
"Meskipun aku mengatakan yang sejujurnya, tapi kalau kamu masih tetap tidak percaya denganku. Maka semua itu hanya akan sia-sia, Mas Erlan. Lagi pula sekarang aku ingin berendam, dan jika kau keberatan. Maka aku bisa ke luar dari sini," ucap Yoona yang merasa sulit untuk harus selalu memberi kepercayaan, tetapi diabaikan.
Perlahan Yoona bangkit, namun Erlan masih berusaha untuk tidak membiarkan dirinya pergi.
"Seperti itukan caramu untuk tidak memperjuangkan kepercayaan dariku, Yoona?" tanya Erlan dengan sengaja saat ia tidak bisa menahan ketika tubuh Yoona terlihat begitu jelas.
"Lalu? Apa aku harus bersujud hanya demi mendapatkan kepercayaan darimu, Mas Erlan? Tolong! Aku tidak bisa seperti ini terus-menerus, dan setelah ini biarkan aku bekerja demi menghidupi calon bayiku nanti. Jika memang dirimu tidak menginginkan kehadiranku, maka aku akan memilih pergi setelah bayi ini lahir nanti. Setidaknya aku bisa berpikir agar menjalani hidup kembali meskipun tanpa dirimu, Mas Erlan. Walaupun aku tahu ini sulit, tapi akan lebih sulit pula bagiku untuk harus selalu melihat kau bersama dengan Alice," jelas Yoona dengan kejujurannya yang terasa tidak sanggup lagi ia tahan.
"Tidak. Kenapa sekarang kamu memikirkan hal itu? Awalnya kamu setuju jika aku bahagia, bukan?"
"Ya, aku setuju kalau memang dirimu bahagia, Mas Erlan, dan aku sangat tahu jika kesalahanku hanya karena sudah menjadi istrimu. Seharusnya dulu aku tidak menerima pernikahan ini, dan biarkan kalian semua melihat kepergian dari kakakku. Sekarang cukup, Mas Erlan. Aku terlalu lemah untuk harus mengerti akan dirimu setiap saat, meskipun di sini kau bersama dengan wanita lain. Tapi sekarang, aku akan mencoba menerima wanita lain itu, namun aku tidak bisa berjanji akan bisa menjadi Yoona seperti yang kau inginkan dulu," lanjut Yoona saat kesabarannya sudah diambang pintu.
Begitu tidak Erlan percayai bahwa Yoona bisa memilih untuk pasrah bahkan di saat usia pernikahan belum tiba dua tahun, dan yang lebih parahnya lagi saat itu Erlan mulai merasa sedih. Meskipun ia mencoba untuk tetap terlihat santai, tetapi di dalam hati kecilnya, ia ingin sekali memeluk Yoona dengan erat.
Rasa gengsi yang terlalu tinggi membuat Erlan tidak berani menunjukkan perhatiannya yang lebih, dan justru mendiamkan Yoona sampai wanita itu benar-benar keluar dari kamar mandi.
"Yoona, tunggu!" kejar Erlan saat istrinya sudah menghilang dari pandangannya.
Menarik handuk sembari menutupi tubuhnya, lalu Erlan berusaha untuk menghentikan istrinya. Terlihat Yoona sedang berganti pakaian.
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah pergi," lirih Erlan dengan perlahan.
Menoleh ke belakang sembari bertanya. "Memangnya kenapa, Mas Erlan? Sebentar lagi pesta akan dimulai, dan kita harus ada di bawah."
"Aku tahu, tapi bukan itu yang aku pikirkan. Aku pikir ... jika kau pergi meninggalkan diriku sekarang."
"Kenapa kau memikirkan itu, Mas Erlan? Aku hanya meminta izin agar bekerja di toko roti milik Linda, kau masih ingatkah dengan wanita itu yang datang menolongku ke sini? Jadi, sebelumnya dia memang menawarkan tempat tinggal, dan pekerjaan. Namun setelah aku pikir-pikir, aku akan tetap tinggal di sini, namun bekerja dengannya. Lagi pula, aku tidak harus pergi sekarang, jadi kau tidak perlu takut untuk memintaku pergi seperti biasanya, Mas," bantah Yoona saat ia berusaha menguatkan hatinya sendiri.
