Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Gubuk


__ADS_3

“Maafkan aku, Bu. Hari pertama pertemuan kita justru kau mendengarkan kebohongan dariku. Meskipun begitu, aku sudah ikhlas Erlan menjadi milik Fiona, tetapi tidak dengan cara Yoona yang membuat saudaranya tiada demi sebuah kesenangan baginya semata," batin Alice ketika ia berusaha terdiam saat melihat kecemasan dari raut wajah Mama Sania.


Tiba-tiba seorang dokter datang. Membuat Alice segera menghapus air matanya. "Apa Ibu saya sudah boleh pulang, Dok?"


"Tentu saja, Alice. Beliau sudah bisa pulang. Selamat, ya buat Ibu Sania. Saya senang mendengar kesembuhan Anda."


"Terima kasih banyak, Dok. Tapi, bisakah saya tahu satu hal?"


"Tentu saja, katakan apa itu?"


"Apakah saat saya di bawa ke sini ada orang lain lagi yang datang? Maksudnya kedua putri kembar saya?"


"Maafkan saya, Bu. Saya tidak sepenuhnya ingat karena memang saya hanya bertugas untuk merawat mu. Mungkin Ibu bisa bertanya kepada suster. Jika begitu, saya permisi, ya. Sekali lagi pulanglah dengan hati-hati," sahut Dokter dengan sangat ramah. Terlebih sudah seperti keluarga bagi pasien yang dirawat koma yang lama.


"Baik, Dokter."


Membuat Alice paham bahwa ibunya pasti ingin mencari tahu kebenaran tentang putrinya. Ia segera mengusap bahu Mama Sania sembari berkata. "Bu, aku sudah bilang bahwa Fiona telah tiada. Kita tunggu sampai Yoona pulang honeymoon, jika kau masih tidak bisa mempercayai hal ini. Lalu bagaimana, apa Ibu mau pulang denganku?"


Mama Sania menjawab dengan anggukan kecil. "Tentu, Nak. Sepertinya tidak akan ada yang mau menerima diriku lagi. Terlebih Yoona telah memilih cara yang buruk untuk kebahagiaannya sendiri. Tolong, rahasiakan tentang kesembuhan ku padanya."


"Pasti, Bu. Alice akan melakukan semua yang Ibu mau. Kalau begitu ayo kita pulang."


"Ya, Nak."


Perjalanan itu membuat Alice tersenyum dalam satu kemenangan, namun tidak dengan Mama Sania yang sekarang tertidur di dalam mobilnya.


***


Erlan sedang memadamkan api unggun yang semalaman menyala, demi keselamatan hutan ia melakukannya. Namun, tidak dengan Yoona yang baru saja terbangun dari tidurnya. Melihat Erlan sedang bekerja sendirian, Yoona segera mendekat.


“Cepat sekali kau bangun, Mas."

__ADS_1


"Tentu saja, Yoona. Karena kita harus mencari jalan keluar dari hutan ini. Tapi sebelum kita bergerak, sarapan lah terlebih dahulu. Masih ada roti yang tersisa untuk kita buat hari ini saja."


"Baik, Mas Erlan."


Tidak ada bantahan, Yoona melakukan semua yang Erlan katakan. Kembali melanjutkan perjalanan, Erlan mulai merasa lelah karena sejak hari pertama ia terus mengangkat beban berat di pundaknya.


Tak kuasa melihatnya, Yoona segera menghentikan langkahnya. "Bagaimana kalau Mas Erlan membagi beban berat tas itu, Mas?"


"Tidak perlu, aku tidak ingin kau menyusahkan diriku lebih dari ini," sahut Erlan dengan ketusnya sembari kembali melangkah.


Niat baik, tetapi dianggap buruk. Membuat Yoona tidak lagi merasa bersedih hati karena sudah terbiasa. Keduanya kembali berjalan, namun entah mengapa mereka seperti kembali ke tempat yang sama.


Erlan mulai tersadar dengan keanehan ini. "Yoona, sepertinya kita sudah benar-benar tersesat."


"Aku pun berpikir begitu, Mas," sahutnya. "Tapi, entah kenapa aku menyukai perjalanannya dalam kebingungan seperti ini, Mas Erlan. Bagiku, terlalu buruk untuk kembali jika sikapmu akan semakin tak acuh denganku," batinnya.


"Tapi tunggu dulu, matahari mulai terlihat begitu cerah. Sebaiknya kita mengikuti cahaya dari matahari saja. Mungkin akan ada petunjuk yang mengarah kita ke luar dari hutan ini. Jika tidak, aku takut ada bahaya yang lainnya," ucap Erlan sembari dengan tiba-tiba menggenggam tangan Yoona.


Tidak ingin saling terlepas, Erlan sama sekali tidak melepaskan genggaman itu. Mereka masih terus melanjutkan perjalanan, tapi tiba-tiba suara binatang buas mulai membuat nyalinya ciut.


"Dengar, Mas. Sepertinya lord Oren. Bagaimana ini, Mas Erlan?"


"Kita harus lari secepatnya, Yoona."


