Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Nyatakan Cinta


__ADS_3

Tiba-tiba saja Alice datang tanpa ada yang mengundangnya. Ia berteriak keras ketika melihat dan mendengar semua ucapan bantahan dari Yoona. Mampu membuat hatinya kesal ketika melihat pria yang begitu ia sayangi, sedang berada di dalam amarah wanita lain.


"Alice?" lirih Erlan dalam kebingungan.


Alice berjalan dengan tegap, ia segera menuju ke arah Yoona. Lalu dengan tiba-tiba dan sangat keras memberikan sebuah tamparan untuk Yoona, dan sekali lagi ia kembali menamparnya.


"Hentikan, Alice!" geram Erlan yang merasa kalau sikap wanita itu sudah kelewatan.


"Kenapa kau menghentikan diriku, Erlan? Bukankah dia sudah berani-beraninya berbicara kasar dan membentak mu? Bahkan meminta Fiona agar kau lupakan. Apakah dia ini tidak waras? Dasar wanita hina. Kau pikir dengan wajah kalian yang sama, kau bisa seenaknya saja? Tentu saja tidak! Apalagi kakakmu itu adalah teman baikku, tapi aku sungguh tidak menduga kalau dia memiliki seorang adik seperti ini." Alice membantah, ia semakin tidak terima.


Menerima perlakuan buruk sekaligus ucapan kasar membuat Yoona terdiam. Ia masih tidak menyangka kalau wanita yang ia temui di rumah sakit ternyata sangat mengenal baik dengan keluarganya termasuk suaminya.


Rasa sakit akibat tamparan yang Yoona rasakan, membuatnya tidak berhenti memegangi pipinya, meskipun ia mencoba menahan diri.


Berbeda dengan Erlan yang tiba-tiba menarik tangan Alice untuk menatap dirinya.


"Jawab aku, Alice! Jadi, kau sudah tahu semuanya tentang pernikahan ini? Darimana?" tanya Erlan sembari melirik ke arah Jerrol.


"Ya, tentu saja. Aku tahu dari orang kepercayaan mu itu. Namun, tindakannya sudah sangat benar bahwa memang kau seharusnya memberitahu diriku semuanya agar wanita itu tidak semena-mena denganmu dan supaya wanita ini tidak terlalu keras mengganggu hidupmu. Tapi, kau tidak perlu memarahi Jerrol karena dia telah membuka kebenaran itu, karena bagaimanapun aku harus tahu," lanjut Alice yang semakin merasa tidak sabar untuk melampiaskan kekesalannya.


"Alice, kau sudah terlalu jauh." Erlan merasa kalau wanita itu terlalu banyak mencampuri semua urusan pribadinya. "Jerrol, sekarang antarkan Yoona pulang. Jika Emma bertanya katakan saja aku sedang ada pekerjaan."


"Baik, Erlan. Kalau begitu Nona Yoona, mari kita segera pergi dari sini," ajak Jerrol dengan baik-baik.


"Tidak, Jerrol. Aku ingin tetap di sini bersama dengan suamiku. Meskipun mereka berdua akan berbicara, tapi aku juga harus tahu semuanya," bantah Yoona ketika kecemburuan mulai menguasai pikirannya.


"Tolong, pulanglah. Yoona, aku sedang memintamu pulang dengan baik. Jangan sampai membuatku menyeretmu pergi dari sini," timpal Erlan dengan tegas tanpa ingin ada bantahan.

__ADS_1


Melihat sikap berbeda yang diberikan oleh Erlan terhadap dirinya di depan wanita lain, rasanya jauh lebih buruk daripada saat ia menerima perlakuan buruk saat sedang bersama.


Dengan menundukkan kepala, Yoona memilih pergi dengan penuh keterpaksaan. Sepanjang perjalanan menuju ke parkiran, hatinya gelisah dengan pikiran buruk terhadap Erlan dan wanita lain. Terlebih di dalam ruangannya tidak ada orang lain selain mereka.


Tiba-tiba saja langkah Yoona berhenti. "Apa sebaiknya kita kembali saja ke dalam sana, Jerrol?"


"Sebaiknya jangan memaksakan diri, Nona Yoona. Tuan Erlan akan semakin marah padamu."


"Lalu sekarang apa yang ingin mereka lakukan? Apakah mungkin tuanmu itu akan mengkhianati pernikahan kami? Entah mengapa, meskipun aku sudah tahu jawabannya. Tetap saja, aku selalu berpikir kalau pernikahan kami ini seperti yang terjadi pada pasangan yang lainnya. Sesimpel itu, padahal sangat berbeda."


Kecemasan yang berlebihan membuat Jerrol sangat paham. Tiba-tiba ia menarik tangan Yoona untuk berjalan ke arah sebuah balkon dari ruangan kerjanya.


"Duduklah dulu, Nona. Kau mungkin sangat kelelahan, dan ini minumannya," ucap Jerrol yang segera memberi sebotol air mineral.


"Memangnya untuk apa kita di sini, Jerrol? Tidakkah sebaiknya kita lanjutkan pulang?" Yoona terlihat kebingungan.


"Aku tahu, Nona. Namun, aku melihat kau terus berpikir terlalu jauh. Meskipun memang ada benarnya, tapi setidaknya jauhkan pikiran buruk itu supaya kau dapat lebih tenang menjalani pernikahan ini, Nona Yoona. Bukan bermaksud apa-apa, tapi aku kasihan denganmu," ucap Jerrol yang langsung berterus terang.