Tersadar akan kesalahannya, bahwa Erlan selalu meminta istrinya pergi. Namun saat Yoona telah memilih jalannya sendiri, justru itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Apa semua itu tidak terlalu buru-buru sekali, Yoona? Kau bisa bekerja setelah bayimu lahir nanti, dan Papa Agra pasti akan meminta dirimu bekerja di perusahaan kita, jadi tidak perlu bekerja dengan orang lain. Apalagi gajinya tidak akan seberapa," tolak Erlan yang masih berusaha untuk terlihat bahwa dirinya biasa saja.
"Tidak, Yoona. Kau tidak perlu melakukan itu. Ini masih rumahmu, dan Alice masih keluargamu. Kita akan mencari jalan tengah, tapi setidaknya pikirkan tentang bayimu juga."
"Aku akan memikirkannya, Mas Erlan, dan sekarang aku sedang memikirkan hal itu. Terlebih kau juga meragukan tentang siapa ayah dari calon bayiku, kan? Lantas, kenapa aku harus menaruh harapan palsu padamu, Mas? Sekarang aku tersadar bahwa jalan hidupku ke depan hanya akan tentang bayiku ini." Yoona mengusap kecil perutnya, namun ia berusaha menahan agar tidak meneteskan air mata.
Keputusan yang seharusnya paling Erlan sukai, namun ternyata sekarang hatinya menolak untuk menyetujuinya. Ingin sekali Erlan memeluk dan meminta agar Yoona tetap di dekatnya, tetapi sebuah pesan masuk dari Alice tiba-tiba terlihat.
Erlan terdiam sembari membaca ponselnya, namun semua itu membuat Yoona percaya jika keputusannya yang terbaik.
__ADS_1
Melangkah menjauh dari Erlan, dan melakukan semua kegiatannya yang sebelumnya belum selesai. Tetapi tidak bisa ia sembunyikan, saat air mata mulai perlahan menetes.
"Terlebih sekarang kepulangan Ernio membuatku terlalu takut untuk berada di rumah ini setiap waktu. Bagaimanapun juga, dia bisa melakukan hal bodoh yang mungkin tidak pernah aku pikirkan. Meskipun aku harus berusaha memilih untuk berpisah dengan mencari kesibukan ku sendiri, tapi sejujurnya aku tetap ingin di dekatmu, Mas. Walaupun hanya menjadi bayang-bayang, setidaknya aku bisa melihatmu meskipun kehadiranku tidak dianggap baik sebagai istrimu," batin Yoona yang memendam semua rasa sedihnya.
"Mas Erlan, jika memang tidak ada lagi harapan harus kita bicarakan. Maka aku harus ke luar dulu. Apalagi pesta sudah mau dimulai," ucapnya.
"Tunggu dulu, Yoona. Kita akan keluar bersama." Erlan tiba-tiba menolak sembari menaruh ponselnya begitu saja.
"Baiklah, Mas. Tapi, semua yang aku ucapkan tadi tolong ... jangan beritahukan sama Papa Agra. Karena aku tidak ingin membuatnya sedih, apalagi dia sudah begitu baik menerima diriku sebagai menantu walaupun kebohongan ku telah terungkap," pinta Yoona.
"Aku paham, tapi aku harap kau bisa memikirkan keputusanmu itu sekali lagi. Ya sudah, ayo kita ke luar bersama," ajak Erlan sembari tersenyum manis. Lalu dengan tidak terduga pria itu mengulurkan tangannya.
Berharap agar Yoona menerima gandengan tangan yang Erlan inginkan, namun justru sikap manis Erlan membuat Yoona terheran.
"Sungguh? Kau ingin kita saling bergandengan tangan meskipun Alice ada di dalam pesta ini, Mas."
"Aku tahu, tapi kau tetaplah istriku, Yoona."
Yoona terdiam apalagi saat ia menyadari jika sikap Erlan terlalu cepat berubah ubah tanpa terduga. Membuatnya berpikir dalam batinnya. "Entah mimpi apa aku semalam, sikapmu jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi, aku tidak boleh terlalu senang karena dulu kau sudah pernah seperti ini, dan lagi-lagi ... aku yang harus menanggung malu saat perhatian ini hanya sekedarnya saja, dan hanya sebuah sandiwara yang sedang kau permainkan, Mas."
__ADS_1