Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Bawa Pergi


__ADS_3

"Akan lebih baik dengan perceraian daripada aku harus membuatmu terluka, Mas Erlan. Walaupun aku tahu bagimu mungkin aku tidak ada artinya, tapi apapun itu, kita akan lebih tidak bersama daripada aku menjadi penghalang untukmu dengan Alice. Mungkin itu sudah menjadi keputusan yang tepat," ucap Yoona sembari menunduk tanpa berani menatap wajah Erlan.


"Tidak! Sebuah perceraian harus terjadi atas dasar, Yoona. Bukan dengan asal bercerai. Walaupun aku tahu, selama kita menikah kau sering mendapat penderitaan dariku, tapi sekarang aku sudah memulai untuk memahami dirimu. Entah ini ada apa denganmu, tapi tolong katakan dengan sejujurnya tanpa harus meminta perpisahan dulu."


Yoona terdiam sembari ia merasa sulit untuk berkata dengan sejujurnya, namun ia tahu kebohongan hanya akan membawanya menjadi semakin menderita.


"Mas Erlan, keputusan ini sudah tepat. Aku tidak bisa menceritakannya, tapi tolong jangan paksa aku untuk bercerita."


"Aneh sekali. Awalnya kau pergi, dan sekarang tiba-tiba kembali dengan Ernio. Bahkan sampai membakar ponsel Ernio hanya karena takut aku mengetahui sesuatu. Apa mungkin firasat ku selama ini benar kalau kau dan Ernio memang memiliki sebuah hubungan? Hingga saat ini kau meminta kita bercerai dengan tiba-tiba," tanya Erlan yang mulai menaruh rasa curiga.


"Aku melakukan itu demi dirimu, Mas Erlan. Ya, aku tahu bahwa sudah salah menyembunyikan kebenaran tentang aku dan Ernio yang di masa lalu yang pernah menjadi kekasih. Tapi itu dulu, sekarang aku tidak memiliki hubungan dengannya. Bahkan aku hanya tertarik pada suamiku sendiri, tapi aku terlalu takut kalau seandainya kau tahu kejadian buruk yang sudah menimpaku selama aku menghilang."


"Memangnya kejadian apa? Berikan aku penjelasan yang pasti, Yoona." Erlan mulai memaksa sampai membuatnya berusaha untuk tidak membiarkan istrinya pergi, bahkan menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Ernio lah yang sudah menculik ku, dan aku sama sekali tidak tahu kalau dia menjadikan kesempatan pesta agar bisa membawaku pergi hingga akhirnya dia melecehkan ku, Mas Erlan. Bahkan yang lebih buruk, aku telah mengalami keguguran. Maafkan aku, Mas. Aku memang tidak pantas menjadi istrimu, bahkan sejak kita menikah aku sudah menikah kau tidak pernah bahagia karena kecelakaan Kak Fiona adalah salahku." Dengan tangisan air mata Yoona mulai menceritakan segalanya.


Tangan Yoona bergetar karena ia merasa tidak sanggup untuk menceritakannya semua ini, namun tidak ada pilihan lain. Berbeda dengan Erlan yang terduduk dalam penuh kekecewaan sampai membuat genggaman tangannya terlepas dengan tiba-tiba.


"Jadi, dugaan tidak salah kalau Ernio berusaha membuat hidup istri dan calon bayiku menderita. Awas saja kau, Ernio," batin Erlan sembari mengepalkan tangannya.


"Apa keguguran itu juga karena ulahnya?" tanya Erlan yang berusaha memastikan.


Yoona menjawab dengan anggukan kecil, tanpa berani menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Yoona. Aku mengerti jika semua itu tidak ingin kau lakukan, lagi pula semuanya salahku karena tidak bisa menjagamu saat pesta itu tiba. Sekarang sudah, jangan lagi menangis. Nanti kepalamu pusing, lebih baik beristirahat lah. Aku akan ke luar sebentar."


"Mas Erlan mau ke mana? Aku tidak ingin di sini sendirian. Aku tidak mau kau bersikap di luar batas, Mas. Biarkan aku ikut denganmu."


