusun rapi, Erlan menatapnya sembari berkata. "Andaikan aku tahu tentang kepergian dirimu sebelumnya. Pasti aku tidak akan menikahi adikmu. Haruskah aku terus menghukumnya, Sweetie?"


Bertanya kepada dirinya sendiri, dapat membuat Erlan semakin tidak menentu. Ia mulai kesal sampai tiba-tiba melemparkan lukisan berharga miliknya. Menghamburkan semua barang yang berada di atas meja dengan penuh murka.


"Fiona! Kenapa kau harus tinggalkan diriku? Kenapa?!" Berteriak dengan sangat histeris sampai-sampai ia ingin melukai dirinya sendiri.


Teringat dengan sebuah senjata yang berada di dalam kantong celananya, ingin segera mengambil. Namun tiba-tiba, Jerrol datang untuk menghentikan niatnya itu.


"Hentikan, Erlan! Apa kau gila?!" Jerrol segera merampas senjata api tersebut. Ia langsung melemparnya. "Kau ingin mati? Setidaknya pikirkan dengan papamu dan perusahaan!"


"Tidak, Jerrol, tidak! Tunanganku telah tiada, lalu untuk apa lagi aku harus hidup? Tujuh tahun sudah aku bersamanya, tapi kini dia meninggalkan diriku sendiri." Erlan terus merengek dengan air mata yang mulai mengalir tanpa mempedulikan kegagahan tubuhnya.


"tenangkan dirimu dulu, Erlan. Dia masih bisa melihat kita."


"Wanita bodoh itu bilang kalau tunanganku telah tiada, dia telah pergi jauh, dan pasti tidak bisa kembali. Dia sudah membunuh tunanganku, Jerrol. Maka tinggalkan aku di sini! Lagi pula kau tidak perlu mencoba menghibur ku dengan semua itu. Bagaimana mungkin Fiona dalam melihatku lagi setelah dia tiada? Mustahil."


Membuat Jerrol tidak bisa berkata-kata ketika mendengar kenyataan yang pahit, walaupun sebelumnya ia sudah mencoba mencari tahu kabar tentang kematian wanita itu. Namun, hanya mendengarnya kembali membuat Jerrol ikut merasakan kesedihan yang sama. Terlebih ia juga berteman baik dengan tunangan Erlan, tetapi kini kabar kematian justru menggemparkan hatinya.


"Awalnya aku tidak ingin menceritakan semua ini padamu, Erlan. Sebab aku tahu kau pasti akan sangat terluka seperti ini. Namun ternyata, istrimu sendiri yang membuka kebenarannya," batin Jerrol setelah ia berusaha mencari fakta kebenaran.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Erlan. Bisa saja istrimu sekarang berbohong, kan? Kau tidak boleh sampai melakukan kebodohan begini. Pikirkan papamu juga," sahut Jerrol yang berusaha mendamaikan hati temannya.


Perlahan Erlan menggelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya, lalu ia berkata. "Enggak mungkin. Wanita bodoh itu pasti tidak akan berbohong tentang kematian saudara kembarnya. Tapi kenapa harus dia yang membunuhnya?! Aku bahkan tidak bisa membalas kematian tunanganku dengan nyawanya karena wajahnya itu."


"Aku paham dengan apa yang sedang kau rasakan, Erlan. Terlebih karena sudah tujuh tahun kau membina hubungan. Tetapi, jangan sampai melukai dirimu juga. Brother, kau yang paling kuat diantara kita, tolong." Jerrol terus berusaha menenangkan temannya. Meskipun, ia belum bisa memutuskan untuk sepenuhnya mempercayai Erlan.


"Lalu kenapa aku harus tetap di sini, Jerrol? Katakan padaku, kenapa?! Jika tidak, kau harus membantuku untuk membalas perbuatan wanita bodoh itu. Bunuh dia untukku, Jerrol." Erlan semakin tidak terkendali, terlebih saat ia sudah melihat senjata api yang tidak berada jauh darinya.


Mengambil senjata tersebut, namun Jerrol sama sekali tidak menunda bahwa Erlan benar-benar serius. Ia terdiam dalam rasa heran saat Erlan menaruh senjata tersebut di tangannya.


"Jerrol, kau sudah mendukungku sejak lama. Maka sekarang ikuti perintahku untuk membunuh wanita bodoh sekarang. Ayo cepat lakukan untukku!" paksa Erlan.


Semakin tidak kuasa melihat sikap Erlan yang berlebihan akan cinta. Dengan tiba-tiba Jerrol memberikan tendangan keras sembari mengeluarkan peluru dari isinya.


"Sadar, Erlan! Istrimu tidak akan mungkin menghabisi nyawa saudara kembarnya begitu saja. Bisa saja itu tidak sengaja? Di mana akal sehatmu? Terlebih satu hal yang harus kau ketahui bahwa memang Fiona telah tiada, dan aku sudah menemukan pemakamannya juga setelah mencoba bertanya langsung kepada beberapa tetangga di tempat Fiona tinggal. Mereka menceritakan jika Fiona ditemukan dalam kecelakaan tragis sampai nyawanya tiada. Lalu sekarang kau ingin menghukum wanita itu? Menurutku, dia tidak sepenuhnya bersalah," jelas Jerrol setelah ia mencari tahu kebenaran tentang Fiona. Namun sayangnya, Erlan masih berusaha menutup mata dalam rasa marah dan dendam.


