Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Episode 117 : Panic attack.


__ADS_3

Episode 117 : Panic attack.


.


.


Tidak satupun orang di dunia bisa menghindari cinta, saat mereka jatuh cinta maka mereka akan jatuh ke sikap konyol yang tidak akan pernah di duga.


Tidak ada juga yang bisa menjelaskan mengapa cinta itu bisa begitu dahsyat nya membuat orang berubah.


"Sayang, aku lapar ..." Edgar sudah berbaring di sisi istrinya, memainkan helaian rambut Aluna lagi sembari membisik.


Dia sudah kelaparan tetapi dia tidak ingin memakan makanan yang lain selain buatan istrinya.


"Padahal tadi kau sudah janji mau memasak makanan untuk ku, kau langsung tidur! kau menyebalkan!" gerutu Edgar dengan wajah manyun dan kesal.


Dia berpangku tangan Sekarang, memiringkan tubuhnya agar dia bisa melihat Aluna lebih dekat dan lebih jelas.


Lambat laun wajah kesal itu berubah menjadi senyuman, dia mengusap pipi istrinya dan mengecup keningnya lagi.


"Yah ... besok kau bisa membayar dua kali lipat untuk ini, karena membuat ku kelaparan!" bisik Edgar menyadari betapa dia suka ketika melihat istrinya tertidur lelap dan tenang seperti sekarang ini.


Ketika Aluna terlihat tenang dan damai, hatinya juga ikut merasakan hal yang sama, tidak ada lagi rasa panik yang ia rasakan hampir tiap malam.


Dia juga mungkin tidak akan membutuhkan obat penenang nya lagi.


.


.


Di saat yang bersamaan,


Ketika Edgar terlihat benar-benar tidak mempedulikan nya sungguh membuat Clara bersedih, dia sangat menyukai Edgar tetapi Edgar sama sekali tidak pernah melihat ke arahnya.


"Kenapa selalu aku yang terluka? aku sudah menunggu mu begitu lama, tetapi kau melukai aku lagi!"


"Tidak bisa kah mencoba menyukai aku walau sekali saja!"


Clara melangkah ke lantai bawah sembari menangis sesenggukan, dia mengusap air matanya dan melangkah dengan kesedihan yang teramat sangat.


"No ... Nona,"


Tiba-tiba saja ada tiga orang pelayan berparas cantik berlari mendekati Clara yang tengah menangis.


"Kalian?" Dengan sesenggukan Clara berhenti melangkah dan segera mengenali ketiga pelayan itu.


Ya, ketiga pelayan ini adalah pelayan yang memberitahu nya tadi jika ada seorang wanita jahat yang menggoda Edgar terus menerus.


Dan saat Clara kembali ke mansion Edgar, ucapan para pelayan itu benar adanya.


"Maafkan kami mengganggu anda, tetapi kami benar-benar tidak tega melihat Nona bersedih seperti ini, kami tidak terima wanita jahat itu berada di sisi Tuan Edgar,"

__ADS_1


"Wanita itu hanya memanfaatkan kekayaan Tuan, karena dia miskin dan tidak memiliki apapun selain menjual tubuh nya ..."


Para pelayan itu membuat Clara semakin cemas dan marah, dia tidak ingin kejadian yang menyakiti Edgar saat lalu terulang lagi.


Mau bagaimana pun, Clara akan melakukan segala cara untuk memisahkan Edgar dan wanita jahat yang bernama Aluna itu.


"Bagaimana caranya memisahkan Kak Edgar dan wanita itu? Kak Edgar itu sangat overprotektif terhadap orang yang dia sukai." Clara pusing sekali, karena kemarahannya barusan dia sama sekali tidak bisa berpikir sekarang ini.


"Tenang saja Nona, kami memiliki rencana yang bagus, rencana ini pasti bisa memisahkan Tuan Edgar dan wanita jahat itu, hanya saja Nona harus membantu kami ..."


"Kami sangat menyayangi Tuan Edgar, kami sangat tidak rela jika wanita jahat itu nanti akan menghancurkan Tuan Edgar ..."


Ketiga pelayan itu bersandiwara, mereka akan menjadikan Clara sebagai tameng mereka untuk menghancurkan Aluna dan membuat Aluna pergi selamanya dari sisi Edgar.


"Aku mengerti, katakan saja apa yang harus aku lakukan, akan aku lakukan selagi itu tidak berbau kriminal dan berbahaya ..." balas Clara mengusap air matanya yang sejak tadi masih saja mengalir.


"Tentu saja tidak Nona, Nona hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk memisahkan Tuan Edgar dan Nona Aluna, untuk sisanya serahkan saja pada kami ..."


Seru ketiga pelayan itu tersenyum begitu puas.


Mata Clara menjadi tajam saat itu, dan dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh ketiga pelayan ini kepada Aluna.


"Apa yang akan kalian lakukan rupanya?"


Clara tentu saja tidak akan menyetujui rencana yang berbau kriminal dan kejatahan.