Berlari sekuat tenang, tanpa tersadar Erlan telah meninggalkan Yoona lebih dulu. Ia tidak menduga bahwa genggaman tangannya terlepas. Tidak tahu cara agar bisa menemukan Yoona, namun Erlan memiliki akal untuk naik ke atas pohon besar.


"Astaga, kenapa kau selalu merepotkan diriku, Yoona?" keluh Erlan sembari perlahan naik.


Terlihat Yoona sedang berdiri dengab sesekali memutarkan tubuhnya untuk bisa menemukan Erlan. Membuat Erlan dari atas segera melemparkan ranting pohon ke arah Yoona.


"Lihatlah ke sini, Yoona!" Erlan berteriak keras, dan membuat Yoona berhasil melihatnya.

__ADS_1


Kembali bertemu, kedua kembali berjalan sampai tidak terduga sepertinya tiba di sebuah kebun jagung warga. Membuat Erlan dan Yoona merasa sedikit kebahagiaan. Setidaknya mereka lepas dari hutan, meskipun belum tahu ada di daerah mana.


"Itu ada gubuk kecil, kita beristirahat dulu di sana. Aku sangat lelah dengan barang berat ini, Yoona."


"Tentu saja, Mas. Ayo!"


"Kau lapar? Bagaimana jika kita membakar jagung itu saja?"


"Boleh saja, Mas."


Terlihat sedikit romantis dan sesekali bercanda. Yoona mulai menemukan sifat Erlan yang sebelumnya tidak ia ketahui, meskipun suaminya masih terlihat kaku. Namun, ia senang dengan perubahan sikap yang perlahan-lahan membuatnya senang.


Perlahan Yoona bergerak mendekat ke arah Erlan, ia berharap agar bisa membuat suaminya jauh lebih bersikap ramah. Dengan sengaja dirinya membuka pakaian, dan hanya meninggalkan sebuah baju dalaman.


Seketika Erlan terdiam ketika melihat Yoona bersikap di luar kebiasaan, bukannya tidak suka. Tetapi, Erlan merasa semakin tertantang. Tangan nakal Erlan mulai bergerak bebas menyeimbangkan semua perasaan yang campur aduk di dalam dirinya.


Belum sempat melepaskan semua pakaian, tiba-tiba Erlan menjadi teringat dengan mendiang tunangannya dulu. Sontak Erlan melangkah sedikit menghindar.


"Ada apa, Mas Erlan? Bukankah ini hari bahagia untuk kita? Meskipun aku tahu kau mungkin akan risih berada di gubuk ini, tapi kita bisa menguji hal yang baru dalam honeymoon kali ini, kan?" tanya Yoona sembari memeluk Erlan dari belakang.


"Tidak, Yoona. Tolong, bersikaplah normal saja karena aku tidak suka dengan wanita yang terlalu cepat menyerahkan dirinya seperti dirimu sekarang," sahut Erlan dengan pelan.


"Apa maksudmu, Mas Erlan? Aku ini istrimu, tentu saja aku berhak membuatmu bahagia karena aku lihat sejak tadi kau kelelahan. Sekarang aku akan membuatmu bahagia." Yoona menjawab dengan tenang. Terlebih ia tidak berpikir bahwa yang Erlan pikirkan hal yang lain.


"Hentikan, Yoona. Kau terlalu menyedihkan untukku. Aku hanya merasa lelah dengan diriku sendiri, jadi tolong jalan lakukan hal bodoh ini lagi," geram Erlan sembari melepaskan kedua tangan Yoona dari perutnya.


"Mas, kita sudah pernah melakukannya. Lalu apalagi?" tanya Yoona yang terlihat sedikit memaksa.


"Aku bilang berhenti, maka hentikan. Yoona, sebaiknya kita berpisah di sini. Carilah jalan keluar untukmu sendirian, dan begitupun denganku. Alangkah lebih baik kita tidak pergi berdua. Dengan begitu, kau mungkin akan mengerti arti sebuah kehilangan yang terlalu berat untukku rasakan saat harus melihatmu di hari terang begini dengan wajah yang mirip dengan tunanganku. Itu sangat menyakitkan, Yoona!"


"A-apa maksudnya, Mas Erlan? Kau tidak benar-benar ingin mengusirku di tempat asing seperti ini, kan? Kau sudah berjanji untuk pulang bersama denganku, kan?" Yoona terlalu cemas dan panik. Ia menaruh harapan yang terlalu berat.

__ADS_1


Perlahan Erlan menggelengkan kepalanya sembari berkata. "Tidak, Yoona. Kau harus mandiri. Dua tahun ke depan masih butuh waktu bagi kita berdua untuk hidup bersama, jadi mari kita berpisah di sini sekarang. Aku rasa kapanpun perpisahan itu terjadi, rasanya akan tetap sama."


"Mas, tapi tidak juga berpisah di tengah kebun orang juga? Apa kau tidak waras, Mas Erlan? Aku seorang wanita, bagaimana jika ada yang menyentuh tubuhku? Kau tidak memikirkan semua itu? Kau sangat egois!"


__ADS_2