"Yoona, aku harus membuat sebuah keputusan meskipun itu berat. Tapi, perlakuan Ernio padamu itu sudah tidak bisa dibiarkan. Walaupun memang aku tahu, kau tidak ingin melakukannya, tapi Ernio juga harus diberikan pelajaran. Bagaimanapun, kau istriku. Tolong, tetaplah di sini, jangan membantah suamimu," tegas Erlan dengan begitu serius.


"Tapi, Mas Erlan-"


"Yoona, aku mohon ... dengarkan diriku sekarang. Aku ingin menenangkan diri, tapi aku harap kau jangan ke luar dari sini sama sekali. Bisa untukku lakukan itu?"


"Baiklah, Mas. Aku akan tetap di dalam."


"Bagus. Kalau begitu aku akan ke luar sebentar," sahut Erlan sembari tersenyum hangat lalu tidak lupa mengecup bibir Yoona dengan perlahan.


Rasa amarah yang ingin sekali Erlan lepaskan, tidak bisa ia lakukan jika di depan Yoona. Namun ia segera memilih ke dalam kamar yang lain, dan memukul semua barang yang berada di dekatnya.


Seharian Erlan mengutuk dirinya sendiri di dalam kamar, namun berbeda dengan Yoona yang hanya memilih untuk menangis tanpa henti sembari sesekali ia melihat ke arah luar jendela dari balik kamarnya.


"Apa mungkin setelah ini pernikahan kami akan berakhir? Bahkan sebelumnya aku tidak berpikir jika semua masalah ini sampai sebesar itu. Ernio, kau memang ingin melindungi ku, tapi caranya terlalu salah. Sekarang aku tidak tahu harus apa. Tapi, aku sudah pasrah jika memang Erlan ingin menceraikan dirinya setelah ini," batinnya.


***


Alice, Mama Sania, dan Emma terduduk dalam kebingungan di teras rumah. Mereka masih berharap agar pintu rumah terbuka lebar untuk mereka, namun sampai larut malam Erlan sama sekali tidak membuka pintu.

__ADS_1


Kepulangan Ernio kembali setelah dari cafe saat ia ingin merilekskan tubuhnya, namun ia tidak menduga bahwa mereka masih tetap berada di luar.


"Sepertinya Yoona sudah berkata jujur tentang diriku, dan ini semuanya salah Alice. Dia sendiri yang sudah merasuk pikiranku," gumam Ernio sembari menatap dengan tatapan tajam ke arah wanita itu.


Ernio turun dari mobilnya sembari berjalan mendekat ke arah Alice. "Bisa kita bicara sebentar?"


"Mau bicara apa?"


"Penting, tapi kau ikut denganku."


"Baiklah, aku akan ikut denganmu." Alice menurut. "Ma, aku pergi sebentar dengan Ernio. Jika memang nanti Mama dan Emma masih belum diizinkan untuk masuk ke dalam, maka kalian bisa pulang ke rumahku yang lama. Rumahnya sudah siap diperbaiki sejak seminggu yang lalu."


"Tidak apa-apa, Nak. Nanti pasti Erlan akan membuka pintunya," sahut Mama Sania dengan santai.


"Oke, Alice pergi dulu."


"Hati-hati kalian berdua."


"Memangnya ke mana kau ingin mengajakku pergi? Sepertinya serius sekali. Bahkan tadi ada drama tentang ponselmu yang sudah habis terbakar, ya? Sayang sekali kau tidak bisa mengancam Yoona dengan rekaman itu lagi."


"Jangan banyak bacot. Aku tahu kalau aku sudah bersalah, tapi ini juga salahmu sendiri, Alice. Jika seandainya saja kau tidak merasuki pikiranku, maka aku tidak akan mudah mendengarkan kerjasama bodoh seperti ini. Apalagi tadi aku melihat kalau Mas Erlan sepertinya sudah mulai membuka hatinya untuk Yoona. Aku tahu dari caranya menatap Yoona."


"Omong kosong! Jika hanya ini yang ingin kau katakan, maka lebih baik turunkan aku di sini, Ernio." Alice memaksa saat ia merasa semua itu tidak ada gunanya.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat ingin turun? Bukankah lebih baik kita berdua saja pergi menjauh dari semua orang?"


"A-apa yang kau katakan? Ernio, jangan berbuat macam-macam, katakan apa yang sebenarnya ingin kau lakukan padaku? Ernio! Jawab aku!" bentak Alice saat ia merasa begitu frustasi dan ketakutan.


__ADS_2