"Tenang saja Nona Clara, kami tidak akan melakukan hal buruk pada wanita jahat itu, kami hanya akan membuat nya sadar posisinya, jika hanya Nona Clara yang panas ada di sisi Tuan,"


Ketiga pelayan yang sudah kehilangan akal sehat mempengaruhi Clara, padahal tentu saja ada niatan buruk untuk Aluna, agar Aluna tidak akan pernah kembali lagi.


"Baiklah, akan aku lakukan ... nanti akan aku kabari jika aku sudah berhasil memisahkan Kak Edgar dan wanita jahat itu!" seru Clara segera pergi.


Dia sudah sesak dan ingin pergi menenangkan dirinya keluar, jika dia tetap berada di mansion ini mungkin kepalanya akan sangat pusing dan hatinya akan semakin sakit.


.


.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, pagi sudah menyingsing dan matahari membuat pandangan Edgar sedikit silau.


Salah satu tangannya mengusap matanya dan salah satunya lagi mengusap ke sisi kasur hendak mencari keberadaan istrinya.


Tanpa membuka mata, tangannya terus mencari keberadaan istrinya di sisinya, akan tetapi Edgar baru sadar jika tidak ada Aluna disana.


"Hah!"


Dengan nafas yang sangat berat dan tangan yang tiba-tiba saja bergetar hebat, dia segera duduk dan melihat di sisinya tidak ada siapapun.


Edgar mengusap dengan kasar rambut nya dan entah mengapa wajah nya menjadi sangat pucat.


Perasaan panik saat tidak mendapati istrinya di sisinya membuat jantung nya berpacu terlalu kencang dan tangannya bergetar hebat.

__ADS_1


"Tidak mungkin semuanya hanya mimpi? tidak mungkin!" Rasa panik dan ketakutan yang berlebihan dirasakan olehnya pagi itu.


Dia takut jika perasaan nya yang tengah bertumbuh dan pernikahan nya dengan Aluna hanyalah mimpi nya belaka, hanyalah sebuah imajinasi untuk melarikan diri dari rasa kesepian nya.


"Obat ... obat, dimana obat ku!"


Dengan wajah yang sangat pucat dan tangan bergetar hebat, dia mencoba meraih laci di meja yang ada dekat dengan ranjang.


"Ctak!"


Saat itu, Aluna yang sudah selesai memasak kembali ke kamar untuk memeriksa apakah suaminya sudah bangun.


"Ed, kau sudah bangun ... ayo bersihkan dirimu dan makan, aku sudah memasak makanan kesukaan mu ..." Aluna berbicara dengan perasaan yang tenang.


Dia melangkah mendekat ke arah suaminya yang sedang mengalami panic attack karena tidak menemukan istrinya di sisinya.


Saat mendengar suara itu, Edgar terdiam, nafasnya yang tadi sangat berat mencoba dia tenangkan.


Tanpa sadar ada air mata yang menetes ke selimut putih yang menutupi pahanya.


"Aku kira semua ini hanya mimpi, ternyata semuanya nyata ..." Dengan perasaan lega, Edgar sangat bersyukur ternyata dia hanya mengalami panic attack saja, tenyata semua yang dia lalui bersama Aluna tidak hanya ada dalam mimpi atau imajinasi nya saja.


Aluna yang melihat gerak gerik aneh dari suaminya semakin mendekat, lalu saat jaraknya sudah cukup dekat, Aluna akhirnya bisa melihat wajah pucat dan air mata suaminya.


Aluna langsung syok dan berlari ke sisi Edgar, dia langsung meraih tangan suaminya yang masih dibalut perban dan menggenggam nya erat.


"Ada apa? apakah kau bermimpi buruk? atau kah kau masih marah karena aku ketiduran tadi malam sampai membuat mu kelaparan?"


"Maafkan aku ..."


Aluna panik, dia belum pernah melihat Edgar dengan ekspresi takut dan pucat seperti sekarang ini.


"Srak!"


Edgar sama sekali tidak menjawab pertanyaan Aluna dan langsung memeluk nya dengan sangat erat.


"Aku benar-benar serius kali ini, jika kau berani pergi dari sisiku saat aku belum membuka mata ku, aku akan mematahkan kaki mu sehingga kau hanya bisa pergi jika aku menggendong mu, kau membuat aku takut setengah mati!"


"Aku takut jika semua yang telah aku lalui bersama mu hanyalah sebuah mimpi!"


Edgar mendekap istrinya erat sekali, getaran di tangannya masih bisa terasa.


Aluna tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi ia tahu jika rasa takut ini pasti bagian dari penyakit dan rasa sepi Edgar selama ini.


Aluna terdiam saat itu dan segera membalas pelukan suaminya dengan cara menepuk-nepuk pundaknya.


"Tenanglah, aku selalu ada di sisimu ..." bisik Aluna mengusap dan menepuk pundak suaminya dengan lembut.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2