"Tunggu, apakah kebenaran itu benar? Apakah kau hanya sekedar mengarang cerita tentang fakta kematian tunangan ku? Di mana para tetangganya itu? Bisakah kau membawa mereka di hadapanku supaya kembali menceritakan kebenaran yang sesungguhnya?"


"Akal sehat katamu? Bagaimana mungkin akal sehatku ada jika tunanganku telah tiada?! Bahkan rasa remuk dadaku ini jauh lebih besar ketika membiarkan pembunuh itu menjadi istriku." Erlan terus berontak sampai sesekali ia menangis dan tertawa sendiri.


"Ya, kau benar. Patah hati dan ditinggalkan seseorang yang paling disayangi memang sangat menyedihkan. Meskipun aku belum merasakan cinta, tapi setidaknya jangan pikirkan tentang dirimu sendiri, Erlan. Hari ini kau bahkan tidak masuk kantor, maka dari itu aku datang ke rumahmu. Ulah bodoh mu hari ini sudah membuat klien berharga kita mengambil kembali sahamnya, kau tahu itu? Pikirkan sekarang!" hardik Erlan dengan tegas saat dirinya sudah mulai ikut terbawa amarah.


Mendengarnya, membuat Erlan tiba-tiba terdiam. Terlebih ketika ia sadar bahwa memang hari ini ada pertemuan klien yang paling penting. Padahal sebelumnya, ia sudah berusaha keras demi bisa bekerjasama dengan rekan kerja yang paling disegani seluruh dunia.


"Jadi ... dia sudah menarik sahamnya? Itu artinya papa akan mencoreng nama baikku di keluarga," ucap Erlan dengan perlahan. Ia mulai berhenti menangis dan terduduk dalam penyesalan.


"Lihat sekarang, Erlan. Inilah akibatnya, dan kau menyesal. Hei, sudahi penyesalanmu itu, dan temui papamu. Karena sejak tadi pagi papamu terus menghubungiku berkali-kali karena kecerobohanmu ini. Padahal, aku sudah mengajukan agar kau bisa berlibur beberapa waktu setelah pernikahanmu, tapi apa? Kau sendiri yang meminta pertemuan klien itu diadakan. Akhirnya kau harus menanggungnya sendiri. Meskipun kau atasanku, tapi papamu akan marah kepadaku juga," jelas Erlan dengan cepat.


"Gawat! Jerrol, kau bisa mengatakan jika aku sedang honeymoon, kan?" tanya Erlan yang tiba-tiba ingin lepas dari tanggung jawabnya.

__ADS_1


"Astaga ... apalagi, Erlan? Kau juga ingin menjerumuskan diriku?" Jerrol sungguh tidak percaya, meskipun ia sudah memperkirakan hal itu terjadi.


"Tentu, Jerrol. Lalu aku harus apa? Kau tahu sendiri kalau mulut papaku seperti wanita? Ayolah, bantu aku lagi, Jerrol. Demi perusahaan kita," pinta Erlan dengan memasang wajah sedih sembari menyatukan kedua tangan di hadapan temannya.


Meskipun tidak ingin, tetapi Jerrol tahu bahwa permintaan Erlan akan tetap ia lakukan. Walaupun nanti saat dimarahi, ia harus memakai kapas untuk menutupi telinganya.


"Lagi dan lagi," keluh Jerrol sampai terdengar hembusan nafas yang berat.


"Ayolah, temanku, sahabatku, dan bawahanku. Lakukanlah untuk tuanmu ini, ya." Erlan memasang wajah manis lalu berusaha meledek Jerrol.


"Dasar pria ini, kalau bukan atasanku sudah habis dia," gumam Jerrol yang bisa didengar oleh Erlan. Namun, Erlan hanya tersenyum kecil saat mendengarnya.


"Baiklah, Tuan Muda Erlan, Aku terpaksa. Tapi, Erlan. Kau berjanji untuk tidak mencoba menembak dirimu lagi."


"Akan aku pastikan, tapi tidak berjanji."


"Jika begitu, kau harus memberikan aku upah yang mahal untuk bulan ini. Bagaimanapun itu, ocehan papamu nanti sangatlah indah jadi pengantar tidurku."


"Tenanglah, brother. Itu mudah diatasi."


Terlihat Erlan mulai tenang meskipun ia melihat ke arah ruangannya yang sudah sangat berhamburan. Berbeda dengan Jerrol yang merasa heran ketika melihat keberadaan Yoona.


"Tapi, ngomong-ngomong di mana istrimu berada?"


"Wanita bodoh itu maksudmu? Entahlah, aku tidak tahu entah dia hanya pingsan atau sudah mati," sahut Erlan dengan begitu entengnya.


Seketika membuat Jerrol terkejut sampai tidak habis pikir dengan sikap temannya.


"Astaga ... Erlan. Dia itu anak orang, Erlan." Dengan cepat Jerrol berlari.

__ADS_1


"Meskipun dia anak orang, tapi dia telah menjadi penyebab atas kematian tunangan ku. Walaupun sekarang aku telah mengetahui kebenarannya, namun rasa sakitnya masih belum bisa membuatku bahagia. Mungkin nanti, aku akan mencoba mengunjungi tempat peristirahatan terakhirmu, Sweetie. Rasanya sungguh ... di luar perkiraan ku," batin Erlan yang masih ragu akan fakta yang sesungguhnya.


__ADS_2