"Bahkan dunia secara terang-terangan meminta agar aku tidak mengharapkan banyak hal dari suamiku sendiri, tapi bagaimana mungkin? Kalau aku sendiri sudah terjatuh ke dalam perasaan yang terlalu dalam," batinnya.


Menarik nafasnya dengan perlahan sembari melirik. "Aku tahu, Jerrol. Tapi tolong, aku belum siap untuk harus mendengar saran darimu."


"Tidak apa, Nona Yoona. Aku paham, namun hanya itu yang bisa aku katakan." Jerrol menyadari bahwa cinta telah membuta mata seseorang. "Ya sudah ayo, Nona. Sebaiknya kita segera pulang. Aku takutnya kalau tiba-tiba Tuan Erlan tahu kita masih ada di sini."


"Baiklah, Jerrol."


Memilih agar Yoona berjalan lebih dulu, namun Jerrol mulai semakin merasa perasaan yang berbeda ketika melihat Yoona tidak ada yang dampingi.

__ADS_1


"Entah ini sebuah perasaan penasaran atau rasa kasihan, tapi entah mengapa tiba-tiba aku terlalu takut untuk melihat kehancuran hidupmu, Yoona. Semoga Erlan bisa melihat ketulusan dirimu ini," batinnya.


***


Lain halnya dengan Erlan dan Alice. Baru kali ini mereka berdua berdiri di atas rooftop sebagai teman baik, biasanya sikap keduanya hanya sebatas atasan dan sekretarisnya dalam ruangan yang begitu serius.


"Mau minum anggur?" tanya Erlan.


"Tentu."


"Ngomong-ngomong kenapa kau bisa datang ke sini, Alice?" tanya Erlan dengan sikapnya yang terlalu santai, seperti tidak ada rasa bersalah.


"Sebelum aku menjawabnya, bisa kau berikan aku jawaban lebih dulu, Erlan. Kenapa kau harus membohongiku untuk meminta Jerrol datang? Jika memang tidak ingin berkencan denganku, tidak perlu mengiyakan dan bersikap manis seolah-olah dirimu menginginkan diriku," lirih Alice dengan tatapan yang sangat serius.


"Maafkan aku, Alice. Sebetulnya aku tidak ingin melakukan hal itu, tapi karena aku tahu jika Jerrol mencintaimu."


"Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak memiliki perasaan atau rasa apapun saat di dekatku?"


"Entahlah, tapi aku senang ketika bertukar pikiran denganmu, Alice." Erlan menjawab dengan singkat tanpa berpikir. Ia hanya mengatakan sesuai dengan isi kepalanya, bukan hatinya.


"Apa seperti seorang teman atau lebih dari sekedar teman? Erlan, aku tahu jika kau sangat mencintai tunanganmu. Tapi, terlepas dari semua itu, Jerrol sudah mengakui kalau dia tidak mencintaiku, melainkan hanya terobsesi dan merasa bangga melihat seorang wanita karir yang hebat. Artinya dia lebih kagum dengan pencapaian yang aku miliki, tidak untuk memiliki hubungan. Sungguh! Jika kau tidak bisa percayai ini, maka tanyakan saja sendiri. Untuk itu bisakah kau menghargai sebuah janji yang sudah kau buat, Erlan?"


"Benarkah? Mungkin Jerrol telah menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Itulah sebabnya aku meminta dia yang menggantikan diriku untuk berkencan. Sekali lagi maaf jika aku telah mengingkari janjiku, Alice."


Menaruh kaleng minumannya, namun dengan tiba-tiba Alice menggenggam tangan Erlan. "Sesungguhnya aku sangat mencintaimu, Erlan. Sejak kita berteman baik, aku tidak bisa menghentikan diriku untuk berpikir agar kau menjadi milikku. Namun, rasa pedulimu jauh lebih besar kepada Fiona. Itulah sebabnya aku mengikhlaskan dia untukmu. Tetapi sekarang, aku ingin kembali memperjuangkan semua itu. Bisakah kau membalasnya?"


Walaupun selama ini Erlan sudah terlalu sering mendengar kata pujian dari beberapa teman dekatnya atau ketika tidak sengaja bertemu di sebuahbpusat pembelanja. Banyak wanita yang tergoda dengan ketampanan serta kekayaan yang ia miliki, tetapi Erlan sungguh tidak menduga bahwa sekretarisnya sendiri yang sekarang menyatakan cinta dengan penuh keberanian.

__ADS_1


Erlan terdiam dalam rasa tidak percaya, bahwa ternyata Alice sudah begitu memendam perasaan untuknya. Berbeda dengan Alice yang kembali melangkah mendekat.


"Meskipun mungkin sekarang aku terlihat bodoh, tapi aku tidak sanggup menahan untuk tidak menyatakan perasaanku ini, Erlan. Entah kau akan terima atau justru mengeluarkan diriku dari pekerjaan. Itu terserah dari keputusanmu sendiri. Bagiku, tugasku untuk memberitahukan dirimu sudah selesai. Lalu apa jawabanmu, Erlan? Apa kau tidak ingin menjawabnya?"


__ADS_2